Tekanan Darah Meningkat Saat Kehamilan, Berbahayakah?

Rabu, 22 Mei 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Hipertensi saat hamil ditunjukan dengan gejala pembengkakan tungkai, peningkatan kadar protein urin, peningkatan berat badan mendadak hingga penglihatan kabur.

Tekanan Darah Meningkat Saat Kehamilan, Berbahayakah?

Kehamilan sebaiknya terjadi saat tubuh kita sehat, yaitu ketika secara fisiologi tubuh manusia mampu menghadapi sebuah perubahan sistem. Hal itu disebabkan karena kehamilan mengubah sistem kardiovaskular pada seorang ibu, yang pada keadaan normal tidak berubah-ubah.


Hipertensi yang timbul saat kehamilan dapat membuat tekanan darah meningkat. Secara epidemiologi, kejadian hipertensi kronik adalah 1-5 persen dari seluruh kehamilan, sedangkan hipertensi saat kehamilan mencapai 5-10 persen dari seluruh kehamilan, dan lebih dari 25 persen terjadi pada kehamilan pertama.


Sampai saat ini belum diketahui secara jelas penyebab hipertensi saat kehamilan.


Namun, diketahui beberapa kedaan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi saat kehamilan adalah:


  • Riwayat hipertensi sebelum kehamilan
  • Penyakit ginjal kronis
  • Diabetes
  • Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya
  • Wanita yang hamil di usia muda (kurang dari 20 tahun) dan usia lanjut (lebih dari 40 tahun)
  • Kehamilan kembar


Baca juga: Agar Tekanan Darah Tetap Terjaga


Apa Saja Gejala Hipertensi Saat Kehamilan?

Selain tekanan darah tinggi, biasanya timbul gejala-gejala seperti pembengkakan tungkai (edema), peningkatan kadar protein dalam urin, peningkatan berat badan mendadak, penglihatan kabur, mual dan muntah, nyeri ulu hati dan sekitar perut, sedikit berkemih serta perubahan fungsi ginjal dan hati


Bagaimana Mendiagnosa Hipertensi Saat Kehamilan?

Klasifikasi peningkatan tekanan darah tinggi saat kehamilan dapat dibagi menjadi:


  1. Peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg untuk pertama kali selama hamil, tidak ada proteinuria (kebocoran protein pada ginjal). Biasanya tekanan darah kembali ke normal kurang dari 12 minggu pasca-persalinan.
  2. Pre-eklamsia, ditandai dengan peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu, proteinuria 0,3 gram/24 jam atau +1, disertai pembengkakan pada tungkai atau edema tungkai. Pre-eklamsia dikategorikan menjadi pre-eklamsia berat jika tekanan darah meningkat 160/110 mmHg, proteinuria 2 gram/24 jam atau +2
  3. Eklamsia, kejang-kejang yang tidak disebabkan oleh hal lain pada seorang wanita hamil dengan pre-eklamsia
  4. Pre-eklamsia pada hipertensi kronik, kehamilan dengan pre-eklamsia pada wanita penderita hipertensi esensial (memiliki riwayat hipertensi sebelum hamil)
  5. Hipertensi kronik, ditandai dengan peningkatan tekanan darah 140/90 mmHG sebelum kehamilan atau didiagnosa sebelum kehamilan 20 minggu


Baca juga: Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM), Si Pencegah Komplikasi Hipertensi



Bagaimana Mengatasi Hipertensi Saat Kehamilan?

  • Satu-satunya hal yang dapat mengatasi hipertensi saat kehamilan adalah melahirkan. Setelah melahirkan, gangguan ini bisa langsung pulih atau bertahan beberapa jam sampai beberapa minggu. Biasanya direkomendasikan tindakan bedah caesar pada keadaan tertentu.


  • Pentingnya pemeriksaan kehamilan secara teratur atau antenatal care dapat mendeteksi secara dini tanda-tanda hipertensi saat kehamilan. Selain itu, dilakukan pemeriksaan urin untuk menilai proteinuria dan darah.


  • Pemeriksaan kesejahteraan janin dan pertumbuhan janin juga perlu dicermati bila ibu menderita hipertensi saat kehamilan. Dari pemeriksaan ultrasonografi dapat dilakukan secara detil arus darah tali pusat untuk melihat terjadinya gangguan aliran arus darah tali pusat dari ibu ke janin.


  • Bed rest harus dilakukan, di rumah maupun di rumah sakit


  • Perawatan rumah sakit diperlukan bila ibu hamil sudah terdiagnosis pre-eklamsia berat atau eklamsia


  • Pemberian terapi magnesium sulfat atau obat anti-hipertensi lainnya


  • Monitoring ketat pada janin, termasuk di antaranya menghitung gerak janin, tes non-stres dengan alat kardiografi untuk mengukur denyut jantung janin, pengukuran profil biofisik janin dan ukur arus darah tali pusat dengan USG Doppler


  • Monitoring tes laboratorium urin dan darah, terhadap kemungkinan perburukan hipertensi saat kehamilan


  • Medikasi seperti steroid kadang-kadang diperlukan untuk pematangan paru-paru janin bila harus dilahirkan prematur


Baca juga: Kehamilan Trimester Pertama, Apa yang Perlu Diperiksa?



Mengapa Hipertensi Saat Kehamilan Perlu Diperhatikan?

Dengan tingginya tekanan darah, maka tahanan pembuluh darah juga akan meningkat, sehingga arus darah pada sistem organ akan terjadi gangguan, termasuk di antaranya pada jaringan hati, ginjal, otak, rahim dan plasenta.


Karena itu, hipertensi saat kehamilan dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat dan kematian janin di dalam rahim. Jika tidak ditangani secara baik, hipertensi saat kehamilan dapat sangat berbahaya, yaitu kejang-kejang, kematian ibu dan janin, juga dapat berakibat terjadinya pelepasan plasenta dini dari dinding rahim yang sangat membahayakan ibu dan janin.


Karena risiko tinggi tersebut, biasanya persalinan dapat dipercepat sebelum usia kehamilan 37 minggu.


Pada akhirnya, edukasi tentang pengenalan dini gejala hipertensi saat kehamilan juga sangat penting, selain pemeriksaan antenatal yang baik.