Close
Close Language Selection
Health Articles

Batu Empedu Hilang, Sayatan Tak Terpandang

Selasa, 02 Jun 2020
Batu Empedu Hilang, Sayatan Tak Terpandang

Perkembangan teknologi medis dan kesehatan memungkinkan dilakukannya operasi dengan minim bekas luka. Pasien pun tak perlu khawatir dengan bekas luka pascaoperasi, serta lebih cepat untuk kembali beraktivitas.


Operasi menjadi momok tersendiri bagi setiap orang. Bukan hanya bayangan seramnya ruang operasi dengan beragam peralatan yang mengintimidasi pasien, tapi juga bekas luka yang akan terus membekas sepanjang hidup. Luka sayatan bisa membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri hingga berupaya terus menutupi bekas luka. 

Beruntung perkembangan teknologi kesehatan saat ini tidak hanya membuat pemeriksaan menjadi semakin detail, tapi juga meringkas penanganan yang dilakukan. Salah satunya dengan hadirnya Single Incision Laparoscopic Surgery (SILS) atau laparoskopi satu titik. Salah satu pengaplikasian teknologi baru ini adalah untuk penanganan batu empedu. 

Pencerna lemak yang terlampau pekat
Pada tubuh, empedu berfungsi untuk mencerna lemak. Untuk melakukan fungsi itu dengan sempurna, empedu yang dihasilkan oleh hati dibuat menjadi pekat di dalam kantung empedu. Pada beberapa kasus, cairan empedu menjadi terlalu pekat hingga menjadi kristal yang keras. Karena proses pemekatan terjadi di kantung empedu, tak heran jika kristal ini banyak ditemukan di dalam kantung empedu. 

Terdapat beberapa hal yang memungkinkan terjadinya pengkristalan empedu, seperti pemakaian terapi hormon pada wanita menopause, diet penurunan berat badan, kencing manis, diet tinggi lemak, serta obesitas. Kelainan darah juga dapat menyebabkan terjadinya batu empedu. Selain itu, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami batu empedu (20 persen) dibandingkan pria (10 persen).

Saat mengalami batu empedu, penderita akan merasakan beberapa gejala, yaitu nyeri hebat di perut kanan atas yang tembus ke belakang (kolik empedu), perut kembung, cepat kenyang dan mual (sering dikira sakit maag), nyeri perut kanan atas yang terus-menerus, demam (jika sudah terjadi peradangan pada kantung empedu/kolesistitis akut), mata dan kulit berwarna kuning, serta kencing seperti teh (bila sudah ada penyumbatan pada saluran empedu).

Satu titik, minim luka
Pada awalnya, penanganan batu empedu dilakukan dengan operasi terbuka (open cholecystectomy). Tetapi, karena banyaknya komplikasi/morbiditas dari tindakan tersebut, dikembangkanlah operasi dengan teknik sayatan kecil (laparoscopy surgery). Mulanya, teknik yang mulai digunakan pada 1985 ini dilakukan dengan membuat 3–4 sayatan sebesar lubang kunci. Seiring waktu, teknologi di dunia medis berkembang. Dan pada 1997, Navarra memperkenalkan teknik yang disebut laparaskopi satu titik. Teknik baru ini menjadi alternatif untuk meminimalkan komplikasi akibat sayatan operasi.

Selain hanya meninggalkan bekas luka yang sangat minim (hampir tidak terlihat), karena hanya membuat satu sayatan kecil, pasien yang ditangani dengan teknik ini pun akan semakin nyaman karena minimnya rasa nyeri pascaoperasi, masa perawatan di rumah sakit yang lebih singkat, serta lebih cepat untuk dapat kembali beraktivitas. 

dr. Eko Priatno, Sp.B.SubBDig

Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif
RS Pondok Indah - Puri Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Rabu, 21 Okt 2015

Vaksin Hepatitis A untuk Anak

Read More
Health Articles Kamis, 16 Jan 2020

Lindungi Pernapasan dari Gangguan di Udara

Read More
Health Articles Jumat, 27 Des 2019

Implan Gigi Sebagai Investasi

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor