Mengenal Laparoskopi, Penanganan Batu Empedu

Wednesday, 19 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Mengulas keunggulan bedah minimal invasive untuk menangani batu empedu dengan luka operasi lebih kecil sehingga rasa nyeri minimal.

Mengenal Laparoskopi, Penanganan Batu Empedu

Pernah mengalami nyeri hebat di perut bagian atas? Sebagian orang sering kali menyangka ini hanya sakit perut biasa, bahkan tak jarang menganggapnya sebagai sakit lambung. Padahal, jika rasa sakit ini sudah disertai dengan mual atau demam, bisa jadi ini merupakan tanda adanya batu di saluran atau kantong empedu.


Batu empedu adalah salah satu kondisi kesehatan yang cukup umum dialami banyak orang tetapi sering kali diabaikan. Kondisi ini terjadi ketika kristal-kristal kecil terbentuk di dalam kantong empedu, yakni organ kecil di bawah hati yang berfungsi menyimpan cairan empedu dari hati.


Apa Penyebab Batu Empedu?

Batu empedu dapat terbentuk karena beberapa alasan. Salah satunya adalah ketika kadar kolesterol atau bilirubin di dalam cairan empedu berada dalam jumlah yang melebihi batas. Kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:


Obesitas

• Usia

• Perubahan hormonal (misalnya penggunaan terapi hormon atau pil kontrasepsi)

• Riwayat keluarga atau genetika

• Penyakit tertentu seperti diabetes, sirosis hati, atau penyakit Crohn


Tak ketinggalan, pola makan tinggi lemak dan rendah serat juga berkontribusi terhadap risiko pembentukan batu empedu.


Baca juga: Wanita Lebih Rentan terhadap Batu Empedu


Bagaimana Cara Menangani Batu Empedu?

Apabila kondisi batu empedu telah menunjukkan gejala-gejala yang mengganggu keseharian dan dapat berakibat fatal nantinya, maka perlu dilakukan pembedahan sebagai langkah pengobatan penyakit ini. Terdapat dua metode yang digunakan untuk menangani batu empedu, yaitu laparoskopi dan open surgery.  


Metode Minimal Invasive Surgery (Laparoskopi)

Laparoskopi merupakan tindakan pembedahan dengan sayatan yang lebih kecil dan proses pemulihan yang lebih cepat. Tindakan ini merupakan pilihan yang paling sering direkomendasikan untuk menangani masalah batu empedu.


Metode Open Surgery (Laparotomy)

Laparotomy merupakan metode yang melakukan sayatan atau irisan yang lebih panjang. Dalam kasus tertentu, misalnya sudah terjadi perlengketan hebat organ empedu atau bahkan bernanah dan gagal ditangani dengan metode laparoskopi, maka metode open surgery lebih disarankan.


Baca juga: Hindari Batu Empedu


Keunggulan Bedah Minimal Invasive

Bedah minimal invasive atau laparoskopi, menjadi pilihan yang populer karena kelebihannya. Dengan hanya membuat sayatan kecil, proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat, rasa sakit yang dirasakan juga lebih minim, dan risiko komplikasi dari luka operasi pun berkurang. Operasi ini biasanya dilakukan dengan anestesi umum dan memerlukan persiapan khusus, seperti pemeriksaan darah dan konsultasi dengan dokter spesialis.


Proses Bedah Minimal Invasive

Dalam prosedur laparoskopi, pasien akan diberikan anestesi umum. Dokter akan menggunakan alat laparoskopi yang dilengkapi kamera. Penggunaan kamera ini membantu dokter untuk lebih mudah melihat kondisi kantong empedu tanpa harus membuat luka atau sayatan yang besar.


Saat pelaksanaannya, akan dilakukan sedikit sayatan, biasanya hanya tiga hingga empat sayatan kecil, termasuk satu di sekitar pusar untuk memasukkan kamera. Proses operasi ini berlangsung sekitar satu jam.


Baca juga: Batu Empedu Hilang, Sayatan Tak Terpandang


Pemulihan Pasca Bedah Minimal Invasive

Setelah operasi, pasien biasanya perlu menghabiskan 1-2 malam di rumah sakit. Kemudian, pasien juga perlu melakukan pemulihan di rumah selama 1-2 hari, baru setelah itu aktivitas normal sudah dapat dilakukan. Namun, pasien disarankan untuk menghindari olahraga berat untuk sementara waktu.


Selain itu, sangat penting bagi pasien untuk menerapkan pola makan rendah lemak. Misalnya seperti gorengan dan makanan yang mengandung santan. Komitmen pasien untuk menerapkan pola makan ini akan sangat membantu meminimalkan potensi terjadinya komplikasi dan membantu pemulihan menjadi jauh lebih cepat.


Meskipun relatif jarang terjadi, komplikasi seperti pendarahan, infeksi, dan cedera pada saluran empedu berpotensi dialami oleh pasien pasca operasi. Namun tak perlu khawatir, karena risiko ini diminimalkan dengan penggunaan teknologi laparoskopi.


RS Pondok Indah Group telah terakreditasi paripurna oleh Joint Commission Internasional (JCI) dan menerapkan standar GCI (Good Clinical Practice), yang berarti bahwa semua alat yang digunakan dalam prosedur laparoskopi adalah alat steril sekali pakai. Hal ini berguna untuk menghindari risiko kontaminasi silang dari pasien satu ke pasien lain. Hal ini juga menjadi salah satu komitmen RS Pondok Indah Group untuk menjamin tingkat keamanan dan higienitas dalam prosedur bedah.