Radang Tenggorokan pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Tips Menanganinya

Oleh Tim RS Pondok Indah

Rabu, 26 Juni 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Radang tenggorokan pada anak bisa menyebabkan ia tidak mau makan dan demam. Untuk menghindarinya, simak informasi mengenai radang tenggorokan pada anak di sini!

Radang Tenggorokan pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Tips Menanganinya

Radang tenggorokan, yang istilah medisnya faringitis, sebenarnya tidak hanya kondisi yang dialami oleh anak. Semua orang bisa mengalami radang tenggorokan, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.

Tetapi, ketika radang tenggorokan terjadi pada anak, berbagai gejalanya akan membuat anak merasa tidak nyaman. Anak akan mengalami demam, menjadi lebih rewel dan tidak mau makan ketika tenggorokannya meradang. Pada kondisi ini, orang tua tentu merasa sedih, bingung, dan frustasi.


Namun, tidak usah bingung lagi, karena artikel ini akan membantu menjelaskan beberapa informasi penting tentang radang tenggorokan pada anak. Dengan begitu, orang tua pun bisa mengetahui tips dan langkah penanganan yang harus dilakukan untuk buah hati tercinta.


Mengenal Radang Tenggorokan pada Anak

Peradangan (inflamasi) adalah mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing. Proses alami pertahanan tubuh ini ditandai dengan 5 tanda khas peradangan, yakni dolor (nyeri), kalor (panas atau hangat), tumor (bengkak), rubor (kemerahan), dan fungsio lesa (terganggunya fungsi tubuh).


Peradangan bisa terjadi pada bagian tubuh mana pun yang mengalami kontak dengan benda asing, termasuk kuman penyebab penyakit. Salah satu bagian tubuh yang sering mengalami peradangan adalah tenggorokan.


Radang tenggorokan tidak memandang usia dan jenis kelamin, siapa pun bisa mengalami kondisi ini. Hanya saja, radang tenggorokan pada anak sedikit lebih rumit, karena si kecil cenderung belum dapat mengutarakan keluhan yang ia rasakan.


Selain itu, salah satu gejala radang tenggorokan yang menyebabkan nyeri tenggorokan bisa membuat anak sulit, bahkan tidak mau, makan. Kondisi ini yang kemudian membuat orang tua merasa frustasi dan bingung.





Gejala Radang Tenggorokan pada Anak 

Sama seperti gejala peradangan secara umum, radang tenggorokan pada anak juga memunculkan gejala yang kurang lebih sama. Beberapa gejala tersebut meliputi:


  • Suara serak
  • Batuk, pilek, hidung mampet, mata terasa gatal atau mata berair
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri menelan, yang bisa menyebabkan anak tidak nafsu makan bahkan tidak mau makan maupun minum sama sekali
  • Tenggorokan terlihat lebih merah ketika anak membuka mulutnya
  • Amandel juga terlihat membengkak dan lebih merah saat diperiksa
  • Pembengkakan, atau terkadang nyeri, kelenjar getah bening di leher
  • Leher terasa hangat saat disentuh
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot atau badan terasa pegal linu
  • Sakit telinga, pada anak yang belum bisa bicara biasa akan terlihat anak lebih rewel dan menarik atau memukuli telinganya


Terkadang, anak juga bisa mengalami ruam, mual, bahkan muntah ketika menderita radang tenggorokan. Beberapa anak juga bisa mengalami sakit perut maupun diare.


Baca juga: Si Kecil Mimisan, Berbahayakah?


Penyebab Radang Tenggorokan pada Anak 

Radang tenggorokan pada anak dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus. Namun, penyebab radang tenggorokan pada anak paling sering adalah karena infeksi virus.

Proses penularan biasanya terjadi ketika anak melakukan kontak langsung atau terpapar dengan penderita radang tenggorokan yang lain, baik saat berada di sekolah atau bermain bersama. Virus atau bakteri yang menyebabkan radang tenggorokan akan menyebar melalui percikan air liur yang keluar saat batuk, bersin, maupun berbagi alat makan.


Berikut ini adalah beberapa jenis virus penyebab radang tenggorokan pada anak, serta beberapa penyebab lainnya:


  1. Virus: Rhinovirus, Coronavirus, Adenovirus, Parainfluenza, influenza, Respiratory syncytial virus, Herpes simplex, Epstein-Barr, HIV 
  2. Bakteri: Streptococcus pyogenes (Group A streptococci), Corynebacterium diphtheriae, Arcanobacterium haemolyticum, Neisseria gonorrhoeae
  3. Alergi
  4. Kelembaban udara yang rendah
  5. Asam lambung (GERD)
  6. Zat yang mengiritasi: asap rokok, asap kendaraan bermotor, debu, maupun makanan atau minuman yang terlalu panas
  7. Penggunaan tenggorokan secara berlebih, seperti pada saat anak berteriak atau menangis terlalu lama
  8. Jamur, seperti infeksi jamur kandida
  9. Tumor atau kasus keganasan (kanker)


Selain beberapa penyebab di atas, radang tenggorokan pada anak juga bisa terjadi karena kondisi medis lain, seperti HFMD (penyakit tangan, kaki dan mulut), lupus, dan sindrom Kawasaki.


Radang tenggorokan pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis anak dapat membantu memastikan penyebabnya. Nantinya, dokter akan memberikan penanganan yang sesuai setelah memeriksa dan memastikan kondisi si kecil.



Mengobati Radang Tenggorokan pada Anak

Ketika si kecil mengalami radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi virus, umumnya ia akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1 minggu. Namun, memang ada beberapa kasus yang perlu ditangani langsung oleh dokter.


Penanganan Mandiri

Untuk mempercepat pemulihannya, Anda bisa menerapkan beberapa cara untuk meredakan gejala radang tenggorokan pada anak, seperti berikut ini:


  • Pastikan anak beristirahat dengan cukup
  • Cukupi kebutuhan cairannya dengan memberikan minum air putih, jus, ataupun teh hangat yang dicampur dengan madu
  • Berikan anak makanan bergizi seimbang, dengan tekstur yang lembek dan suhu tidak terlalu panas, serta tidak terasa asam maupun asin
  • Jauhkan anak dari zat-zat yang bisa mengiritasi tenggorokannya, termasuk asap rokok maupun debu yang mungkin menumpuk pada sudut-sudut rumah.
  • Kenali penyebab atau pemicu radang tenggorokan pada anak, lalu hindari atau jauhkan ia dari penyebabnya. Misalnya, bila alergi merupakan penyebab radang tenggorokan anak, maka jauhkan anak dari hal-hal yang memicu alergi, seperti bulu hewan peliharaan, debu pada boneka maupun perabot rumah yang lama tidak dibersihkan.
  • Penggunaan pelembab udara (humidifier) juga bisa dilakukan jika kamar tidur anak maupun rumah memiliki kelembaban udara yang rendah


Baca juga: Sariawan Atau Kanker Mulut? Menengok Perbedaan Sariawan dan Kanker Mulut


Penanganan Medis

Bila radang tenggorokan pada anak tidak membaik dalam semalam, demam tinggi, atau menyebabkan anak tidak bisa makan dan minum sama sekali, segera periksakan ia ke dokter spesialis anak. Penanganan dari dokter akan membuat anak makin cepat terbebas dari keluhan, dan dapat kembali aktif.


Sebelum memutuskan obat yang sesuai, dokter akan memastikan penyebabnya dengan menanyakan keluhan dan gejala yang ditunjukkan si kecil. Dokter kemudian akan memeriksa langsung kondisi anak. Hasil pemeriksaan keduanya kemudian dipastikan dengan pemeriksaan penunjang berupa tes darah dan swab tenggorokan.


Pemberian obat akan disesuaikan dengan usia, keparahan gejala yang dialami anak, serta kondisi kesehatannya secara umum. Tujuan pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi penyebab radang tenggorokan pada anak, sekaligus meredakan keluhan yang ia alami. Beberapa obat yang diresepkan untuk mengatasi penyebab peradangan pada tenggorokan meliputi obat antibiotik, antijamur, maupun obat asam lambung.


Sedangkan untuk meredakan beberapa keluhan yang dialami si kecil, dokter bisa saja meresepkan obat pereda demam, antiperadangan, maupun multivitamin atau penambah nafsu makan, bila diperlukan. Pengobatan yang tepat sangat diperlukan agar tidak terjadi komplikasi dari radang tenggorokan pada anak.


Baca juga: Katakan Tidak untuk Dehidrasi pada Anak!


Di RS Pondok Indah, dokter spesialis anak akan memeriksa si kecil dan memberikan penanganan untuk mengatasi radang tenggorokan yang tengah dialaminya. Semua fasilitas dan pelayanan kami upayakan untuk mendukung pemulihan anak lebih cepat. Jadi, jangan ragu untuk memeriksakan si kecil ke dokter spesialis anak di RS Pondok Indah cabang terdekat ketika ia mengalami gejala yang menyerupai keluhan radang tenggorokan pada anak.



Referensi:

  1. Pellegrino R, Timitilli E, et al,. Acute pharyngitis in children and adults: descriptive comparison of current recommendations from national and international guidelines and future perspectives. European Journal of Pediatrics. 2023. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10746578/). Diakses pada 25 Juni 2024. 
  2. Robinson JL. Paediatrics: how to manage pharyngitis in an era of increasing antimicrobial resistance. Drugs in Context. 2021. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8007209/). Diakses pada 25 Juni 2024.
  3. Sykes EA, Wu V, Beyea MM, Simpson MT, Beyea JA. Pharyngitis: Approach to diagnosis and treatment. Canadian Family Physician. 2020. (https://www.cfp.ca/content/cfp/66/4/251.full.pdf). Diakses pada 25 Juni 2024.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Faringitis. (https://perpustakaan.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2023/09/Kemenkes-RI-Faringitis.pdf). Direvisi terakhir 23 Agustus 2023. Diakses pada 25 Juni 2024.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 5 Penyebab Radang Tenggorokan. (https://ayosehat.kemkes.go.id/5-penyebab-radang-tenggorokan). Direvisi terakhir 17 Maret 2022. Diakses pada 25 Juni 2024.
  6. Centers for Disease Control and Prevention. Sore Throat Basics. (https://www.cdc.gov/sore-throat/about/index.html). Direvisi terakhir 17 April 2024. Diakses pada 25 Juni 2024.
  7. Cleveland Clinic. Sore Throat. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8274-sore-throat-pharyngitis). Direvisi terakhir 8 November 2022. Diakses pada 25 Juni 2024/
  8. Mayo Clinic. Sore Throat. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sore-throat/diagnosis-treatment/drc-20351640). Direvisi terakhir 10 Juni 2021. Diakses pada 25 Juni 2024.