Teknologi Terkini Pelega Pernapasan

Senin, 24 Juni 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Teknologi endoskopi mampu mengatasi permasalahan hidung seperti sinusitis dan konka hidung. Atasi sinusitis dan konka hidung yang mengganggu dengan endoskopi.

Teknologi Terkini Pelega Pernapasan

Sebagai bagian dari sistem pernapasan, hidung memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Melalui organ inilah biasanya udara dihirup dan diembuskan. Dan, karena memiliki arti penting bagi kehidupan, kesehatan terhadap organ yang satu ini pun menjadi hal penting untuk selalu dijaga. Maka dari itu, penting untuk menjaga kesehatan pernapasan kita.


Sayangnya, tidak jarang yang menyepelekan kondisi-kondisi tertentu terkait dengan hidung. Misalnya saja sering bersin di pagi hari, tapi tidak bersin lagi siang harinya (meski tidak diobati). Kondisi ini, karena menghilang tanpa pengobatan, sering kali dianggap tidak serius. Padahal kondisi tersebut bisa jadi merupakan awal terjadinya sinusitis.


Cara Mengatasi Sinusitis dan Konka Hidung dengan Endoskopi


1. Sinusitis

Sinusitis adalah infeksi di dalam rongga sinus yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Selain kondisi tadi, terdapat beberapa kondisi lain yang menjadi gejala sinusitis. Sakit daerah wajah saat menderita flu yang disertai perubahan warna pada lendir, penurunan fungsi penghidu, atau rasa sakit di sekitar pipi atau dahi saat sujud atau naik pesawat. Jika dibiarkan, infeksi dapat menyebar ke organ lain yang ada di kepala, seperti mata dan rahang atas.


Baca juga: Penanganan Nyaman, Sinusitis Hilang


2. Deviasi Septum (Konka Hidung)

Selain sinusitis, kondisi lain yang kerap ditemukan di hidung adalah deviasi septum. Deviasi septum adalah tulang hidung yang tajam yang menusuk konka (biasa disebut tulang hidung yang bengkok). Kondisi ini bisa terjadi akibat kecelakaan atau karena ketidaksamaan perkembangan antara tulang hidung dengan tulang tengkorak. Jika tidak ditangani segera dan dengan baik, deviasi septum dapat menyebabkan sakit kepala dan menghambat napas.


Pada kasus hidung tersumbat yang ringan dapat diobati dengan mengecilkan konka menggunakan obat semprot. Tapi jika terapi tersebut tidak berhasil, harus dilakukan tindakan operasi. Tindakan yang dapat dilakukan adalah konka reduksi.


Dengan pemanfaatan layanan endoskopi, septoplasti merupakan tindakan pengangkatan tulang hidung tanpa mengubah bentuk tulang hidung dari luar. Dengan bantuan kamera kecil, tindakan ini dilakukan tanpa meninggalkan luka sayatan yang terlihat. Endoskopi pun dapat diaplikasikan pada penanganan sinusitis. Tindakan yang dilakukan disebut Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS).


Hadirnya teknologi endoskopi memberi banyak manfaat bagi penanganan permasalahan pada hidung. Sebelum ditemukan teknik endoskopi, operasi untuk permasalahan hidung dilakukan secara buta (blind).


Baca juga: Lindungi Pernapasan dari Gangguan di Udara


Hadirnya kamera kecil yang terhubung dengan monitor membuat dokter dapat melihat bagian yang bermasalah. Terlebih ditambah dengan bantuan pemeriksaan CT-scan sebelum operasi. Hasil CT-scan dapat menginformasikan tingkat penyakit, bagian yang terinfeksi (pada kasus sinusitis), serta menjadi referensi saat dilakukannya operasi. Tindakan yang dilakukan pun menjadi tepat sasaran karena langsung tertuju pada area yang bermasalah dan hanya menangani area tersebut.


Untuk penanganan sinusitis, misalnya, tindakan FESS dapat dilakukan dalam satu hingga dua jam, tergantung jumlah rongga yang ditangani. Sementara, untuk septoplasti, tindakan membutuhkan waktu sekitar 35 menit hingga 1,5 jam. Pasca tindakan FESS dan septoplasti, pasien disarankan menginap satu hingga dua hari di rumah sakit.


Baca juga: Dampak COVID-19 pada Sistem Pernapasan


Meski jarang terjadi, setelah operasi FESS dan septoplasti bisa menimbulkan perdarahan. Di masa lalu, hal ini menjadi 'penderitaan' tersendiri bagi pasien karena harus menggunakan tampon yang panjangnya mencapai satu meter. Proses pelepasannya pun menimbulkan rasa sakit. Saat ini, terdapat tampon yang dapat hancur dengan sendirinya. Selain itu, bisa juga dilakukan penjahitan pada luka sehingga tidak lagi memerlukan tampon dan pasien bisa langsung bernapas dengan lega.


Yang penting diingat, baik penanganan sinusitis maupun deviasi septum, perawatan setelah operasi sama pentingnya dengan operasi. Pada kasus sinusitis, hidung harus dibersihkan selama tiga hingga empat minggu. Sementara, pada kasus deviasi septum, jahitan dilepas seminggu setelah operasi, karena biasanya tidak menggunakan tampon.