Close
Close Language Selection
Health Articles

Keguguran Akibat Toksoplasma Mitos atau Fakta?

Kamis, 06 Apr 2017
Keguguran Akibat Toksoplasma Mitos atau Fakta?

Toksoplasma seringkali dikaitkan dengan peristiwa keguguran pada ibu hamil. Pernyataan tersebut tak sepenuhnya benar. Penyebab keguguran terbanyak yaitu sekitar 60 persen disebabkan oleh kelainan kromosom. Penyebab lainnya adalah karena faktor hormonal, gangguan nutrisi, penggunaan obat-obatan terlarang, merokok, faktor lingkungan, kelainan rahim dan mulut rahim, imunologi, operasi saat hamil, dan infeksi karena beberapa penyebab, salah satunya toksoplasma. Lalu, apa sebenarnya toksoplasma? Benarkah toksoplasma merupakan penyebab utama dan dominan keguguran?

Keguguran atau miscarriage merupakan kematian janin pada umur kurang dari dua puluh minggu. Kebanyakan kasus keguguran terjadi pada tiga bulan awal masa kehamilan. Masa-masa awal kehamilan inilah yang membutuhkan perhatian khusus untuk mencegah terjadinya keguguran. Seperti yang sudah disebutkan, faktor dominan terjadinya keguguran adalah masalah kelainan kromosom pada janin, yang mencakup kekurangan dan kelebihan kromosom yang dapat mengganggu tumbuh kembang semestinya sebuah janin. Selain keabnormalan kromosom, toksoplasma seringkali disebut sebagai salah satu faktor utama penyebab kehamilan.

Apa itu toksoplasma?

Toksoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, parasit protozoa yang bisa berkembang intraseluler. Jadi, toksoplasma bukan sejenis virus.

Toksoplasma dapat berkembang secara aseksual dalam jaringan tubuh beberapa mamalia dan burung, serta berkembang secara seksual dalam sel pencernaan kucing sebagai pejamu utama. Kucing biasanya terinfeksi dengan cara menelan kotoran burung atau tikus. Kucing yang terinfeksi tidak mengalami gejala, tapi kista toksoplasma akan dijumpai di dalam kotoran kucing 1-2 minggu setelahnya. Kista dalam tinja kucing ini bisa bertahan selama berbulan-bulan di tanah hangat di kebun, pasir, dan sampah. Dari sinilah manusia bisa terkontaminasi toksoplasma.

Selain kontak langsung dengan parasit, risiko infeksi toksoplasma juga dapat bersumber dari mengonsumsi daging yang tidak atau kurang matang. Kejadian tertinggi terjadi di negara-negara yang paling banyak mengonsumsi daging mentah, seperti di Perancis (54 persen), dan di negara tropis seperti Amerika Latin dan di sub-sahara Afrika, karena banyak didapatkan kucing dan suhu udaranya sangat sesuai bagi bertahannya kista toksoplasma di tanah.

Apa gejalanya?

Gejala awal pada penderita toksoplasmosis (infeksi karena toksoplasma) kebanyakan tidak dapat terlihat. Demikian juga pada ibu hamil di mana lebih dari 90 persen tidak bergejala. Gejalanya hampir menyerupai virus influenza seperti demam tak terlalu tinggi, lemas, sakit tenggorokan, gangguan pada kulit, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Namun apabila sudah agak berat, sakit kepala yang hebat akan menyerang (radang otak), radang jantung, radang hati, dan radang paru. Tidak spesifiknya gejala infeksi ini menyebabkan seringkali pasien tidak menyadari bahwa ia sudah terinfeksi. Kasus terburuk toksoplasma adalah stroke atau kelumpuhan akibat tekanan pada saraf otak, serta kebutaan dan tuli.

Toksoplasmosis pada kehamilan

Angka kejadian toksoplasmosis pada kehamilan sangat kecil, di Inggris sekitar 5 kasus per 1000 kehamilan. Infeksi toksoplasma ini bisa diketahui dengan pemeriksaan serologi darah ibu, yaitu pemeriksaan antibodi terhadap toksoplasma (IgM dan IgG). Untuk mengetahui janin terinfeksi atau tidak memang tidak mudah, yaitu dilakukan pemeriksaan air ketuban dengan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR).

Toksoplasma sebagai salah satu faktor utama keguguran merupakan suatu hal yang salah kaprah karena kasus keguguran didominasi oleh faktor genetik dan kromosom dengan presentasi mencapai 60 persen.

Infeksi parasit toksoplasma pada janin trimester pertama dianggap cukup rendah dengan presentase hanya 6-15 persen saja. Tapi efek yang dialami janin bisa cukup besar mengingat saat itu sedang pesatnya fase pembentukan organ sehingga toksoplasma tidak dapat dianggap enteng. Janin yang terinfeksi toksoplasma memiliki risiko cacat yang cukup tinggi, seperti kebutaan, pembentukan fisik yang tidak sempurna/terhambat, hydrocephalus (kepala membesar karena terkumpulnya cairan otak), microcephaly, serta pengapuran otak. Efek jangka panjangnya adalah kejang dan gangguan neurologi seperti gangguan psikomotor dan mental.

Sedangkan pada trimester terakhir angka transmisi ke janin bisa sangat tinggi, mencapai 60-80 persen, tapi efeknya sangat kecil. Secara umum, manifestasi klinis kelainan pada bayi saat lahir hanya terjadi kurang dari 25 persen dari seluruh kejadian toksoplasmosis pada kehamilan.

Penularan toksoplasma

Penularannya didapatkan dengan tiga cara:

  1. Mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang
  2. Kontak langsung dengan kista pada feses kucing
  3. Transmisi vertikal

Pada kehamilan, infeksi paling sering didapatkan dari konsumsi makanan mentah atau tidak terolah dengan baik, minum air yang terkontaminasi, dan terpapar langsung dengan tanah yang mengandung kista toksoplasma.

Cara mengobatinya

Antibiotik golongan Spiramycin diberikan untuk menekan kejadian risiko infeksi kongenital tetapi tidak untuk mengobati infeksi yang sudah terjadi pada janin. Untuk mengobati infeksi pada janin digunakan pyrimethamine, sulfonamide, dan folinic acid.

Infeksi toksoplasma bisa dicegah

Di Inggris dan Amerika dengan rendahnya angka kejadian toksoplasmosis, tidak dianjurkan pemeriksaan rutin skrining toksoplasma pada kehamilan. Tetapi, di beberapa negara Eropa yang lain rutin dilakukan pemeriksaan ini. Yang penting sebenarnya adalah menjaga kebersihan diri dan makanan yang dikonsumsi.

Beberapa tips untuk mencegah terjadinya infeksi toksoplasma pada janin: 

  1. Memperhatikan kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi
  2. Menjaga kebersihan tubuh, terutama setelah berkegiatan di luar rumah, misalnya dengan menggunakan sarung tangan bila berkebun dan segera cuci tangan dengan sabun dan air hangat setelahnya
  3. Sebisa mungkin mengurangi makan makanan mentah, terutama daging kambing, babi, atau makanan siap saji
  4. Cuci bersih sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi
  5. Jangan minum susu kambing yang belum dipasteurisasi atau produk-produknya
  6. Merawat, menjaga, dan mengawasi binatang peliharaan
  7. Hindari tinja kucing. Gunakan sarung tangan jika sedang membersihkan kandang, atau produk-produk dari kucing. Jika sedang hamil, sebaiknya minta tolong orang lain untuk melakukannya
  8. Berikan kucing Anda makanan kering atau instan, jangan berikan daging mentah

Dapat disimpulkan bahwa toksoplasma sebagai salah satu penyebab utama merupakan mitos. Bahkan di negara-negara maju pun, toksoplasma tidak dianggap sebagai masalah yang serius dapat mengganggu kehamilan. Toksoplasma bukalah virus melainkan sejenis parasit. Anda pun tak perlu mengkhawatirkan toksoplasma pada kehamilan karena angka kejadiannya sangat kecil. Namun, menjaga diri dengan hidup sehat dan bersih juga tidak ada salahnya, bukan?

dr. Bramundito, Sp.OG

Spesialis Kebidanan & Kandungan
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor