Close
Close Language Selection
Health Articles

Kenali Risiko dan Penanganan Cedera Olahraga Bulu Tangkis

Kamis, 21 Jul 2022
Kenali Risiko dan Penanganan Cedera Olahraga Bulu Tangkis

Euforia olahraga bulu tangkis di Indonesia memang luar biasa. Banyak orang yang kemudian memilih bulu tangkis sebagai olahraga rutin setelah menyaksikan atlet-atlet Indonesia berlaga di turnamen-turnamen internasional. Untuk itu, penting untuk diketahui bagaimana karakteristik permainan bulu tangkis ini. Apa saja faktor risiko dan cedera tersering dalam bulu tangkis dan bagaimana mencegahnya? Simak ulasannya berikut ini. 

Karakteristik olahraga bulu tangkis
Olahraga bulu tangkis termasuk kategori olahraga high impact dengan gerakan yang dinamis, yang merupakan kombinasi antara reli-reli pendek dan reli-reli panjang. Karenanya, pemain bulu tangkis membutuhkan kebugaran aerobik atau kebugaran kardiorespirasi untuk dapat bermain bulu tangkis dengan durasi permainan 3 set.

Tak hanya itu, pemain bulu tangkis juga memerlukan kecepatan, tenaga atau power, serta kelincahan yang cukup baik. Misalnya, pada gerakan melompat saat jumping smash, gerakan lunges saat melakukan gerakan netting, gerakan drop shot, gerakan yang cepat dan mengubah arah saat defence, serta gerakan lainnya.

6 cedera tersering dalam bulu tangkis
Pemain bulu tangkis membutuhkan stamina yang kuat, kelincahan, kecepatan, ketepatan, kekuatan otot, dan koordinasi motorik sendi dan otot yang baik. Olahraga ini dipenuhi gerakan kompleks sesuai dengan tempo permainannya. Itulah mengapa jika tidak berhati-hati, cedera otot, sendi, ligamen, hingga tendon rentan terjadi ketika bermain bulu tangkis. Berikut ini beberapa jenis cedera yang dapat terjadi ketika bermain bulu tangkis:

Cedera bahu
Penyebab: gerakan overhead atau mengayun yang cepat dan berulang. Tipe cedera bahu pada pemain bulu tangkis adalah overuse injury, disebabkan karena gerakan sendi bahu yang berulang. Kondisi ini akan menyebabkan otot-otot bahu kelelahan dan mengakibatkan stabilitas sendi bahu menurun. Tendonitis rotator cuff atau tendinopathy adalah kondisi cedera bahu tersering pada pemain bulu tangkis.

Cedera ankle
Penyebab: Cedera ankle atau sering disebut ankle sprain (pergelangan kaki terkilir) sering terjadi pada pemain bulu tangkis akibat gerakan-gerakan berubah arah dalam waktu yang cepat serta gerakan melompat dan mendarat saat melakukan jumping smash. Faktor risiko cedera pergelangan kaki bisa berasal dari internal dan eksternal. Faktor internal misalnya: kelelahan saat bermain sehingga membuat keseimbangan menjadi terganggu dan pergelangan kaki kemudian terkilir; faktor eksternal biasanya disebabkan karena kondisi lapangan yang licin atau karena penggunaan sepatu yang tidak tepat sehingga membuat cedera pada ankle

Cedera lutut
Jenis cedera lutut yang paling sering terjadi pada olahraga bulu tangkis adalah cedera jumper’s knee atau patella tendinitis yang diakibatkan gerakan melompat dan mendarat berulang dan gerakan lunges yang berulang. Gerakan melompat dan mendarat serta gerakan lunges memberikan beban yang cukup besar pada tendon sendi lutut sehingga menyebabkan cedera lutut. Selain cedera pada tendon lutut, cedera ligamen lutut dan bantalan lutut juga sering dilaporkan di beberapa jurnal ilmiah, yaitu cedera ACL dan meniskus. Cedera ini sering disebabkan karena gerakan berputar dari lutut saat bermain bulu tangkis. 

Cedera punggung
Cedera lower back pain atau cedera punggung bawah juga sering terjadi pada pemain bulu tangkis, hal ini dapat terjadi akibat beberapa gerakan menerjang dan merunduk pada saat bermain bulu tangkis. Kelemahan otot punggung merupakan salah satu faktor risiko dari cedera lower back pain pada permainan bulu tangkis. 

Cedera siku
Penyebab: Cedera pada siku dapat terjadi karena beban pada otot yang berlebihan dan terus-menerus selama memegang raket, sehingga menimbulkan peradangan pada otot siku. 

Cedera kram otot
Penyebab: olahraga tanpa melakukan pemanasan dan peregangan otot. Kram otot bisa terjadi di bagian tubuh mana pun, tapi kram yang paling sering biasanya muncul di kaki. Saat kram terjadi, otot akan mengalami kontraksi dan bagian tubuh yang mengalami kram akan sulit digerakkan selama beberapa detik atau bahkan beberapa menit.

Pencegahan cedera
Cedera ketika bermain bulu tangkis dapat dicegah dengan beberapa cara yang mudah, antara lain:

  • Melakukan pemanasan dan pendinginan yang tepat 
    Mempersiapkan tubuh berolahraga dan beradaptasi dengan intensitas permainan adalah cara terbaik untuk mencegah cedera
  • Latihan kekuatan otot dan latihan fleksibilitas
    Berdasarkan karakteristik gerakan olahraga bulu tangkis yang merupakan olahraga high impact, penting sekali seorang pemain bulu tangkis mempunyai kekuatan otot dan fleksibilitas yang baik untuk mencegah terjadinya cedera.
  • Pemilihan sepatu yang tepat
    Sepatu bulu tangkis secara khusus dibuat untuk meredam guncangan sehingga dapat mencegah cedera pada tempurung lutut dan tulang kering. Sepatu yang dipilih juga sebaiknya cukup ringan dengan cushion yang baik untuk dapat melindungi ankle, dan juga memiliki sol anti-selip untuk mencegah jatuh karena terpeleset.
  • Pemilihan raket yang tepat
    • Berat raket. Sesuaikan raket dengan kemampuan dan fisik tubuh. Raket dengan berat ringan dapat mengurangi risiko cedera bahu
    • Ukuran grip raket. Grip yang terlalu kecil menyebabkan pemain harus menggenggam lebih keras dan meningkatkan strain pada otot sekitar pergelangan tangan. Sedangkan grip yang terlalu besar juga membuat pemain tidak leluasa menggerakkan raket.
    • Tension dari senar dan jenis senar
  • Intensitas permainan, sesuaikan dengan kondisi kesehatan dan usia
  • Melakukan rehabilitasi cedera olahraga sampai tuntas untuk meminimalisir cedera berulang adalah cara pencegahan sekunder yang sangat baik

Penanganan cedera dengan teknologi medis terkini
Cedera olahraga akibat bermain bulu tangkis dapat ditangani dengan tindakan non-operatif maupun operatif. 
a.    Non-operatif
Untuk menangani cedera yang tidak memerlukan operasi, serta upaya proses pemulihan pasca operasi, dokter spesialis kedokteran olahraga akan melakukan evaluasi untuk kemudian merancang program recovery yang sesuai dengan kondisi pasien. Biasanya diperlukan sesi menggunakan teknologi medis dalam periode cedera akut dan sesi exercise untuk membantu memulihkan otot dan sendi yang cedera dan agar pasien dapat kembali berolahraga dan beraktivitas kembali pasca cedera. 

Beberapa teknologi medis untuk penanganan cedera antara lain:

  • Cyrotheraphy (terapi dingin) 
    Prosedur terapi dingin yang dapat digunakan untuk menangani cedera olahraga akut ataupun rehabilitasi cedera. Metode ini biasa dilakukan setelah operasi atau rekonstruksi sendi, karena dapat membantu mengurangi cedera secara efektif, misalnya pada penanganan pergeseran tulang, patah tulang, memar, keseleo, dan lainnya. Sesi perawatan rata-rata per pasien berlangsung hanya 1-2 menit, tergantung klinis dan target terapi serta instruksi dokter yang merawat.
  • Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) 
    Metode penanganan non-invasif yang melibatkan arus listrik bertegangan rendah. Anggota tubuh yang terasa nyeri akan dialiri impuls listrik yang menjalar pada serabut saraf, sehingga membantu mengurangi kepekaan terhadap rasa nyeri/sakit. Durasi pengobatan TENS yang optimal adalah 40 menit.
  • Ultrasound Therapy
    Metode pengobatan dengan gelombang suara untuk merangsang jaringan di sekitar area cedera. Getaran gelombang suara dapat merangsang produksi kolagen dan menciptakan panas dalam jaringan, sehingga mampu mendorong penyembuhan pada jaringan lunak dengan meningkatkan metabolisme pada tingkat sel. Metode ini berguna untuk membantu proses penyembuhan tulang, penanganan cedera ligamen, dan lainnya.
    Jenis terapi ultrasound tergantung pada kondisi cedera. Untuk nyeri myofascial, strain, atau keseleo dapat digunakan ultrasound termal. Untuk jaringan parut, pembengkakan, dan carpal tunnel syndrome, ultrasound mekanis dapat bekerja lebih baik. Waktu perawatan tergantung pada ukuran area yang dirawat, frekuensi dan intensitas yang digunakan (5-15 menit).

Exercise dan rehabilitasi pasca cedera
Tujuan dari program rehabilitasi adalah untuk mengembalikan semua aspek kesehatan seperti sebelum cedera dengan cara yang terkontrol dan terpantau. Rehabilitasi harus dimulai sesegera mungkin (setelah fase peradangan awal – 72 jam). Dalam tahapan ini, dilakukan latihan fleksibilitas untuk meminimalisasi penurunan kisaran gerak sendi, latihan memperkuat otot, hingga latihan keseimbangan. 

b.    Tindakan operatif
Pada penanganan cedera olahraga yang membutuhkan tindakan operasi, dokter spesialis bedah ortopedi konsultan sports injury dan arthroskopi yang ahli dan berpengalaman dalam teknik minimal invasive akan menggunakan arthroskopi dengan sayatan minimal, sehingga pasien dapat pulih lebih cepat dibandingkan dengan operasi konvensional.

Teknologi medis penanganan cedera ini sudah tersedia di Sport Medicine, Injury, Recovery Center (SMIRC) RS Pondok Indah – Bintaro Jaya. Sebagai center of excellence terbaru di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, klinik ini dilengkapi dengan berbagai alat exercise dan rehabilitasi cedera yang canggih dan terbaru dari Techno Gym demi menghadirkan layanan komprehensif dan terintegrasi bagi para sport enthusiast dan atlet olahraga. Mulai dari penanganan dan pemulihan cedera, peningkatan performa olahraga, hingga pendampingan olahraga khusus bagi pasien dengan kondisi medis tertentu. 

SMIRC RS Pondok Indah – Bintaro Jaya memiliki tim medis kompeten yang terdiri dari dokter spesialis kedokteran olahraga yang sudah sangat berpengalaman menangani atlet untuk berkompetisi baik di skala nasional maupun internasional, dokter spesialis bedah ortopedi konsultan sports injury dan arthroskopi, serta sport physiotherapist. Tak hanya itu saja, dukungan dokter spesialis bedah ortopedi dengan berbagai subspesialisasi juga melengkapi kompetensi tim medis klinik ini. Dengan adanya kolaborasi dari berbagai dokter, seluruh penanganan cedera olahraga akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. 

RS Pondok Indah – Bintaro Jaya mendukung perhelatan bulu tangkis terbesar di Indonesia dengan menjadi Official Medical Partner Indonesia Masters dan Indonesia Open 2022. Pada perhelatan ini, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya mengirimkan tim medis dari berbagai multidisiplin, yang terdiri dari 6 dokter, 2 sport therapist, dan 4 perawat, serta menyediakan ambulans yang stand-by selama pertandingan berlangsung.

dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO

Spesialis Kedokteran Olahraga
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor