Kelainan Otot Jantung dan Penanganannya

Rabu, 29 Mei 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Kelainan otot jantung tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, perawatan yang tepat dapat mengendalikan gejala dan memperlambat progresivitas kondisinya.

Kelainan Otot Jantung dan Penanganannya

Jenis-jenis Kelainan Jantung dan Cara Mengatasinya

Kardiomiopati adalah penyakit gangguan pada fungsi pompa jantung yang disebabkan oleh kelainan otot jantung. Pada kardiomiopati, otot jantung dapat menjadi tebal, kaku, atau melebar sehingga menyebabkan gangguan fungsi jantung dalam memompa darah ke tubuh.


Penyebab utama kardiomiopati umumnya berkaitan dengan kelainan genetik atau adanya penyakit kronis, seperti darah tinggi atau diabetes.'



Adapun jenis-jenis kardiomiopati berdasarkan penyebabnya, meliputi:


1. Kardiomiopati Dilatasi

Merupakan jenis kardiomiopati yang paling sering terjadi. Pada jenis ini, bilik kiri jantung membesar dan melebar, sehingga fungsi pompa jantung sebelah kiri menurun.


2. Kardiomiopati Hipertropik

Disebabkan oleh penebalan dinding dan otot jantung secara abnormal, terutama pada dinding bilik jantung kiri. Penebalan ini menghambat jantung untuk memompa darah dan mengalami penurunan fungsi jantung.


3. Kardiomiopati Restriktif

Terjadi akibat otot jantung yang menjadi kaku dan tidak elastis, mengakibatkan jantung mengalami penurunan pengembangan dan daya tampung. Hal ini menyebabkan menurunnya aliran darah dalam jantung dan yang dipompa oleh jantung.


4. Kardiomiopati Aritmogenik Ventrikel Kanan 

Jenis kardiomiopati ini umumnya disebabkan oleh kelainan genetik. Adanya jaringan parut pada bilik jantung kanan menyebabkan ritme jantung yang tidak beraturan, sehingga dapat mengganggu pompa dan fungsi jantung. 


Berikut beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kardiomiopati:


  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Tiroid
  • Penyakit jantung koroner
  • Obesitas
  • Mengonsumsi alkohol, NAPZA, dan steroid anabolik
  • Kanker 
  • Genetik, yaitu riwayat penyakit kardiomiopati pada anggota keluarga


Gejala pada kardiomiopati umumnya timbul seiring dengan penurunan fungsi jantung yang ditandai dengan:


  • Napas pendek terutama saat beraktivitas fisik seperti naik tangga dan olahraga,
  • Mudah lelah,
  • Pembengkakan pada tungkai bawah,
  • Nyeri dada,
  • Pusing,
  • Denyut jantung berdebar-debar/tidak teratur, dan
  • Penglihatan berkunang-kunang hingga pingsan.


Jika Anda mengalami gejala kardiomiopatik seperti ini, jangan tunda untuk berkonsultasi segera dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.


Apabila harus dilakukan tindakan pembedahan untuk menanganinya, maka Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular.


Baca juga: Deteksi Dini Kelainan Jantung pada Dewasa Muda


Pemeriksaan Diagnostik

Untuk menentukan diagnosis kardiomiopati, Anda mungkin perlu melakukan beberapa pemeriksaan, meliputi:


  • Elektrokardiogram untuk mendeteksi gangguan irama jantung 
  • Ekokardiogram (USG jantung) untuk menilai kelainan (penebalan/pembesaran otot), gangguan katup, dan fungsi jantung
  • Radiologi: foto X-ray dada, CT-Scan atau MRI untuk melihat kondisi jantung
  • Tes darah: untuk melihat fungsi liver, ginjal, dan kelenjar tiroid. Pasien dapat menjalani pemeriksaan genetik apabila terdapat riwayat kardiomiopati pada keluarga


Tata Laksana Pengobatan

Penanganan kardiomiopati berfokus untuk meredakan gejala dan mencegah terjadinya komplikasi. Modifikasi gaya hidup merupakan penanganan awal pada pasien dengan kardiomiopati, baik yang bergejala maupun tidak.


Pasien kardiomiopati dengan gejala ringan umumnya diberikan terapi obat-obatan sesuai dengan gejalanya, seperti:


  • Obat aritimia jika ada gangguan irama jantung
  • Obat antihipertensi untuk menstabilisasi tekanan darah
  • Obat pengencer darah untuk mencegah terbentuknya gumpalan darah 
  • Obat diuretik untuk mengurangi penumpukan cairan dalam tubuh


Baca juga: Olahraga Tepat untuk Si Penyandang Kelainan Jantung


Manajemen Invasif (Kateterisasi dan Pembedahan)

Jika setelah pemberian obat-obatan yang optimal tetapi gejala tidak membaik atau terdapat gejala sumbatan aliran darah jantung karena penebalan dinding jantung, maka dapat dilakukan tindakan septal reduction therapy.


Tindakan ini biasanya bertujuan untuk mengurangi hambatan aliran darah akibat penebalan dinding dari bilik jantung.


Ada dua jenis tindakan septal reduction therapy, yaitu:


Ablasi Alkohol (Kateterisasi)

Ablasi alkohol dilakukan dengan kateter kecil yang dimasukkan melalui pembuluh darah di lipatan paha dan diteruskan sampai ke pembuluh darah di daerah bilik jantung yang mengalami penebalan, lalu dilakukan injeksi alkohol.


Injeksi alkohol ini dapat membuat kerusakan jaringan pada otot jantung yang menebal sehingga akan menjadi lebih tipis dan mengurangi sumbatan aliran jantung.


Operasi Miektomi (Pembedahan)

Operasi miektomi dilakukan dengan membuang sebagian jaringan otot jantung yang menebal untuk mengurangi sumbatan aliran darah jantung. Operasi ini umumnya berlangsung selama 3-5 jam dengan anestesi umum.


Tulang dada bagian tengah akan dibelah agar dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular mendapatkan akses ke jantung dengan baik.



Pada saat pembedahan, fungsi jantung dan paru akan dihentikan dan diambil alih oleh mesin jantung-paru untuk dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Setelah prosedur pembedahan selesai, mesin jantung-paru akan dihentikan dan fungsi jantung dan paru dikembalikan seperti semula. 


Dokter akan melakukan tindakan miektomi yaitu pembuangan otot dinding jantung yang menebal dan mengganggu aliran darah. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi pada saat operasi untuk menilai apakah jumlah otot yang dibuang sudah sesuai dan tidak ada lagi hambatan aliran darah.


Jika setelah evaluasi sudah tidak terdapat hambatan aliran darah, dokter akan mulai menghentikan mesin jantung-paru dan fungsi jantung paru pasien akan dikembalikan seperti semula. Tulang dada akan dirapatkan kembali, lalu luka operasi akan ditutup kembali. 


Pada hari pertama dan kedua setelah operasi, pasien akan dirawat di unit perawatan intensif. Jika kondisi pasien sudah stabil, pasien dapat dipindahkan ke ruang perawatan dan akan dirawat selama 4-5 hari. Total perawatan di rumah sakit umumnya 5-7 hari. 


Baca juga: Teknologi Terkini untuk Jantung Sehat


Transpalantasi jantung

Prosedur ini merupakan pilihan terakhir yang efektif untuk menangani gagal jantung akibat kardiomiopati. Namun hingga saat ini, prosedur ini belum dapat dilakukan di Indonesia.


Pencegahan Kardiomiopati

Pada kardiomiopati, faktor genetik merupakan faktor yang tidak dapat dihindari. Namun, pemeriksaan rutin dapat dilakukan untuk mengetahui dan mencegah komplikasi.


Selain itu, pemeriksaan rutin dan modifikasi gaya hidup juga memiliki peranan penting dalam pencegahan penyakit ini, antara lain dengan:


  • Mengurangi berat badan jika mengalami obesitas
  • Melakukan olahraga teratur
  • Menghentikan kebiasaan merokok
  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol
  • Mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang
  • Mengelola stres dengan baik



Apakah Kelainan Otot Jantung Bisa Sembuh?

Kelainan otot jantung, seperti kardiomiopati, tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, perawatan yang tepat dapat membantu mengendalikan gejala, memperlambat progresivitas kondisi, dan meningkatkan kualitas hidup. Pengobatan untuk kelainan otot jantung bisa meliputi penggunaan obat-obatan, terapi fisik, perubahan gaya hidup, dan dalam beberapa kasus, pemasangan alat bantu jantung seperti pacemaker atau defibrilator.


Tujuan utama perawatan adalah untuk mengoptimalkan fungsi jantung, mencegah komplikasi serius, dan menjaga kesehatan jantung secara keseluruhan.


Jika Anda mengalami kelainan otot jantung atau gejala yang terkait, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah di RS Pondok Indah. Dengan bantuan dokter spesialis terkait, Anda akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi Anda dan dapat menerima perawatan yang terbaik untuk mengelola kelainan otot jantung Anda.