Hidrokel: Buah Zakar Bengkak pada Bayi

Wednesday, 19 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Hidrokel adalah kondisi di mana skrotum atau buah zakar membengkak karena akumulasi cairan, umumnya dapat terjadi pada pria usia berapapun, termasuk anak-anak.

Hidrokel: Buah Zakar Bengkak pada Bayi

Hidrokel adalah kondisi di mana skrotum atau buah zakar membengkak karena akumulasi cairan. Kondisi ini bisa terjadi pada segala kelompok usia, termasuk anak dan bayi.


Testis atau buah zakar merupakan bagian penting dari sistem reproduksi laki-laki yang dibungkus oleh kantong skrotum dan terletak tepat di bawah pangkal penis. Organ ini berfungsi untuk memproduksi sperma dan hormon testosteron bagi tubuh. 


Normalnya, skrotum akan teraba kendur, lembut, dan padat tetapi tidak keras. Hidrokel akan membuat skrotum teraba lunak seperti balon yang berisi air akibat penumpukan cairan di kantung tipis yang menyelimuti buah zakar (testis). Cairan tersebut akan menyebabkan pembengkakan skrotum pada anak, tetapi hidrokel biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.


Umumnya, hidrokel pada bayi laki-laki terjadi saat anak baru lahir, terutama bayi prematur dan akan sembuh sendiri saat anak berusia 6 bulan hingga 1 tahun.


Klasifikasi Hidrokel pada Anak

Berdasarkan sumber cairannya, hidrokel pada anak dan bayi dapat dibedakan menjadi:


1. Hidrokel Non-Komunikan

Jenis hidrokel non-komunikan terjadi ketika celah di antara rongga perut dan skrotum (kanal inguinal) menutup, tetapi cairan di dalam skrotum tidak terserap oleh tubuh.


2. Hidrokel Komunikan

Jenis hidrokel komunikan terjadi ketika kanal inguinal tidak menutup sehingga cairan dari rongga perut terus mengalir ke dalam skrotum dan dapat naik kembali ke perut. Hidrokel komunikan dapat disertai hernia inguinalis.


Baca juga: Kriptorkismus: Testis Tidak Turun pada Bayi, Ketahui Penanganannya!


Gejala Hidrokel pada Anak

Gejala hidrokel pada anak dapat ditunjukkan sebagai beberapa gejala berikut:

  • Benjolan atau pembengkakan yang kenyal dan tidak nyeri
  • Skrotum yang mengecil di malam hari ketika berbaring telentang



Memastikan Diagnosis Hidrokel pada Anak

Dokter akan melakukan wawancara singkat kepada orangtua terkait kondisi anak dan riwayat kesehatannya, seperti keluhan utama, riwayat kelahiran, riwayat pertumbuhan, ataupun riwayat penyakit dan pengobatan.

 

Melalui pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan memeriksa kondisi genital anak, seperti benjolan atau pembengkakan pada skrotum, perubahan tekstur, dan warna skrotum. Benjolan yang ditemukan pada skrotum bisa saja mengindikasikan anak menderita hidrokel maupun hernia. Keduanya dibedakan dengan tes transiluminasi.


Tes transiluminasi dilakukan dengan memberikan cahaya pada skrotum dan melihat apakah terjadi penumpukan cairan (hidrokel) atau pembengkakan disebabkan oleh massa yang padat. Apabila dicurigai hidrokel, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti USG untuk memastikan kondisi skrotum anak. 


Baca juga: Kelainan Perkembangan Alat Kelamin Si Kecil


Apakah Hidrokel pada Bayi Bisa Sembuh?

Ya, hidrokel pada bayi umumnya bisa sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi medis. Kebanyakan kasus hidrokel pada bayi baru lahir akan menghilang dalam waktu satu tahun pertama kehidupan.


Hidrokel yang bertahan lebih lama dari itu atau menyebabkan ketidaknyamanan mungkin memerlukan penanganan medis, tetapi prognosisnya tetap sangat baik. Dengan perawatan yang tepat dan pemantauan berkala oleh dokter, bayi dengan hidrokel dapat sembuh sepenuhnya dan tidak mengalami komplikasi jangka panjang.


Orang tua tidak perlu khawatir berlebihan, tetapi penting untuk tetap mengikuti saran medis dan memastikan bayi menjalani pemeriksaan rutin untuk memantau perkembangan hidrokel dan kesehatan secara keseluruhan.


Cara Mengatasi Hidrokel pada Bayi

Tatalaksana hidrokel pada anak akan disesuaikan dengan gejala dan kesehatan umum anak. Secara garis besar, berikut adalah pilihan penanganannya:


  • Pemantauan berkala untuk kasus hidrokel non-komunikan, karena biasa akan hilang dengan sendirinya ketika anak mencapai umur 1 tahun, di mana cairan skrotum terserap kembali ke dalam tubuh. 
  • Operasi untuk mencegah hernia pada kasus hidrokel komunikan. Operasi yang disebut sebagai hidrokelektomi ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil pada selangkangan dan mengalirkan cairan yang terkumpul pada kantung skrotum. 
  • Aspirasi cairan, di mana dokter akan mengambil cairan yang terkumpul pada kulit skrotum menggunakan jarum suntik, tetapi metode ini sudah lebih jarang digunakan karena risiko infeksi yang lebih tinggi dan rasa nyeri pada anak. 


Meskipun hidrokel bukan merupakan penyakit yang serius dan tidak mengakibatkan kemandulan, hidrokel yang menetap dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi dan tumor yang mempengaruhi produksi sperma. 


Baca juga: Mikropenis, Kenali Penyebab dan Penanganannya



Kapan Memeriksakan Hidrokel pada Anak ke Dokter

Orangtua sebaiknya perlu memeriksa secara berkala kondisi anak yang mengalami hidrokel. Bila didapati salah satu dari kondisi berikut, jangan menunda untuk memeriksakan anak ke dokter spesialis anak maupun dokter spesialis urologi:


  • Pembengkakan skrotum terjadi secara mendadak dan cepat
  • Anak lebih rewel karena pembengkakan skrotum terasa nyeri
  • Hidrokel yang tidak menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 1 tahun