Close
Close Language Selection
Health Articles

Kista Ovarium: Waspadai Nyeri Saat Haid

Jumat, 22 Jun 2018
Kista Ovarium: Waspadai Nyeri Saat Haid

Di sebelah kiri dan kanan rahim perempuan terdapat dua organ yang disebut ovarium atau indung telur. Organ ini berfungsi dalam proses reproduksi, baik sebagai tempat keluarnya sel telur, maupun sebagai tempat dikeluarkannya hormon-hormon perempuan, yaitu estrogen dan progesterone, yang mengatur siklus haid dan kehamilan.

Selain itu, kedua hormon ini juga mempengaruhi bentuk tubuh, payudara, dan pertumbuhan rambut di tubuh perempuan. Setiap bulan, terjadi yang disebut dengan ovulasi, yaitu keluarnya sebuah sel telur dari ovarium. Sel telur ini akan berjalan masuk dari ovarium ke dalam rahim melalui saluran telur.

Jenis kista pada ovarium
Kista adalah kantung berisi cairan yang bisa terdapat di mana saja di dalam tubuh manusia. Di dalam ovarium dapat terbentuk beberapa macam kista. Yang paling sering terbentuk adalah kista fungsional kerap terbentuk saat siklus haid yang normal. Setiap bulan terbentuk kantung kecil yang disebut folikel berisi sel telur dan cairan di dalam ovarium. Pada saat sel telur sudah matang, sel telur akan lepas dengan pecahnya kantung tadi. Kemudian, kantung yang sudah pecah itu masih mengeluarkan hormon-hormon sampai saatnya hamil atau sampai saatnya akan haid lagi.

Satu tipe kista fungsional di ovarium dapat terjadi karena tidak pecahnya kantung folikel tadi, yang dapat terus tumbuh. Kista yang demikian biasanya akan mengecil dan menghilang setelah satu sampai tiga bulan. Kista fungsional lain misalnya kista corpus luteum, terbentuk karena setelah kantung folikel pecah dan mengeluarkan sel telur, kantung itu menutup kembali dan cairan mengumpul di dalamnya. Kista seperti ini akan menghilang lagi setelah beberapa minggu, akan tetapi bisa juga mengganggu kalau terpuntir atau berdarah sehingga menyebabkan nyeri. Obat-obatan tertentu yang dipakai untuk membuat ovulasi dapat meningkatkan risiko kista fungsional. Namun, kista-kista seperti ini tidak pernah menjadi kanker.

Kista lainnya adalah kista cokelat atau endometrioma. Disebut kista cokelat karena berisi cairan cokelat kental. Kista seperti ini tumbuh di dalam ovarium perempuan dengan penyakit endometriosis. Penyakit ini ditandai dengan tumbuhnya jaringan lapisan dalam rahim, yang disebut lapisan haid, di luar rahim. Kalau jaringan ini tumbuh di dalam ovarium terbentuklah kista cokelat. Cairan cokelat itu sebenarnya adalah darah haid yang terkumpul di sana. Kista jenis ini dapat menyebabkan nyeri haid dan nyeri saat berhubungan seksual, sehingga sering menyebabkan kesulitan dalam mendapatkan keturunan.

Ada juga kista yang disebut cystadenoma yang tumbuh di lapisan luar ovarium, berisi cairan bening atau cairan kental. Kista jenis ini dapat tumbuh sangat besar dan menyebabkan rasa sakit. Selain itu, ada juga kista dermoid. Kista jenis ini seringkali berisi rambut, lemak, bahkan gigi. Kista jenis ini dapat menjadi besar dan terasa nyeri.

Ovarium polikistik adalah keadaan di mana sel-sel menjadi matang di dalam ovarium, akan tetapi kantung folikel tidak pecah untuk mengeluarkan sel telur. Hal ini terjadi pada setiap siklus haid sehingga terbentuk banyak kista-kista kecil di dalam ovarium. Kista seperti ini akan dapat mengganggu kesuburan, siklus haid, dan mengganggu bentuk tubuh dan rambut tubuh karena perubahan hormon yang disebabkannya.

Gejala dan pemeriksaan yang diperlukan
Gejala yang dirasakan oleh wanita yang mempunyai kista ovarium berbeda-beda bergantung tipe kista dan ukurannya. Yang bisa timbul adalah keluhan rasa tertekan, rasa penuh atau nyeri di daerah perut, rasa nyeri di punggung bawah atau paha, gangguan saat berkemih, nyeri saat berhubungan seksual, pertambahan berat badan, nyeri haid, gangguan perdarahan saat haid, mual dan muntah, serta nyeri payudara. Kadangkala kista ovarium bisa terjadi tanpa adanya gejala sama sekali hingga ukurannya sudah cukup besar.

Kista ovarium ditemukan dengan cara pemeriksaan panggul rutin. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan akan dapat meraba pembesaran dari indung telur. Bila ditemukan kista ovarium, dokter dapat melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang menggunakan gelombang suara untuk melihat bagian dalam tubuh manusia.

Dengan USG, dokter dapat mengukur besarnya kista, melihat bentuknya, melihat lokasinya, serta melihat isinya. Untuk mengetahui apakah kista ovarium berpotensi untuk menjadi kanker atau tidak, dokter akan melakukan pemeriksaan darah yang disebut CA125. Jika pasien positif kanker, maka kadar CA-125 akan terlihat sangat tinggi. Akan tetapi, beberapa kanker tertentu tidak menyebabkan peningkatan ini. Beberapa keadaan tertentu pada tubuh juga dapat meningkatkan CA-125 ini, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti uji sampel dengan biopsi.

Mengobati kista ovarium
Untuk mengobati kista ovarium, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Menunggu dan observasi. Pasien akan diperiksa kembali setelah satu sampai tiga bulan untuk melihat perubahan ukuran kista
  • Tindakan operasi. Tindakan ini dilakukan jika kista pada indung telur tidak menghilang setelah beberapa bulan, bahkan membesar, atau mencurigakan pada saat pemeriksaan USG. Pembedahan juga dilakukan apabila terjadi rasa nyeri, atau pada wanita pasca menopause
  • Lebih lanjut, pembedahan dapat dilakukan dengan cara laparoskopi atau laparotomi. Laparoskopi menjadi pilihan apabila kista berukuran sedang dan tidak tampak ganas saat pemeriksaan USG. Dengan pembiusan umum, luka-luka kecil dibuat di perut untuk memasukkan peralatan laparoskopi untuk melihat dan membuang kista tersebut
  • Laparotomi adalah pembedahan dengan sayatan yang lebih besar. Hal ini dilakukan bila kista berukuran besar atau jika diduga ada keganasan. Selama operasi, kista dapat diperiksa untuk memastikan berpotensi kanker atau tidak. Jika ternyata ganas (kanker), dokter harus membuang indung telur beserta jaringan lain di sekitarnya, seperti rahim dan kelenjar-kelenjar getah bening di perut
  • Pil KB. Pada kista ovarium tertentu, dokter dapat memberi pil kontrasepsi untuk mencegah terjadinya nyeri. Hal ini akan mengurangi kemungkinan timbulnya kista baru

dr. Aswin Wisaksono Sastrowardoyo, Sp.OG

Spesialis Obstetri dan Ginekologi
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Rabu, 24 Jan 2018

Menjaga Kesehatan Kewanitaan

Read More
Health Articles Jumat, 24 Peb 2017

Anyang-anyangan Saat Hamil, Berbahayakah?

Read More
Health Articles Selasa, 19 Nov 2019

Nyeri Haid: Kenali yang Normal dan Tidak Normal

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor