Ketuban Pecah Dini, Persoalan Dilematis Ibu Hamil

Selasa, 11 Juni 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Ketuban pecah dini merupakan pecahnya selaput ketuban yang terjadi sebelum awitan (onset) persalinan. Simak penyebab, gejala dan cara penanganannya di sini.

Ketuban Pecah Dini, Persoalan Dilematis Ibu Hamil

Ketuban pecah dini merupakan salah satu kasus obstetri yang termasuk dilematis, karena kondisi ini kerap kali menimbulkan diskusi panjang antara dokter kandungan, dokter anak, dan tentunya keluarga pasien. Keputusan akhir yang diambil ini akan berpengaruh pada kondisi bayi saat lahir nantinya. 


Ketuban memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuh kembang janin, termasuk menjaga suhu tetap stabil, media transportasi elektrolit, dan memungkinkan janin tumbuh simetris. Ketuban juga berfungsi untuk mencegah tali pusat tertekan tubuh janin maupun dinding rahim, sehingga aliran darah tetap lancar. Selain itu, ketuban berfungsi mencegah bayi mengalami cedera akibat guncangan dari luar serta meratakan kontraksi saat persalinan.


Memang normalnya ketuban akan pecah saat terjadi proses persalinan. Namun, jika ketuban sudah pecah terlebih dahulu tanpa diikuti atau sedang dalam proses persalinan, kondisi ini merupakan suatu kegawatdaruratan obstetrik yang dikenal dengan istilah ketuban pecah dini.


Mengenal Ketuban Pecah Dini

Dikatakan kantung ketuban pecah dini, premature rupture of membranes (PROM), ketika selaput ketuban pecah sebelum proses persalinan terjadi, atau sebelum usia kehamilan menginjak minggu ke-37. 


Selaput ketuban terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan amnion yang berada di dalam dan lapisan khorion yang berada di luar. Walaupun selaput ketuban cukup tipis, tetapi lapisan ini kuat karena mengandung kolagen yang bersifat elastis. Ketuban dikatakan pecah bila amnion, khorion, atau keduanya pecah. 


Penyebab Ketuban Pecah Dini

Meski tidak semua penyebabnya diketahui, beberapa kondisi dan faktor yang menjadi penyebab ketuban pecah dini adalah sebagai berikut ini:


  1. Terjadinya tekanan dalam rahim secara berlebihan, termasuk akibat kehamilan kembar dan air ketuban yang terlalu banyak
  2. Peregangan berlebih dari ketuban karena air ketuban yang terlalu banyak 
  3. Kurangnya nutrisi pada ibu hamil
  4. Infeksi pada organ reproduksi 
  5. Riwayat ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya
  6. Jarak antar persalinan terlalu dekat atau terlalu jauh
  7. Ibu hamil merupakan perokok aktif atau menyalahgunakan narkoba selama hamil


Baca juga: Kaki Bengkak Saat Hamil Tua, Penyebab dan Cara Menguranginya



Gejala Ketuban Pecah Dini

Keluarnya cairan dari vagina, baik yang perlahan-lahan maupun yang menyembur, perlu ibu hamil waspadai. Banyak ibu hamil mengira bahwa cairan yang keluar itu adalah urin, padahal bisa saja kondisi ini merupakan gejala ketuban pecah dini.


Sebagai langkah awal, ada baiknya ibu hamil mengambil kain untuk menyerap cairan tersebut guna memeriksakan apakah cairan tersebut urin atau ketuban. Selanjutnya, bedakan cairan yang keluar dengan mengenali beberapa ciri berikut ini:


  • Cairan ketuban keluar dari vagina. Cairan ketuban tidak dapat ditahan seperti layaknya urin.
  • Ketuban memiliki aroma yang khas, seperti aroma anyir dan tentunya tidak pesing seperti layaknya bau urin.


Segera ke rumah sakit terdekat bila ibu hamil menemukan tanda-tanda yang keluar merupakan ketuban, tetapi belum memasuki waktu persalinan.


Baca juga: Keguguran Akibat Toksoplasma Mitos atau Fakta?


Penanganan Ketuban Pecah Dini Berdasarkan Usia Kehamilan

Penanganan ketuban pecah dini akan disesuaikan dengan usia kandungan. Terkadang, ketuban pecah dini terjadi pada usia kandungan yang masih sangat muda, sehingga lebih berbahaya untuk bayi.


Secara umum, penanganan ketuban pecah dini dibagi menjadi 3, sesuai dengan usia kehamilannya. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari penanganan yang dimaksud:


1. Usia Kandungan Kurang dari 34 Minggu

Mengingat usia kehamilan masih sangat muda, dokter spesialis kebidanan dan kandungan akan memeriksa apakah janin mampu bertahan hidup. Kemudian, dokter akan berusaha mempertahankan kehamilan untuk memberi kesempatan paru bayi berkembang sampai sempurna. Penanganan untuk ketuban pecah dini pada usia kehamilan ini dikenal dengan istilah ekspektan.


Namun, keputusan ini hanya bisa dilakukan bila volume ketuban normal, tidak terjadi infeksi, dan tidak terjadi fetal distress atau gawat janin. Sembari menunggu perkembangan janin sempurna, ibu akan disarankan untuk bedrest total dan diresepkan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi disamping obat pematangan paru janin. 


Bila semua persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka persalinan prematur terpaksa harus dilakukan. Tindakan ini disertai risiko paru janin belum matang, berat badan yang kurang, dan belum cukup umur, sehingga harus dirawat di NICU.


2. Usia Kandungan 34-36 Minggu

Penanganan ketuban pecah dini pada usia 34-36 minggu pada umumnya sama dengan penanganan saat usia kandungan kurang dari 34 minggu. Hanya saja, pilihan penanganan pada usia kehamilan ini akan diserahkan kepada pasien, setelah dokter akan memeriksa kondisi bayi dan menjelaskan risiko penanganan yang akan dipilih.


3. Usia Kandungan Lebih dari 36 Minggu

Bila usia kandungan sudah lebih dari 36 minggu, dokter akan melakukan tindakan aktif atau menyarankan untuk memulai proses persalinan. Bahkan, dokter dapat menyarankan induksi apabila belum ada tanda-tanda melahirkan.


Pada usia kehamilan ini berat bayi sudah cukup dan paru-parunya pun sudah cukup matang. Namun, tindakan aktif juga akan dipertimbangkan ulang bagi ibu hamil yang mengidap diabetes, mengingat kemungkinan perkembangan paru janin lebih lama.


Baca juga: NIPT: Skrining Risiko Kelainan Bawaan Genetik Janin dalam Kandungan


Bahaya Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini termasuk kasus kegawatdaruratan obstetri, karena kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi ketika tidak ditangani dengan segera. Beberapa komplikasi yang merupakan bahaya ketuban pecah dini, antara lain:


  • Amniotic band syndrome maupun sindrom deformitas janin karena bagian tubuh janin terjerat selaput ketuban
  • Perkembangan paru janin tidak sempurna (hipoplasia paru)
  • Pertumbuhan janin terhambat 
  • Infeksi dalam kandungan (intrauterine infection)
  • Tali pusat tertekan
  • Hipoksia dan asfiksia
  • Plasenta lepas dari janin (solusio plasenta)
  • Perdarahan pada otak janin
  • Kematian janin


Baca juga: Pemeriksaan Dini Demi Kesejahteraan Bayi



Pencegahan Ketuban Pecah Dini 

Meski tidak selalu bisa dicegah, menjaga kesehatan selama hamil bisa menurunkan kemungkinan terjadinya ketuban pecah dini. Beberapa tindakan pencegahan ketuban pecah dini tersebut meliputi:


  • Waspadai batuk, pilek, ataupun diare pada saat kehamilan, karena dapat mencetuskan kontraksi, yang pada akhirnya bisa menyebabkan pecah ketuban.
  • Konsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk mengonsumsi vitamin atau suplemen kehamilan yang diresepkan oleh dokter
  • Jangan merokok dan sebisa mungkin hindari paparan asap rokok
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol
  • Waspadai keputihan pada ibu hamil, karena bisa menjadi tanda infeksi di daerah genital


Untuk membantu mencegah komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan, ibu hamil harus rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan.


Jika Anda curiga ataupun merasakan air ketuban pecah dini, segera pergi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk penanganan dari dokter. Makin dini masalah ini ditangani, semakin tinggi pula peluang keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi.