Kriptorkismus: Testis Tidak Turun pada Bayi, Ketahui Penanganannya!

Wednesday, 19 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Kriptorkismus adalah kondisi medis dimana testis tidak turun pada bayi laki-laki. Kelainan bawaan ini harus cepat ditangani agar tidak berisiko di masa depan.

Kriptorkismus: Testis Tidak Turun pada Bayi, Ketahui Penanganannya!

Walaupun pada sebagian kasus bisa membaik dengan sendirinya, testis tidak turun pada bayi tetap harus ditangani dengan cepat agar tidak menyebabkan komplikasi di masa depan.

Undesensus testis (UDT), atau kriptorkismus adalah kondisi kelainan bawaan berupa kegagalan testis atau buah zakar untuk turun ke posisinya di skrotum atau kantong kulit yang tergantung di bawah penis. Kondisi ini dapat terjadi sebelum kelahiran, biasanya hanya satu testis yang gagal turun. 


Mengenal Kriptorkismus Atau Kondisi Testis Tidak Turun pada Bayi

Testis tidak turun, atau kriptorkismus pada bayi dapat terjadi pada 1–3% bayi laki-laki yang lahir cukup bulan dan pada 15–30% bayi laki-laki yang prematur atau dengan berat badan lahir rendah. Meski lebih sering terjadi pada salah satu testis (unilateral), sekitar 30% kasus UDT juga bisa terjadi pada kedua testis (bilateral).   


Kurang lebih 70% kasus UDT dapat didiagnosis melalui perabaan pada pemeriksaan fisik. Lokasi tersering terabanya testis bayi yang tidak turun adalah di kanalis inguinalis (72%), supraskrotal (20%), dan intraabdomen (8%).


Biasanya testis tidak turun pada bayi dapat sembuh dengan sendirinya dalam 6 bulan pertama kehidupan. Sering kali testis masih dapat turun secara spontan pada usia 3–6 bulan. Bila sampai usia 6 bulan atau 1 tahun testis tidak kunjung turun, operasi akan dilakukan untuk mengembalikan posisi testis. Sebab jika tidak segera ditangani, UDT dapat menyebabkan kemandulan hingga berisiko menjadi kanker testis di kemudian hari.


Baca juga: Kelainan Testis pada Anak Laki-laki


Penyebab Testis Tidak Turun pada Bayi

Penyebab testis tidak turun pada bayi belum diketahui secara pasti hingga sekarang. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang diduga berpengaruh, antara lain:


  • Faktor genetik (keturunan)
  • Kondisi kesehatan selama kehamilan
  • Gangguan hormon
  • Kelainan fisik dan saraf 


Ada pula faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kriptorkismus pada bayi laki-laki, seperti paparan asap rokok dan konsumsi alkohol pada ibu yang sedang mengandung. Akan tetapi, penyebab kriptorkismus masih belum bisa dipastikan.


Baca juga: Hidrokel Pada Anak, dan Informasi yang Perlu Orang Tua Ketahui


Memastikan Testis Tidak Turun pada Bayi 

Proses penurunan testis dapat tertunda atau terhenti, yang dapat terjadi di sepanjang jalur penurunan yang seharusnya, atau di luar jalur penurunan yang seharusnya (ektopik). Jika tidak teraba pada pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang tambahan seperti:



Lokasi UDT perlu diketahui karena akan mempengaruhi pemilihan teknik operasi yang akan digunakan. Selain itu, UDT juga perlu dibedakan dengan agenesis testis atau vanishing testis, ketika organ testis pasien memang tidak terbentuk. 


Selain itu, perlu dipahami juga bahwa testis yang tidak turun masih bisa ditunggu hingga bayi berusia sekitar enam bulan. Tetapi, apabila testis masih belum turun sempurna setelah enam bulan, maka bayi membutuhkan penanganan dari dokter spesialis urologi.


Baca Juga: Kelainan Perkembangan Alat Kelamin Si Kecil



Cara Mengatasi Testis Tidak Turun pada Bayi 

Awalnya, terapi hormon sering dilakukan untuk mengatasi testis tidak turun pada bayi. Namun, metode ini mulai ditinggalkan karena efek samping dan angka keberhasilannya yang rendah. Sebagai gantinya, tindakan operasi orkidopeksi yang memiliki angka keberhasilan hingga 92% lebih banyak digunakan. Guna mencapai angka ini, operasi sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia 1,5 tahun. 


Operasi orkidopeksi juga bisa mengurangi risiko terjadinya kemandulan, kanker testis, testis terpuntir (torsio), dan hernia inguinalis atau lebih sering dikenal dengan turun berok pada kemudian hari. 


Adapun pendekatan operasi ordikopeksi untuk mengatasi testis tidak turun pada bayi berdasarkan lokasi testisnya, antara lain:


  1. Testis yang tidak turun teraba pada kanalis inguinalis akan dilakukan dengan membuat sayatan di area lipatan paha (inguinal) pasien untuk mencapai testis yang tidak turun ke skrotum secara sempurna untuk kemudian memindahkan testis ke dalam skrotum.
  2. Testis yang berada di dalam rongga perut, biasanya orkidopeksi akan diawali dengan eksplorasi rongga perut menggunakan kamera (laparoskopi). Pada beberapa kasus UDT dalam rongga perut, operasi orkidopeksi perlu dikerjakan bertahap sehingga memerlukan dua operasi terpisah.


Baca juga: Mikropenis, Kenali Penyebab dan Penanganannya


Tidak ada upaya khusus untuk mencegah testis tidak turun pada bayi. Namun, menerapkan pola hidup sehat dan rutin melakukan kontrol selama kehamilan dapat menurunkan risiko terjadinya masalah kesehatan ini. Deteksi awal UDT dapat dilakukan oleh orang tua dengan memeriksa skrotum anak dan memeriksakan ke dokter spesialis anak jika skrotum tampak kosong atau tidak teraba testis pada skrotum.