Perlukah Induksi Persalinan?

Rabu, 15 Mei 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Proses induksi persalinan pada umumnya cukup aman asalkan memperhatikan indikasi, kontra indikasi dan syarat serta dilakukan pengawasan yang ketat.

Perlukah Induksi Persalinan?

Tidak semua kehamilan dapat berlangsung dengan proses persalinan normal sesuai dengan umur kehamilannya, yaitu antara 37 minggu sampai 41 minggu. Kadang-kadang persalinan harus dilakukan lebih cepat saat umur kehamilannya belum cukup matang (kurang dari 37 minggu) atau untuk kehamilan yang sudah melewati waktunya (lebih dari 41 minggu). Cara menimbulkan proses persalinan ini dinamakan induksi persalinan.


Induksi persalinan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu mekanik dan kimiawi. Pada dasarnya kedua cara tersebut adalah merangsang pengeluaran hormon prostalglandin yang berperan dalam merangsang otot-otot rahim untuk berkontraksi secara ritmis.


Induksi secara “mekanik” dapat dilakukan dengan membuka mulut rahim (serviks) dan melepaskan kulit ketuban dari dinding mulut rahim (stripping), memasang balon kateter, atau memecahkan selaput ketuban.


Sedangkan induksi secara “kimiawi” yaitu menggunakan obat-obatan yang diminum, lewat vagina atau melalui infus.


Ada beberapa indikasi kehamilan yang perlu dilakukan induksi persalinan:


  1. Ketuban pecah dini – yaitu pecahnya ketuban sebelum memasuki waktu persalinan
  2. Hipertensi dalam kehamilan (pre-eklamsia – eklamsia)
  3. Kehamilan lewat waktu
  4. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) atau IUGR (intra uterine growth retardation)
  5. Hipertensi kronis
  6. Inkompatabilitas rhesus (darah)
  7. Amnionitis atau korio-amnionitis
  8. Sousio plasenta
  9. Diabetes mellitus


Baca juga: Melahirkan Normal Setelah Sesar? Bisa Kok!


Sedangkan untuk kontra indikasi dapat dikelompokkan yaitu:


Kontra Indikasi dari Bayi

  1. Malpresentasi (posisi bayi tidak sesuai dengan alur persalinan normal)
  2. Bekas operasi caesar atau pengambilan tumor jinak rahim (mioma) – ini tidak mutlak
  3. Plasenta Previa Totalis (PPT)
  4. Makrosomia (bayi besar)
  5. Hydrosephalus (kepala membesar)


Kontra Indikasi dari Ibu

  1. Ibu dengan tinggi badan < 150 cm
  2. Panggul sempit
  3. Herpes genitalia aktif
  4. Kanker serviks


Baca juga: Mioma Uteri dan Penanganannya


Beberapa yang harus diperhatikan pada pelaksaan induksi persalinan:


1. Pasien yang di induksi persalinan harus berada di rumah sakit oleh karena diperlukan pengawasan yang ketat selama tindakan.


2. Memerlukan pemeriksaan penunjang, meliputi:


  • Darah dan urin lengkap – berguna untuk persiapan tindakan bedah caesar seandainya induksinya gagal.
  • Kesejahteraan janin, meliputi Non-Stress Test (NST), Contraction Stress Test (CST), maupun Profil Biofisik berguna untuk mengetahui kelayakan induksi persalinan


3. Skor “BISHOP” - berguna untuk mengetahui tingkat kesiapan mulut rahim (serviks).


4. Selama induksi persalinan pasien harus selalu diawasi secara periodik dengan cardiotocography (CTG) untuk mengevaluasi kekuatan kontraksi rahim dan variabilitas denyut jantung janin.


Baca juga: Intrauterine Insemination: Hasil Maksimal, Risiko Minimal


Induksi persalinan pada umumnya cukup aman asalkan memperhatikan indikasi, kontra indikasi dan syarat serta dilakukan pengawasan yang ketat. Biasanya induksi persalinan cukup ditakuti para ibu yang akan mengakhiri kehamilan dengan mengupayakan persalinan normal (per vagina), namun dengan penjelasan yang lengkap dan jelas serta memperhatikan kesiapan fisik dan mental, memperhatikan indikasi dan kontra indikasinya, maka induksi persalinan akan berjalan lancar.


Berapa kali dan berapa lama induksi persalinan dapat dilakukan? Pada umumnya induksi dimulai pada pagi hari dan akan dievaluasi secara rutin untuk melihat kemajuan persalinannya. Apabila dalam 10 sampai 12 jam induksi bayi belum lahir, maka induksi persalinan dapat diistirahatkan untuk diulang esok hari.


Pengulangan induksi persalinan paling banyak sampai tiga kali atau tiga hari berurutan. Apabila setelah tiga kali dilakukan induksi persalinan dan bayi belum berhasil lahir, maka akan dilakukan bedah caesar. Angka kejadian gagalnya induksi persalinan yang diakhiri dengan bedah caesar tidak lebih dari 10 persen.