Sleep Apnea: Mendengkur Bukan Berarti Tidur Pulas Melainkan Sumbatan Jalan Napas

Thursday, 20 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Bahaya Sleep Apnea atau mengorok berpotensi memungkinkan terjadinya serangan jantung mendadak atau stroke yang berujung kematian. Simak cara mengobatinya.

Sleep Apnea: Mendengkur Bukan Berarti Tidur Pulas Melainkan Sumbatan Jalan Napas

Merasa terganggu karena ada keluarga atau orang terdekat mendengkur dengan keras setiap tidur di malam hari? Jangan buru-buru memarahi mereka, yah. Sebab bisa saja mendengkur saat tidur yang dialaminya ini merupakan gejala gangguan pernapasan saat tidur atau sleep apnea.


Mendengkur mungkin dianggap hal yang lumrah jika hanya terjadi sesekali. Namun, ketika mendengkur terjadi untuk waktu yang lama dan sangat keras, bahkan mengganggu waktu tidur, sebaiknya Anda memeriksakan diri lebih lanjut ke dokter. Sebab gangguan tidur ini bisa saja merupakan suatu gejala sleep apnea yang dapat menyebabkan berbagai kondisi kesehatan sebagai komplikasinya.


Apa Itu Sleep Apnea?

Sleep apnea (sleep=tidur; apnea=henti napas) adalah gangguan yang meyebabkan henti napas selama beberapa detik saat sedang tidur. Mendengkur dengan kencang adalah salah satu gejala dari gangguan ini. Meski henti napas yang terjadi sangat singkat, sekitar 10 detik, sleep apnea tetap menyebabkan penurunan kadar oksigen sebanyak 4-5%.


Saat mengalami hipoksia (penurunan kadar oksigen dalam darah), otak akan memerintahkan tubuh untuk bernapas kembali (arousal). Adanya perintah mendadak untuk bernapas dari otak ini akan menunjukkan gejala seperti tersedak, batuk, atau seperti orang mengambil napas setelah tenggelam.


Baca juga: Gangguan Tidur dan Cara Mengatasinya



Penyebab Sleep Apnea

Jenis sleep apnea bisa dikelompokkan sesuai dengan penyebab sleep apnea. Beberapa penyebab yang dimaksud adalah sebagai berikut ini:


1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA merupakan penyebab sleep apnea yang paling sering ditemui. Obstructive sleep apnea terjadi saat otot di belakang tenggorokan melemah, sehingga saluran napas menyempit atau menutup.


2. Central Sleep Apnea (CSA)

Central sleep apnea adalah jenis apnea tidur yang terjadi saat otak tidak bisa mengirimkan sinyal dengan baik ke otot pernapasan. Akibatnya, penderita akan berhenti bernapas selama beberapa saat waktu tidur.


3. Complex Sleep Apnea

Penyebab sleep apnea kompleks adalah gabungan masalah dari OSA dan CSA. Kondisi ini bisa terjadi pada orang yang sebelumnya telah terdiagnosa dan menjalani penanganan gangguan tidur karena OSA. Namun, jenis apnea tidur yang dialami berubah menjadi CSA.


Sleep apnea bisa disebabkan oleh berbagai faktor, pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Bedah Kepala, dan Leher dapat membantu memastikan penyebab dari keluhan yang Anda rasakan saat ini.


Baca juga: Tidur Berkualitas, Aktivitas Lancar


Bahaya Sleep Apnea

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2009, sleep apnea meningkatkan risiko terjadinya kematian dini sebesar 46%. Selain itu, sleep apnea juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung atau stroke.


Studi lain yang dipublikasikan pada tahun 2016, memperkirakan bahwa 1 dari 3 orang di Singapura mengalami obstructive sleep apnea dengan derajat sedang sampai berat.


Berkurangnya aliran udara karena sleep apnea akan menurunkan kadar oksigen dalam darah. Jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, kondisi ini bisa memberikan dampak negatif untuk kesehatan. Beberapa gangguan kesehatan jangka panjang yang terjadi akibat sleep apnea adalah:


  • Menurunnya prestasi di sekolah, pada anak-anak yang menderita sleep apnea
  • Kecelakaan lalu lintas ketika sedang mengendarai kendaraan bermotor karena menurunnya kualitas tidur
  • Kerusakan saraf kognitif (kehilangan memori)
  • Demensia dini
  • Depresi
  • Diabetes mellitus
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Penyakit jantung, termasuk gangguan irama jantung
  • Stroke


Bagaimana Sleep Apnea Terjadi?

Tenggorokan terdiri atas otot-otot, seperti lidah, langit-langit lunak, amandel, dan dinding belakang tenggorokan. Normalnya, otot ini memiliki kekuatan untuk memungkinkan pernapasan terjadi secara normal. Namun, dalam keadaan tertentu, seperti ketika tidur, otot ini bisa saja melemah atau menjadi relaks sehingga bisa menutup sebagian, bahkan seluruh jalan napas.


Mereka yang otot dinding belakang tenggorokannya melemah dan kelebihan jaringan lunak, misalnya pada kasus obesitas (kelebihan berat badan), mempunyai risiko mengalami sleep apnea yang lebih tinggi. Sebab kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan jalan napas jadi lebih sempit.


Mendengkur pada orang dewasa biasanya terjadi karena langit-langit lunak dan lidah yang jatuh ke belakang. Ketika daerah ini tertutup sebagian, seseorang akan menunjukkan gejala mendengkur (hypopnea). Sedangkan ketika jalan napas tertutup total, penderitanya akan mengalami henti napas (apneu).


Jika proses ini terjadi berulang-ulang, akan terjadi sumbatan aliran udara ke paru-paru yang menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam tubuh.   


Baca juga: Insomnia Hilang, Tidur pun Tenang



Faktor Risiko Sleep Apnea

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami sleep apnea, meliputi:


  • Berjenis kelamin pria
  • Mengalami kelebihan berat badan, bahkan obesitas
  • Berusia lebih dari 50 tahun
  • Memiliki ukuran lingkar leher lebih dari 42 cm atau ukuran kemeja lebih dari nomor 16-17
  • Mengalami amandel atau memiliki ukuran lidah yang leih besar
  • Ukuran rahang yang lebih kecil
  • Mengalami refluks asam lambung (GERD)
  • Mengalami alergi
  • Mengalami sinusitis
  • Memiliki riwayat sleep apnea di keluarga
  • Memiliki tulang hidung yang bengkok


Sleep apnea bisa terjadi pada dewasa dan anak-anak. Pada dewasa, lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita, perbandingannya adalah 3:1. Obesitas merupakan faktor yang sangat berperan sebagai penyebab sleep apnea.


Penderita diabetes melitus (DM) 3 kali lebih berisiko mengalami sleep apnea. Pada anak-anak, biasanya gejala terlihat sebagai kebiasaan bernapas melalui mulut (mouth breather) saat melakukan aktivitas sehari-hari ataupun saat tidur.


Sleep apnea pada anak bisa terjadi karena amandel dan adenoid (struktur kelenjar limfoid di belakang hidung) yang membengkak karena peradangan akibat infeksi. Selain itu, kelainan struktur tulang di sepanjang jalan napas atas juga menjadi penyebab terjadinya sleep apnea pada anak.


Anak-anak dengan prestasi sekolah yang makin menurun harus dicurigai mengalami sleep apnea, karena gangguan tidur tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk di siang hari dan mengganggu konsentrasi belajar.  


Baca juga: Si Kecil Kerap Mendengkur? Berbahayakah?


Gejala Sleep Apnea

Selain mendengkur dengan keras dan periode henti napas saat tidur, beberapa gejala sleep apnea dapat dikenali sebagai:


  • Mendengus, terengah-engah, atau tersedak saat tidur
  • Sering terbangun saati tidur, dengan mulut terasa kering atau sakit tenggorokan
  • Sakit kepala saat terbangun di pagi hari
  • Terbangun di pagi hari dengan perasaan lelah
  • Merasa kantuk, lemas, dan lesu saat siang atau malam
  • Pada anak, posisi tidurnya tampak aneh dan terlihat gelisah saat tidur


Mendengkur yang harus diwaspadai adalah ketika dalam satu periode mendengkur, terdapat fase arousal yang menyebabkan penderita terbangun tiba-tiba karena tersedak, terbatuk, atau terengah-engah.

Jika Anda atau pasangan mengalami salah satu gejala sleep apnea, segera periksakan ke dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Bedah Kepala, dan Leher


Cara Menghilangkan Mengorok pada Pria dan Wanita


1. Menjaga Berat Badan Ideal

Mengorok seringkali disebabkan oleh adanya penyumbatan pada saluran napas, yang bisa diperburuk oleh kelebihan berat badan. Dengan menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat dan olahraga teratur, Anda dapat mengurangi lemak berlebih di area tenggorokan yang dapat menyempitkan saluran napas dan menyebabkan mengorok.


2. Mengubah Posisi Tidur

Tidur dalam posisi terlentang dapat menyebabkan lidah dan langit-langit lunak mundur ke tenggorokan, menyempitkan saluran napas dan memicu mengorok. Cobalah tidur miring untuk menjaga saluran napas tetap terbuka. Bantal tubuh yang panjang dapat membantu mempertahankan posisi ini sepanjang malam.


3. Menghindari Alkohol dan Sedatif

Alkohol dan obat penenang dapat mengendurkan otot-otot di tenggorokan, meningkatkan kemungkinan mengorok. Hindari konsumsi alkohol dan sedatif beberapa jam sebelum tidur untuk mengurangi risiko mengorok. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat penenang.


4. Menjaga Kelembapan Udara

Udara kering dapat mengiritasi membran di hidung dan tenggorokan, menyebabkan mengorok. Menggunakan pelembap udara di kamar tidur dapat membantu menjaga kelembapan udara, sehingga mencegah iritasi dan membantu saluran napas tetap terbuka.


5. Membersihkan Saluran Napas

Hidung tersumbat atau alergi dapat menyebabkan Anda bernapas melalui mulut, yang dapat memperparah mengorok. Gunakan semprotan hidung saline atau neti pot untuk membersihkan hidung sebelum tidur. Jika Anda memiliki alergi, pastikan untuk mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan alergen di rumah Anda.


6. Menghindari Rokok

Merokok dapat mengiritasi lapisan saluran napas dan meningkatkan produksi lendir, yang dapat menyebabkan penyempitan saluran napas dan mengorok. Berhenti merokok tidak hanya akan membantu mengurangi mengorok tetapi juga meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.


7. Menggunakan Alat Bantu Tidur

Ada berbagai alat bantu tidur yang dirancang untuk membantu mengurangi mengorok, seperti penyangga rahang bawah dan strip hidung. Alat-alat ini dapat membantu menjaga saluran napas tetap terbuka dan mengurangi getaran yang menyebabkan suara mengorok.


8. Konsultasi dengan Dokter

Jika mengorok Anda parah atau disertai dengan gejala lain seperti berhenti bernapas saat tidur (sleep apnea), konsultasikan dengan dokter. Dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan tidur atau perawatan lain seperti Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) untuk membantu menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur.


9. Mengatur Pola Tidur yang Baik

Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk kesehatan. Pola tidur yang buruk dapat memperburuk mengorok. Usahakan untuk tidur pada waktu yang sama setiap malam dan pastikan Anda mendapatkan waktu tidur yang cukup. Buatlah rutinitas tidur yang menenangkan untuk membantu Anda tidur lebih nyenyak.


10. Menerapkan Teknik Relaksasi

Stres dan kecemasan dapat memperburuk mengorok. Teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, atau latihan pernapasan dapat membantu mengurangi stres dan memperbaiki kualitas tidur. Luangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk berlatih teknik relaksasi ini sebagai bagian dari rutinitas tidur Anda.


Pemeriksaan Sleep Apnea

Untuk menegakkan diagnosis sleep apnea, dokter akan melakukan evaluasi dari gejala, faktor risiko, dan observasi apnea ketika tidur. Kondisi ini kebanyakan disadari untuk pertama kali oleh anggota keluarganya atau orang yang tidur sekamar dengan penderita sleep apnea


Dokter biasanya melakukan pemeriksaan sleep test atau yang disebut polysomnography. Tes ini dilakukan selama pasien tidur, lalu dimonitor dengan alat khusus yang dapat mendeteksi kadar oksigen di tubuh, berapa kali terjadi periode henti napas, posisi tidur yang paling banyak menimbulkan episode henti napas.


Home Visit Sleep Test - RS Pondok Indah

Sleep test juga dapat dilakukan di rumah supaya penderita dapat tidur dengan nyaman, seperti biasanya.


RS Pondok Indah - Pondok Indah mempunyai fasilitas home visit sleep test tersebut. Kami melakukan evaluasi tenggorokan menggunakan kamera yang dinamakan Flexible Rhino-Pharyngo-Laryngoscopy. Alat ini berukuran sebesar “spaghetti” dengan dilengkapi sebuah kamera dibagian ujungnya, kemudian dimasukkan melalui hidung. Penggunaan alat ini bertujuan untuk mencari tau lokasi sumbatan jalan napas atas tenggorokan yang harus dikoreksi.


Drug-Induced Sleep Endoscopy (DISE) dapat dilakukan untuk menentukan lokasi sumbatan jalan napas atas. Pemeriksaan dilakukan dalam kamar operasi, menggunakan obat bius. Saat pasien mulai tidur dan jalan napas tersumbat, yang ditandai dengan mendengkur, dokter akan mengevaluasi jalan napas atas mulai dari hidung sampai tenggorokan menggunakan endoskop. Selain itu, pemeriksaan menggunakan endoskop ini juga bertujuan menilai kemungkinan terjadinya penyumbatan pernapasan di daerah langit-langit dan lidah.


Pencegahan dan Terapi Sleep Apnea

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Jadi, berikut ini adalah beberapa tips untuk mencegah sekaligus mengurangi gangguan tidur yang diakibatkan oleh sleep apnea.


1. Jalani Pola Hidup Sehat

Jalani kebiasaan yang lebih sehat, modifikasi gaya hidup, hindari alkohol atau obat pelemas otot dan obat tidur, dan berhenti merokok. Konsumsi makanan bergizi dan rajin berolahraga.


2. Jaga Berat Badan Ideal

Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko terjadinya sleep apnea. Oleh sebab itu, pastikan untuk menurunkan berat badan berlebih dan mempertahankan berat badan ideal dengan indeks massa tubuh (body mass index) kurang dari 25.


3. Perhatikan Posisi Tidur

Beberapa penderita sleep apnea mendapatkan manfaat dengan tidur dalam posisi badan dan kepala dinaikkan 30 derajat atau lebih. Dengan posisi tersebut gaya gravitasi yang dapat menutup jalan napas dapat dicegah.


Berbaring dengan posisi menyamping lebih disarankan dibandingkan dengan posisi terlentang, dengan posisi menyamping maka gaya gravitasi yang menyempitkan jalan napas menjadi lebih kecil.


4. Menggunakan CPAP

Jika Anda atau pasangan Anda terdiagnosa menderita sleep apnea derajat berat, biasanya dokter akan meminta Anda menggunakan Continue Positive Airway Pressure (CPAP) ketika tidur untuk mendorong udara dengan tekanan positif melewati sumbatan jalan napas.


Beberapa alat yang dipasang di rongga mulut untuk membuka aliran udara ketika tidur juga dapat bermanfaat untuk sleep apnea derajat ringan. Salah satu modalitas terapi obstructive sleep apnea adalah operasi.


Teknik yang dipakai adalah melebarkan, membuang, dan membuat jaringan yang kolaps atau lemah menjadi lebih kaku sehingga jalan napas menjadi lebih lebar. 


Mengorok (Sleep Apnea) ke Dokter Spesialis Apa?

Jika mengalami mengorok, Anda dapat berkonsultasi ke dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) yang menangani masalah saluran napas atas seperti penyumbatan hidung atau kelainan tenggorokan. Jika mengorok disertai dengan gangguan pernapasan seperti sleep apnea, konsultasi dengan dokter spesialis paru (pulmonolog) atau dokter spesialis tidur diperlukan.