Close
Close Language Selection
Health Articles

Simpan Cadangan Sel Telur Berkualitas dengan Egg Freezing

Kamis, 25 Mei 2023
Simpan Cadangan Sel Telur Berkualitas dengan Egg Freezing

Seiring dengan bertambahnya usia, kualitas dan kuantitas cadangan sel telur wanita akan semakin menurun. Padahal untuk mendapatkan embrio terbaik, dibutuhkan sel telur dan sperma dengan kualitas yang baik pula. Mengingat proses alamiah tersebut tidak dapat dicegah, maka teknologi medis berupa pembekuan sel telur hadir sebagai solusi untuk menjaga cadangan sel telur dengan kualitas terbaik hingga nantinya bisa digunakan di kesempatan yang akan datang.

Saat lahir hingga masa kanak-kanak, perempuan memiliki sekitar 2 juta cadangan sel telur. Jumlah tersebut kemudian menurun pada masa remaja ketika dimulainya siklus menstruasi menjadi sekitar 400 ribu sel telur. Pada masa ini, sel-sel telur mulai memasuki proses pematangan dan dapat dibuahi oleh sperma. Saat usia dewasa, cadangan sel telur wanita terus menerus menurun hingga memasuki usia menopause. Puncak penurunan sel telur terjadi ketika wanita memasuki usia 35-37 tahun.

Jumlah dan kualitas sel telur berpengaruh terhadap tingkat kehamilan wanita. Semakin banyak cadangan sel telur yang berkualitas, maka semakin tinggi pula kemungkinan wanita untuk dapat hamil. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa wanita berusia di atas 35 tahun cenderung lebih sulit untuk memiliki keturunan. Kemudian bagaimana dengan wanita yang belum mau menikah atau menunda untuk memiliki keturunan, tetapi ingin mempertahankan cadangan sel telur yang berkualitas untuk hamil di waktu yang akan datang? Atau bagi wanita yang mungkin harus menjalani prosedur medis tertentu yang berisiko mengurangi cadangan sel telur, seperti kemoterapi atau operasi kista ovarium? Pembekuan sel telur mungkin dapat menjadi jawabannya.

Pembekuan sel telur atau yang biasa disebut sebagai egg freezing atau egg cryopreservation merupakan teknologi yang memungkinkan wanita menyimpan sel telur agar dapat digunakan di kemudian hari untuk menjalani teknologi reproduksi berbantu dengan pasangan yang sah. Teknologi medis ini dapat membantu mempertahankan kualitas sel telur tetap pada usianya, sesuai dengan waktu pengambilan telur tersebut hingga nanti ketika ingin digunakan pada program kehamilan. Jika dilakukan dengan prosedur yang baik dan benar, pembekuan sel telur dapat meningkatkan peluang kehamilan di kemudian hari.

Pemanfaatan metode pembekuan sel telur
Awalnya pembekuan sel telur bertujuan untuk menyelamatkan fungsi reproduksi wanita penderita kanker yang harus menjalani kemoterapi karena berisiko menghancurkan sel telur. Namun seiring berjalannya waktu, pembekuan sel telur juga dimanfaatkan oleh wanita tanpa kanker yang ingin menyimpan cadangan sel telur dengan didasari oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Wanita yang belum menikah tetapi hampir melewati usia dengan kualitas dan kuantitas sel telur terbaik
  • Wanita yang sudah menikah tetapi ingin menunda kehamilan karena alasan tertentu
  • Penderita endometriosis berat yang belum menikah atau belum siap hamil

Pada dasarnya metode pembekuan sel telur ini dapat dimanfaatkan oleh setiap wanita yang telah melalui proses pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Dokter akan mempertimbangkan sejumlah hal sesuai dengan hasil pemeriksaan. Misalnya setiap pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta yang akan membekukan sel telur sebaiknya melakukan penanganan penyakit komorbidnya terlebih dahulu hingga kondisi terkontrol. Adanya komorbid dapat menurunkan kualitas sel telur dan meningkatkan komplikasi saat hamil nantinya.

Pembekuan sel telur paling baik jika dilakukan oleh wanita berusia 20-35 tahun karena pada kisaran usia inilah reproduksi sedang mencapai tahap optimal. Wanita yang membekukan 10-20 sel telur sebelum usia 35 tahun memiliki peluang 50-70 persen untuk mendapatkan kelahiran hidup. Angka ini akan menurun seiring dengan meningkatnya usia, mengingat kuantitas dan kualitas sel telur akan terus mengalami penurunan pada usia di atas 35 tahun. Apalagi jika disertai dengan gangguan kesehatan organ reproduksi yang memengaruhi kesuburan seperti memiliki endometriosis, PCOS, atau kista pada ovarium.

Walaupun idealnya pembekuan sel telur ini dilakukan sebelum usia 37 tahun, penentuan bisa atau tidaknya seorang wanita menjalani tindakan cryopreservation harus tetap melalui pertimbangan matang dari indikasi sampai dengan hasil pemeriksaan. Jika kualitas sel telurnya masih baik, maka tidak menutup kemungkinan seorang wanita tetap bisa menjalani hal ini meski telah berusia di atas 37 tahun. Terkadang, usia ovarium seorang wanita belum tentu sesuai dengan usia biologis wanita tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi kesehatan organ reproduksi yang sudah disebutkan sebelumnya.

Sel telur yang telah dibekukan nantinya hanya dapat digunakan oleh pemilik sel telur tersebut dengan pasangan sahnya. Di Indonesia, hal ini telah diatur dalam Undang-Undang pasal 127 No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan yang menyatakan bahwa upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Penjelasan di dalamnya juga merinci tentang tenaga kesehatan dan fasilitas yang memadai dalam prosesnya.

Proses pembekuan sel telur
Proses persiapan pembekuan sel telur hampir mirip dengan bayi tabung. Namun pada bayi tabung, tindakan dilakukan sampai dengan pembuahan sel telur. Sedangkan pada pembekuan sel telur, proses ini hanya dilakukan sampai pengambilan sel telur, kemudian dilanjutkan dengan proses pembekuan.

Persiapan awal yang perlu dilakukan di antaranya adalah pemeriksaan kondisi organ reproduksi wanita, penilaian cadangan ovarium, dan screening infeksi (hepatitis B, hepatitis C, dan HIV). Setelah itu, dilanjutkan dengan stimulasi terkontrol menggunakan obat hormon untuk membesarkan sel telur. Tindakan ini dilakukan dengan cara penyuntikkan setiap hari selama 10-12 hari.

Sel telur yang sudah berukuran besar kemudian akan “dipanen” (oocyte collection) melalui prosedur operasi untuk mengambil langsung sel telur dari ovarium atau disebut juga dengan ovum pick-up. Sel telur yang telah diambil kemudian akan disimpan dalam tabung khusus dengan suhu -196oC. Selama penyimpanan, suhu harus dipastikan stabil agar tidak merusak sel telur. Selama suhu -196oC dapat dipertahankan dengan baik, maka tidak ada batasan waktu penyimpanan karena kualitas sel telur tersebut setidaknya dapat dipertahankan 80-90 persen dalam kondisi sama seperti saat dibekukan. 

Tidak ada terapi khusus yang harus dilakukan setelah proses pembekuan sel telur selesai, kecuali jika pasien memiliki kondisi medis yang perlu diobati atau dikontrol. Selain itu, perlu diingat bahwa seiring pertambahan usia, proses penuaan secara fisik akan berlanjut, sehingga penting untuk perempuan menjaga kondisi kesehatan tubuhnya sampai ia siap untuk hamil. Usia dapat menjadi batas waktu pembekuan sel telur ini karena usia layak hamil adalah sebelum 46 tahun.

Risiko pembekuan sel telur
Semua tindakan medis pasti memiliki risiko. Beberapa risiko pembekuan sel telur termasuk di dalamnya risiko dari stimulasi ovarium, seperti sindrom hiperstimulasi ovarium, terutama pada kasus-kasus PCOS. Selain itu ada pula risiko kerusakan sel telur saat dibekukan. Perlu diketahui bahwa kestabilan kondisi sel telur yang dibekukan tidak sebaik pembekuan embrio (hasil pembuahan sel telur dan sperma).

Meski sel telur yang dibekukan masih berusia muda, jika sel tersebut diproses atau “ditanam” saat sang wanita berusia di atas 35 tahun, maka tetap dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan yang berkaitan dengan usia fisik ibu saat hamil, seperti keguguran, preeklamsia, diabetes mellitus gestasional, hingga kelahiran bayi prematur.

Memang benar bahwa metode pembekuan sel telur dapat dijalani oleh setiap wanita. Namun untuk menghindari risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari, dokter akan melakukan pemeriksaan dan pengawasan pada setiap tahapnya untuk menilai apakah prosedur pembekuan layak dilanjutkan atau tidak. Dengan segala ketentuan yang berlaku, pembekuan sel telur diharapkan dapat menjadi pilihan bagi Anda yang ingin menjaga cadangan sel telur dengan kualitas terbaik hingga saatnya digunakan nanti.

dr. Upik Anggraheni Priyambodo, Sp. OG, Subsp. FER

Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor