Close
Close Language Selection
Health Articles

Mengenal Konstipasi, Si Pengganggu Saluran Cerna

Kamis, 25 Peb 2021
Mengenal Konstipasi, Si Pengganggu Saluran Cerna

Pernah mengalami gangguan buang air besar (BAB) kurang dari 3 kali dalam seminggu? Itu namanya konstipasi. Selain membuat Anda tak nyaman, hati-hati jika tidak diatasi segera, karena gangguan ini dapat membahayakan saluran cerna Anda.

Konstipasi atau sembelit adalah gangguan buang air besar (BAB) yang ditandai dengan berkurangnya frekuensi BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu, perasaan sulit saat BAB, atau kombinasi keduanya. Konstipasi atau sembelit bukanlah suatu penyakit, namun merupakan gejala yang dirasakan oleh pasien. Konstipasi dapat terjadi pada atau akibat suatu penyakit. Namun lebih banyak yang tidak diketahui penyebabnya.  

Konstipasi dapat dibagi menjadi konstipasi akut dan konstipasi kronik. Perbedaan dari kedua jenis konstipasi tersebut adalah lamanya konstipasi yang dirasakan. Pada konstipasi akut, gejala dirasakan kurang dari tiga bulan, sedangkan pada konstipasi kronik, gejala dirasakan lebih dari tiga bulan. Konstipasi sering juga disebut IBS (irritable bowel syndrome – sindrom iritasi usus besar), padahal sebenarnya keduanya berbeda. IBS adalah penyakit pada saluran cerna yang ditandai nyeri perut dan gangguan pola BAB. IBS dapat memiliki indikasi konstipasi, namun dapat pula menunjukkan gejala diare.

Penyebab dan gejala konstipasi
Sebagian penyebab konstipasi memang tidak dapat diketahui secara pasti. Konstipasi yang tidak diketahui penyebabnya disebut juga konstipasi primer. Faktor risiko yang berperan dalam terjadinya konstipasi primer adalah kurangnya konsumsi serat, kurang cairan (dehidrasi), dan kurangnya aktivitas fisik (imobilisasi). Selain itu, gangguan psikis juga dapat berperan dalam terjadinya konstipasi primer.

Selain itu ada pula konstipasi sekunder. Konstipasi sekunder adalah konstipasi yang disebabkan oleh suatu kondisi tertentu atau adanya penyakit pasien. Berikut beberapa penyebab konstipasi sekunder: 

  • Gangguan mekanik seperti adanya sumbatan di saluran cerna berupa tumor, penyempitan usus, dan luka di area anus
  • Gangguan metabolik, dapat dijumpai pada pasien diabetes mellitus (kencing manis)
  • Gangguan elektrolit
  • Gangguan hormon tiroid
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan persarafan, seperti penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, atau kelumpuhan saraf
  • Mengonsumsi obat-obatan yang mengganggu pergerakan saluran cerna seperti vitamin/obat zat besi, golongan opioid, anti depresi, beberapa obat hipertensi, dan beberapa jenis obat lainnya 

Konstipasi juga kerap terjadi pada ibu hamil. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hormon, kurangnya aktivitas fisik, akibat mengonsumsi obat penambah zat besi, ataupun kurangnya asupan serat dan cairan.

Gejala konstipasi yang biasa dirasakan antara lain:

  • Berkurangnya frekuensi BAB, kurang dari 3 kali dalam satu minggu
  • Harus mengedan saat BAB
  • Perasaan tidak puas saat BAB, dapat disertai perasaan kembung atau penuh di perut
  • Feses keras, atau harus menggunakan obat pencahar supaya feses menjadi lunak

Ada baiknya Anda berkonsultasi secara langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam apabila mengalami salah satu gejala tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar gejala konstipasi tidak berlanjut ke arah yang serius.   

Cara mengatasi konstipasi
Cara yang paling utama untuk mengatasi konstipasi adalah mencukupi asupan serat, asupan cairan, dan melakukan aktivitas fisik (seperti olahraga). Menghindari stres psikis juga dapat membantu memperbaiki konstipasi. Beberapa obat pencahar dapat membantu mengatasi konstipasi. Terapi alternatif lain yang dapat membantu mengatasi konstipasi seperti terapi massage (pijat) dan akupunktur. Apabila konstipasi terus berlanjut, sebaiknya berkonsultasi langsung dengan dokter untuk mencari tahu penyebab lain yang mungkin membutuhkan terapi khusus. Hal ini karena seringkali pasien yang mengalami konstipasi kurang perhatian dengan keluhannya, sehingga apabila terdapat penyakit penyebab konstipasi, penyakit tersebut dapat menjadi lebih berat dan lebih sulit ditangani.

Beberapa tanda waspada yang harus menjadi perhatian adalah apabila konstipasi disertai dengan penurunan berat badan, anemia, dan konstipasi terjadi pada orang yang berusia di atas 50 tahun. Selain itu, sebaiknya Anda juga berhati-hati apabila  mengalami nyeri perut yang berat serta memiliki riwayat penyakit radang usus atau kanker usus. Walaupun belum dapat dibuktikan dengan pasti melalui penelitian, konstipasi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus. Komplikasi lain yang dapat terjadi akibat konstipasi yang berlangsung lama adalah hemoroid (ambeien), sumbatan feses yang menyebabkan cedera atau perdarahan saluran cerna (termasuk perdarahan hemoroid), luka area anus, ketergantungan obat pencahar, kesulitan buang air kecil, sampai infeksi saluran kemih berulang, hernia, dan pada wanita dapat mengakibatkan kerusakan dasar panggul yang dapat mengakibatkan prolaps (turun peranakan). 

Makanan dan minuman yang perlu dihindari
Beberapa makanan dapat menjadi faktor pencetus konstipasi. Sebaiknya hindari makanan berlemak tinggi dan rendah serat seperti mengonsumsi terlalu banyak daging merah. Selain itu hindari pula minuman beralkohol dan asupan kafein. Terlalu banyak mengonsumsi kafein pada kopi dapat menyebabkan diare atau konstipasi. Apalagi jika mengonsumsi kopi disertai kurangnya asupan cairan. Buah pisang, terutama yang belum terlalu matang juga dapat menimbulkan konstipasi. 

Pada dasarnya mencukupi asupan cairan dapat membantu mengatasi konstipasi. Anda dapat memilih cairan bersuhu hangat, karena dapat membantu mengatasi konstipasi dengan memperbaiki pergerakan usus, mengurangi spasme otot saluran cerna dan memperbaiki peristaltik. 

Gangguan konstipasi dapat diatasi dengan berkonsultasi secara langsung dengan dokter umum/dokter spesialis penyakit dalam. Dokter akan menentukan diagnosis dan penanganan tepat atas jenis konstipasi yang Anda alami. 

dr. Franciscus Ari, Sp.PD

Spesialis Penyakit Dalam
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Kamis, 28 Apr 2016

Apa dan Bagaimana Kemoterapi Kanker?

Read More
Health Articles Selasa, 27 Peb 2018

Gendang Telinga Berlubang Perlukah Ditambal?

Read More
Health Articles Selasa, 01 Nov 2016

Cegah Stroke Sekarang!

Read More
Health Articles Jumat, 04 Nov 2016

Nyeri Punggung, Si Pengganggu Aktivitas

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor