Endometriosis, si Penyebab Nyeri Hebat Saat Menstruasi

Rabu, 12 Juni 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Endometriosis tidak memiliki penyembuhan definitif. Gejalanya bisa dikelola lewat perawatan medis dan obat penghilang rasa sakit, terapi hormon dan bedah.

Endometriosis, si Penyebab Nyeri Hebat Saat Menstruasi

Nyeri haid adalah nyeri atau kram di area perut yang dialami pada saat menjelang atau selama haid. Sebagian besar nyeri haid disebabkan oleh otot-otot rahim yang berkontraksi. Nyeri haid dikatakan tidak normal apabila bertambah berat dan menyebabkan seorang wanita tidak dapat beraktivitas normal, atau nyeri tidak membaik bahkan setelah mengonsumsi obat nyeri.


Nyeri haid yang tidak normal ini sering disebabkan oleh endometriosis. Pada endometriosis, jaringan yang membentuk lapisan dalam rahim juga tumbuh di luar rahim. Jaringan tersebut bisa tumbuh pada organ lain di dalam panggul atau perut, yang kemudian dapat menyebabkan perdarahan, infeksi, dan nyeri panggul.


Nyeri akibat endometriosis dapat berupa rasa sakit, kram, dan perasaan terbakar, yang dapat dirasakan cukup ringan, atau bahkan sangat parah hingga menurunkan kualitas hidup


Banyak wanita yang menganggap remeh nyeri haid ini. Hal itulah yang kemudian menyebabkan penanganan terhadap endometriosis menjadi lebih rumit. Padahal, jika telah terdeteksi dan ditangani sejak awal, endometriosis yang masih ringan dan belum menyebar ke organ lain, tentunya dapat ditangani lebih mudah.


Gejala dan Tahapan Endometriosis

Selain rasa nyeri hebat ketika menstruasi, wanita dengan endometriosis kerap merasakan rasa nyeri saat berhubungan seksual. Meskipun tidak umum, beberapa wanita mungkin juga mengalami nyeri saat buang air kecil, buang air besar, diare, mual, muntah, dan perut kembung.


Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi biasanya akan menggunakan beberapa modalitas pemeriksaan untuk memastikan diagnosis endometriosis, antara lain:



Setelah pemeriksaan dilakukan, barulah dokter dapat menentukan tahapan endometriosis. Identifikasi tahapan endometriosis ini sangat penting dan diperlukan untuk menentukan penanganan yang tepat.


Baca juga: Nyeri Haid: Kenali yang Normal dan Tidak Normal


Berikut ini beberapa tahapan endometriosis dilihat dari tingkat keparahan kondisinya:


Tahap 1: Endometriosis Minimal

Muncul jaringan endometrium yang kecil dan dangkal di indung telur. Peradangan juga dapat terjadi di sekitar rongga panggul. Adanya jaringan ini menyebabkan rasa sakit dan disfungsi organ


Tahap 2: Endometriosis Ringan

Ada jaringan endometrium yang kecil dan dangkal di indung telur dan dinding panggul. Kemungkinan dapat menyebabkan iritasi selama ovulasi dan atau nyeri panggul


Tahap 3: Endometriosis Menengah

Muncul beberapa jaringan endometrium yang cukup dalam di indung telur. Pada tahap ini disebut sebagai kista cokelat, karena setelah beberapa waktu, darah di dalam kista menjadi berwarna merah dan cokelat tua.


Apabila kista pecah, dapat menyebabkan sakit perut dan peradangan ekstrem di sekitar panggul


Tahap 4: Endometriosis Berat

Pada tahap ini, jaringan endometrium, kista, dan perlekatan terjadi cukup parah. Endometriosis dapat tumbuh sangat besar dan ditemukan di indung telur, dinding panggul, saluran indung telur, dan usus.


Baca juga: Menstruasi Tak Teratur, Hati-hati PCOS



Kesuburan dan Endometriosis

Tak dapat dipungkiri, endometriosis dapat menjadi penyebab gangguan kesuburan. Kelainan anatomi dan perlekatan yang disebabkan oleh endometriosis (terutama pada kasus sedang hingga berat) mengurangi peluang terjadinya kehamilan alami.


Hal ini terjadi akibat adanya lebih banyak perlekatan pada ovarium yang dapat mengganggu pelepasan sel telur, sehingga sel telur tidak dapat mencapai saluran telur (tuba).


Namun, bagi wanita dengan endometriosis minimal, peluang terjadinya kehamilan secara alami masih cukup tinggi. Apalagi, jika didukung kondisi sperma suami yang sehat dan optimal.


Baca juga: Seputar Gangguan Kesuburan, Apa Saja yang Perlu Diketahui?


Apakah Endometriosis Bisa Sembuh?

Endometriosis tidak memiliki penyembuhan definitif. Meskipun tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya, gejalanya bisa dikelola melalui perawatan medis seperti obat penghilang rasa sakit, terapi hormon, dan pembedahan.


Tujuan perawatan adalah untuk mengendalikan gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan membantu wanita mengelola kondisi ini secara efektif. Meskipun endometriosis mungkin tidak bisa sembuh sepenuhnya, dengan perawatan yang tepat, banyak wanita dapat mengalami perbaikan yang signifikan dalam gejala mereka.


Penanganan Endometriosis

Endometriosis memang tidak dapat disembuhkan secara menyeluruh dan hanya dapat ditangani sesuai dengan tahapannya. Penanganan endometriosis dapat dilakukan dengan konsumsi obat pereda nyeri, obat hormonal, penyesuaian gaya hidup, ataupun tindakan pembedahan pada kasus yang sudah berat. 


Penyesuaian gaya hidup dapat dimulai dari pemilihan asupan makanan yang tepat. Ada beberapa makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita endometriosis, seperti: makanan olahan, produk olahan dari susu sapi (dairy product), serta makanan yang mengandung gluten dan kedelai.


Penderita endometriosis juga disarankan menghentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol, serta mengurangi asupan kafein. Sebaiknya, perbanyak konsumsi makanan berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, makanan yang kaya omega 3 seperti ikan kembung dan ikan salmon, serta makanan yang mengandung magnesium tinggi, seperti alpukat, pisang, dan sayuran hijau.


Baca juga: Jangan Anggap Sepele Gangguan Menstruasi


Penanganan endometriosis dengan tindakan bedah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni:


  • Bedah ablasi, yakni ‘membakar’ permukaan endometriosis menggunakan laser panas. Namun, karena ‘pembakaran’ ini hanya dilakukan di permukaan dan meninggalkan akarnya, maka jaringan endometrium sangat mungkin dapat muncul kembali. Selain itu, tindakan ini juga memiliki risiko lebih tinggi untuk merusak jaringan yang dibakar. Meski demikian, bedah ablasi membutuhkan waktu pemulihan yang cukup singkat, dan banyak dokter yang dapat melakukan tindakan ini.


  • Bedah eksisi, yakni ‘menyekop’ jaringan endometrium sampai ke akarnya. Tindakan bedah ini dilakukan dengan alat bedah seperti laser dengan metode laparoskopi. Jaringan endometrium yang diangkat dapat diperiksa patologisnya di laboratorium. Namun demikian, tindakan ini membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama dan tidak semua dokter dapat melakukan tindakan ini.



Dari kedua teknik tindakan bedah tersebut, teknik eksisi biasanya lebih dianjurkan untuk dilakukan karena memiliki angka kekambuhan yang lebih rendah. Walaupun demikian, endometriosis masih dapat kambuh kembali meski telah dilakukan pembedahan.


Maka itu, wanita dengan endometriosis harus rutin berkonsultasi ke dokter. Terapi pengobatan hormonal jangka panjang dapat mengurangi kekambuhan setelah tindakan pembedahan.


Di sisi lain, tindakan pembedahan yang dilakukan berkali-kali karena kekambuhan endometriosis juga sebaiknya dihindari, karena setiap kali operasi endometriosis (terutama untuk kasus kista) menimbulkan penurunan cadangan ovarium.


Karenanya, keputusan tindakan operasi pada endometriosis harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan waktu yang tepat. Penanganan endometriosis membutuhkan perencanaan jangka panjang yang mempertimbangkan fungsi reproduksi (rencana hamil).


Endometriosis memang tidak dapat disembuhkan karena selalu ada risiko terjadinya kekambuhan. Namun, deteksi dan diagnosis secara dini sangatlah penting untuk memudahkan penanganan, serta mencegah endometriosis berkembang ke organ lain di dalam tubuh.