Apakah Hipertensi (Darah Tinggi) Bisa Sembuh?

Oleh Tim RS Pondok Indah

Rabu, 12 Juni 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Hipertensi tidak bisa disembuhkan total. Tapi, darah tinggi bisa dikontrol agar tidak menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Mari ketahui lebih lanjut di sini!

Apakah Hipertensi (Darah Tinggi) Bisa Sembuh?

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan salah satu kondisi medis yang tidak asing. Namun, peningkatan tekanan darah seringkali dianggap kondisi yang sepele, karena tidak bergejala sampai telah terjadi komplikasi. Satu-satunya cara memastikan kondisi ini adalah dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah.


Bila memang terjadi peningkatan tekanan darah, bahkan sudah dinyatakan menderita hipertensi oleh dokter, maka kontrol dan pengobatan rutin wajib dilakukan. Tujuan dari pengobatan ini adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi.


Sayangnya, tak jarang penderita hipertensi hanya mengonsumsi obat jika bergejala, yang umumnya dikeluhkan sebagai sakit kepala. Padahal, sakit kepala ini mungkin adalah komplikasi dari hipertensi, bukan gejalanya. Kebanyakan pasien menghentikan obat juga karena merasa sudah sembuh. Lalu, apakah hipertensi bisa sembuh?


Mari kita bahas lebih lanjut tentang hipertensi, agar Anda maupun orang terkasih bisa terhindar dari kondisi ini bahkan komplikasinya!


Mengenal Hipertensi

Pengukuran tekanan darah memberikan gambaran besarnya kekuatan darah menekan pembuluh darah. Normalnya hasil pengukuran tekanan darah adalah 90-120/60-80 mmHg. Bila didapatkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 130/80 mmHg atau lebih, kondisi ini sudah dapat digolongkan ke dalam hipertensi. Karena peningkatan tekanan darah tidak memiliki gejala, sering kali penderitanya mengabaikan kondisi ini, hingga terjadi komplikasi.


Padahal, tekanan darah yang tinggi tanpa pengobatan untuk waktu lama akan menyebabkan robekan kecil pada pembuluh darah, yang akhirnya bisa menyebabkan serangan jantung maupun gagal jantung.


Baca juga: Apakah Penyakit Jantung Bisa Sembuh? Penyakit Jantung dan Upaya Pencegahannya


Apakah Hipertensi (Darah Tinggi) Bisa Sembuh?

Sayangnya, hipertensi atau penyakit darah tinggi tidak bisa disembuhkan total. Akan tetapi, hipertensi dapat dikontrol supaya tidak bertambah parah dan menyebabkan komplikasi. Penderita hipertensi dapat mengontrol kondisi darah tinggi ini dengan menjaga gaya hidup sehat dan rutin kontrol ke dokter.


Sebaliknya, hipertensi bisa kambuh dan menjadi lebih parah apabila penderita hipertensi tidak mengelola gaya hidup mereka. Oleh karena itu, penderita hipertensi harus mengelola tekanan darah mereka dengan baik untuk mencegah komplikasi serius.


Supaya tidak berlarut-larut dan mengganggu aktivitas Anda, rencanakan janji temu dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di RS Pondok Indah guna menangani hipertensi, maupun keluhan yang menyertainya. Selain mendapatkan penanganan, dokter juga bisa memberikan saran yang sesuai dengan kondisi Anda.


Baca juga: Pertolongan Pertama Serangan Jantung yang Harus Dipahami



Jenis-Jenis Hipertensi

Secara umum, jenis hipertensi bisa dibedakan menjadi 2, yakni primer dan sekunder. Namun, ada juga beberapa jenis hipertensi yang terjadi karena dipicu kondisi tertentu. Berikut ini adalah beberapa jenis hipertensi yang perlu Anda ketahui:


1. Hipertensi Primer

Hipertensi primer adalah terjadinya peningkatan tekanan darah tanpa penyebab yang jelas atau tidak disebabkan oleh kondisi medis lain. 


2. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder, peningkatan tekanan darah terjadi karena penyakit lain yang sebelumnya sudah terlebih dahulu diderita, seperti penyakit ginjal yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder.


3. Hipertensi Jas Putih

Hipertensi jas putih (white coat hypertension), peningkatan tekanan darah hanya terjadi saat diperiksa oleh tenaga medis atau diperiksa di fasilitas kesehatan.


4. Hipertensi Tersamarkan

Hipertensi tersamarkan (masked hypertension), hasil pemeriksaan tekanan darah hanya meningkat saat diperiksa di rumah, sedangkan saat di rumah sakit atau di fasilitas kesehatan, hasilnya normal.


5. Hipertensi Saat Tidur

Hipertensi saat tidur malam (nocturnal hypertension), peningkatan tekanan darah yang terjadi hanya saat tidur di malam hari.


Terkadang, hipertensi primer dan sekunder bisa terjadi bersamaan. Maksudnya, seseorang mungkin saja sudah mengalami hipertensi primer, mengalami perburukan atau tekanan darahnya makin meningkat karena mengalami komplikasi dari penyakit yang lain.


Baca juga: Deteksi Dini Kelainan Jantung pada Dewasa Muda


Gejala Hipertensi

Gejala hipertensi sering kali tidak spesifik, sehingga banyak orang tidak menyadari mereka menderita kondisi ini. Bahkan, terkadang penderita hipertensi tidak merasakan gejala apapun bahkan saat tekanan darah mereka mencapai tingkat yang sangat tinggi. Karena itu, hipertensi sering disebut sebagai silent killer.


Secara umum, berikut adalah gejala hipertensi yang mungkin muncul:


  • Pusing dan sakit kepala parah
  • Sesak napas
  • Mimisan
  • Kulit memerah (terutama pada wajah dan leher)
  • Nyeri dada
  • Gangguan penglihatan


Baca juga: Penyakit Jantung Koroner, Kenali Gejalanya


Penyebab Hipertensi

Sebenarnya penyebab hipertensi primer tidak diketahui secara pasti, karena merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Beberapa penyebab terseringnya, antara lain:


  • Pola makan tidak sehat, termasuk konsumsi makanan cepat saji, makanan yang tinggi lemak jenuh, dan makanan yang tinggi garam.
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein atau beralkohol.
  • Tidak rutin berolahraga, dan lebih banyak duduk atau yang lebih dikenal dengan pola hidup sedenter.
  • Mengalami kelebihan berat badan, bahkan obesitas.
  • Menderita gangguan tidur (terutama insomnia) atau kurang tidur
  • Memiliki keluarga dengan riwayat hipertensi


Sedangkan untuk hipertensi sekunder, setidaknya ada 1 faktor medis yang bisa diidentifikasi oleh dokter. Beberapa hal yang dapat menyebabkan hipertensi tersebut adalah sebagai berikut ini:


  • Konsumsi obat-obatan tertentu, termasuk pil kontrasepsi, obat antiperadangan non-steroid, dan obat untuk menekan kekebalan tubuh.
  • Perokok aktif.
  • Mengalami gangguan ginjal.
  • Menderita penyakit kronis, seperti apnea tidur obstruksi dan diabetes


Baca juga: Hipertensi: The Sillent Killer yang Perlu Anda Waspadai


Faktor Risiko Hipertensi

Selain itu ada juga beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya hipertensi, yakni:


  • Berusia lebih dari 64 tahun
  • Sedang mengalami stres yang berat
  • Kehamilan
  • Menderita gangguan hormon
  • Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan
  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap tekanan darah tinggi
  • Tidak melakukan olahraga teratur
  • Mengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak secara rutin
  • Mengonsumsi banyak kopi atau minuman kafein lain
  • Kebiasaan merokok
  • Kurang tidur atau mengalami kesulitan tidur


Baca juga: Cara Agar Tekanan Darah Normal dan Terjaga


Penanganan Hipertensi

Sebelum mengobati hipertensi, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik, yang didukung dengan beberapa pemeriksaan tambahan. Bila semua hasil pemeriksaan tersebut menegaskan bahwa kondisi yang Anda alami termasuk hipertensi, barulah dokter akan menyarankan penanganan hipertensi yang sesuai.


Secara umum tujuan penanganan hipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah dan menjaganya tetap normal. Untuk mencapai tekanan darah normal, umumnya dokter akan menyarankan perubahan gaya hidup. Obat antihipertensi juga akan diresepkan oleh dokter, tergantung dari hasil tekanan darah saat pemeriksaan, faktor risiko yang dimiliki, serta beberapa kondisi lain. 


Berikut ini adalah beberapa bentuk penanganan hipertensi atau tekanan darah tinggi yang mungkin disarankan dokter:


1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Perubahan gaya hidup yang disarankan untuk penanganan hipertensi bisa Anda lakukan dengan menerapkan beberapa tips berikut: 


  • Menerapkan pola hidup sehat, terutama mengurangi asupan makanan yang tinggi garam, tinggi lemak jenuh
  • Mengonsumsi makanan sehat yang tinggi serat, vitamin, dan mineral, seperti sayur dan buah
  • Lebih banyak melakukan aktivitas fisik, termasuk berolahraga secara teratur
  • Menjaga berat badan sehat atau menurunkan berat badan untuk yang memiliki berat badan berlebih maupun obesitas
  • Berhenti merokok bagi mereka yang masih merupakan perokok aktif
  • Mengurangi konsumsi minuman berkafein dan beralkohol


2. Rutin Kontrol ke Dokter

Setelah menerapkan beberapa saran penanganan dari dokter, Anda tetap perlu melakukan kontrol rutin ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Sebab penyakit hipertensi tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dijaga agar tetap terkontrol. Tujuan menjaga tekanan darah tetap terkontrol adalah supaya tidak terjadi komplikasi. Jadi, meskipun tekanan darah sudah normal atau tidak merasakan keluhan, jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter. 


3. Melakukan Pemeriksaan Penunjang Lain

Selain kontrol rutin, dokter juga bisa menyarankan CT-Scan jantung maupun pemeriksaan penunjang lain untuk skrining komplikasi dari hipertensi yang Anda derita.


Pemeriksaan lanjutan dapat membantu mendeteksi penyakit jantung dan komplikasi lainnya secara dini. Dengan begitu, Anda dapat menjaga kondisi kesehatan dan mencegah munculnya penyakit lain.


Baca juga: Hasil CT-Scan Jantung, Ini yang Harus Diketahui


RS Pondok Indah tidak hanya memiliki dokter spesialis yang kompeten, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas medis terkini untuk memberikan pelayanan terbaik bagi kesehatan Anda dan orang terkasih. Jadi, jangan ragu untuk mulai memeriksakan tekanan darah di RS Pondok Indah cabang terdekat.




Referensi:

  1. Al-Makki A, DiPette D, et al,. Hypertension pharmacological treatment in adults: a World Health Organization guideline executive summary. Hypertension. 2022. (https://www.ahajournals.org/doi/epub/10.1161/HYPERTENSIONAHA.121.18192). Diakses pada 26 Mei 2024.
  2. World Health Organization. Hypertension. (https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension). Direvisi terakhir 16 Maret 2023. Diakses pada 26 Mei 2024.
  3. American Heart Association. What is High Blood Pressure? (https://www.heart.org/en/health-topics/high-blood-pressure/the-facts-about-high-blood-pressure/what-is-high-blood-pressure). Direvisi terakhir 20 Mei 2024. Diakses pada 26 Mei 2024.
  4. Cleveland Clinic. High Blood Pressure (Hypertension). (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4314-hypertension-high-blood-pressure). Direvisi terakhir 5 Januari 2023. Diakses pada 26 Mei 2024.
  5. Mayo Clinic. High blood pressure (hypertension). (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410). Direvisi terakhir 19 Februari 2024. Diakses pada 26 Mei 2024.