Apakah Batu Ginjal Bisa Sembuh Sendiri?

Thursday, 18 July 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Sekitar 80% batu ginjal dapat keluar sendiri, tetapi butuh waktu. Untuk batu yang tidak dapat keluar sendiri, perlu pengobatan Medical Expulsive Therapy (MET).

Apakah Batu Ginjal Bisa Sembuh Sendiri?

Apa Itu Penyakit Batu Ginjal?

Penyakit batu ginjal merupakan kondisi terbentuknya endapan keras yang menyerupai batu di saluran kemih. Batu ini berasal dari mineral dan garam yang terbentuk di ginjal. Keberadaan batu pada ginjal tentu saja tidak diinginkan oleh siapa pun, mengingat bahwa ginjal merupakan organ yang berfungsi untuk melakukan penyaringan darah serta menyeimbangkan kadar mineral dan garam dalam tubuh. 


Proses pembentukan batu ginjal terjadi saat kadar mineral dan garam di dalam urine memiliki konsentrasi yang tinggi, sehingga dapat mengkristal dan membentuk batu ginjal. Setelah itu, batu ginjal tersebut akan turun menyumbat ureter, sehingga menghambat aliran urine. 


Baca Juga: Batu Ginjal Masalah Utama Saluran Kencing


Penyebab Batu Ginjal

Batu ginjal merupakan masalah pada organ ginjal yang disebabkan oleh peningkatan kadar zat kimia pembentuk kristal dalam urine, seperti asam urat, kalsium fosfat, dan kalsium oksalat. Zat-zat ini sulit larut dalam cairan urine.


Apabila zat-zat tersebut terus mengendap, mereka dapat membentuk kristal yang menyerupai batu di dalam ginjal. Selain itu, batu ginjal juga dapat terbentuk akibat kurangnya zat yang mencegah pembentukan kristal dalam urine.


Selain faktor-faktor tersebut, ada juga risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami batu ginjal:


1. Riwayat Keluarga

Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami batu ginjal, maka risiko seseorang terkena batu ginjal akan meningkat.


2. Kurang Minum Air Putih

Konsumsi air yang kurang dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk melarutkan mineral dalam urine.


3. Pola Makan Tinggi Garam

Mengonsumsi makanan dengan kadar garam yang tinggi dapat berkontribusi pada pembentukan batu ginjal.


4. Obesitas

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.


Baca Juga: Ragam Penanganan Batu Ginjal


Gejala Batu Ginjal 

Apabila terdapat penyakit batu ginjal, umumnya seseorang akan mengalami gejala: 


  • Nyeri hebat mendadak dan hilang timbul di punggung atau perut bawah 
  • Nyeri samar atau nyeri tumpul seperti sakit perut yang terus-menerus 
  • Nyeri saat berkemih 
  • Kencing berdarah 
  • Nyeri menjalar ke perut bawah, atas paha, dan testis 
  • Mual dan muntah 
  • Demam dan menggigil 
  • Urine keruh dan berbau 


Namun, sering kali batu ginjal juga bersifat asimtomatik (tidak menimbulkan gejala) karena batu yang berukuran kecil tidak menghambat aliran urine dan tidak menimbulkan infeksi. Apabila sudah mulai merasakan gejala-gejala batu ginjal, maka harus segera diatasi.


Beberapa komplikasi yang dapat timbul jika penyakit batu ginjal tidak ditangani adalah kekambuhan timbulnya batu ginjal, nyeri berulang, sumbatan pada saluran kemih, gangguan fungsi ginjal, dan infeksi saluran kemih. 


Apakah Batu Ginjal Berbahaya?

Ya, batu ginjal bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Batu ginjal yang kecil mungkin dapat keluar dari tubuh tanpa menyebabkan masalah serius, namun batu yang lebih besar dapat menyebabkan nyeri hebat, infeksi saluran kemih, atau bahkan kerusakan ginjal. 


Baca Juga: Penanganan Batu Saluran Kemih Tanpa Sayatan



Cara Mendeteksi Batu Ginjal 

Untuk mengetahui seseorang mengalami batu ginjal, dibutuhkan diagnosis oleh dokter spesialis urologi. Sejumlah tes dan prosedur diagnosis yang akan dijalankan antara lain: 


1. Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat kondisi medis yang menyebabkan terbentuknya batu dan ada tidaknya komplikasi akibat batu ginjal.


2. Pemeriksaan Urine

Melalui pemeriksaan urine, dapat dilihat adanya infeksi dan perdarahan. Sedangkan pemeriksaan urine 24 jam bertujuan untuk mengetahui kadar mineral dan garam dalam urine yang diperlukan untuk mencegah terbentuknya batu ginjal yang berulang.


3. Pemeriksaan Pencitraan Radiologi

Pencitraan radiologi dapat berupa pemeriksaan X-ray, USG saluran kemih, dan CT-Scan urografi.


4. Analisis Batu

Dilakukan pada batu yang telah keluar guna melihat penyebab terbentuknya batu.


Baca Juga: Menangani Batu Ginjal Minim Nyeri dengan ESWL


Cara Mengatasi / Menghilangkan Batu Ginjal 

Saat ini terdapat sejumlah pilihan penanganan yang disesuaikan berdasarkan gejala dan karakteristik batu seperti letak, posisi, ukuran, dan kekerasan batu. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kondisi medis dan preferensi pasien. 


Beberapa langkah penanganan yang umum dilakukan untuk menyembuhkan pasien batu ginjal di antaranya adalah: 


Terapi Konservatif 

Langkah pertama ini dilakukan dengan memperbanyak minum air putih dan pemberian obat-obatan. Obat yang dimaksud antara lain obat yang menyebabkan relaksasi ureter untuk mempermudah keluarnya batu, serta obat pelarut batu, antinyeri, dan antimual yang diberikan sesuai indikasi.


Terapi ini dapat dilakukan jika batu ginjal masih berukuran kecil dengan diameter kurang dari 5 milimeter. Diharapkan dengan terapi konservatif ini batu tersebut dapat keluar sendiri melalui urine. Jadi, jika batu masih berukuran kecil, memang masih memungkinkan jika batu ginjal dapat sembuh dengan sendirinya. 


Tindakan Non-Invasif 

Batu ginjal juga dapat ditangani dengan tindakan non-invasif atau tindakan tanpa pembedahan dengan menggunakan teknik Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) yaitu penembakan gelombang kejut menggunakan mesin hingga batu pecah menjadi fragmen yang lebih kecil agar bisa keluar melalui urine. 


Prosedur Bedah Minimal Invasive 

Pilihan tatalaksana batu ginjal juga dapat dilakukan dengan prosedur bedah minimal invasive yaitu tanpa sayatan atau dengan sayatan kecil. Jika dibandingkan dengan tindakan bedah konvensional, teknik ini memiliki angka kesuksesan yang tinggi, risiko komplikasi yang lebih rendah, masa pemulihan lebih singkat, dan dapat mengurangi waktu rawat inap pasien. 


Contoh tindakan minimal invasive untuk mengatasi batu ginjal adalah Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dan Miniaturized PCNL, yaitu dengan membuat sayatan kecil melalui kulit di pinggang atau punggung, kemudian memasukkan alat di mana batu akan dipecah dan disedot keluar setelah menjadi serpihan kecil. 


Prosedur Operasi Tanpa Sayatan 

Selain itu, juga ada pilihan prosedur operasi batu ginjal tanpa sayatan dengan menggunakan Ureterorenoscopy (URS) atau Retrograde Intra Renal Surgery (RIRS). Dokter akan menggunakan teleskop kecil dengan lensa atau kamera yang dimasukkan melalui saluran kemih bawah untuk mendeteksi batu ginjal, lalu batu dipecahkan dengan laser. 


Baca Juga: Mitos dan Fakta Kesehatan Ginjal Anak



Apakah Batu Ginjal dapat Sembuh Sendiri? 

Sekitar 80% batu ginjal dapat keluar sendiri, tetapi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Batu ginjal yang kecil dapat keluar dengan mudah terbawa arus urine. Gejala yang muncul pun bersifat sementara. 


Namun, untuk beberapa kasus batu kecil yang tidak dapat keluar sendiri, maka diperlukan pengobatan yang disebut Medical Expulsive Therapy (MET), misalnya dengan mengonsumsi obat-obatan golongan α-blocker. 


Metode lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengonsumsi dissolving agents untuk batu yang terdiri dari asam urat. Kemolitolisis oral didasarkan pada alkalinisasi urin dengan aplikasi alkaline citrate atau sodium bicarbonate. Terapi ini harus disertai dengan konsumsi air putih yang banyak agar batu lebih mudah larut. 


Ciri-ciri Batu Ginjal Hancur atau Sembuh


Nyeri Berkurang

Salah satu tanda utama bahwa batu ginjal mulai hancur adalah berkurangnya rasa nyeri. Rasa sakit yang disebabkan oleh batu ginjal sering kali sangat intens dan terlokalisasi di punggung bawah atau perut bagian bawah. Ketika batu mulai hancur dan keluar, nyeri ini biasanya akan berkurang secara bertahap.


Perubahan Warna Urine

Urine yang berubah warna bisa menjadi indikasi bahwa batu ginjal sedang hancur. Warna urine mungkin berubah menjadi lebih keruh atau merah muda akibat adanya partikel batu yang larut dan darah yang mungkin keluar bersama batu tersebut. Perubahan ini biasanya bersifat sementara.


Meningkatnya Frekuensi Buang Air Kecil

Ketika batu ginjal mulai hancur, Anda mungkin merasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya. Hal ini terjadi karena partikel batu yang hancur mulai bergerak turun menuju kandung kemih dan dikeluarkan melalui urine.


Nyeri Saat Buang Air Kecil

Selain peningkatan frekuensi buang air kecil, Anda mungkin juga mengalami nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil. Ini bisa disebabkan oleh partikel batu ginjal yang melewati saluran kemih.


Munculnya Butiran Kecil dalam Urine

Salah satu tanda paling jelas bahwa batu ginjal hancur adalah munculnya butiran kecil atau pasir dalam urine. Ini menunjukkan bahwa batu telah hancur menjadi partikel-partikel kecil yang dapat dikeluarkan dari tubuh.


Perubahan Gejala Sistemik

Beberapa orang mungkin juga mengalami gejala sistemik seperti demam atau menggigil jika ada infeksi yang terkait dengan batu ginjal. Namun, saat batu ginjal mulai hancur dan keluar, gejala ini mungkin mulai mereda.


Hasil Pemeriksaan Medis

Pemeriksaan medis seperti ultrasound atau CT scan dapat menunjukkan bahwa batu ginjal telah hancur atau berkurang ukurannya. Dokter mungkin juga melakukan tes urine untuk memeriksa adanya partikel batu dalam urine.


Apakah Batu Ginjal dapat Terulang Kembali di Kemudian Hari? 

Lebih dari separuh pasien yang mengalami batu ginjal, akan mengalaminya lagi dalam lima tahun ke depan. Oleh karena itu, setelah batu ginjal keluar sendiri atau dikeluarkan, dokter akan menentukan apakah batu ginjal berisiko tinggi kambuh kembali dengan melakukan analisis batu. 


Apabila risiko kekambuhan rendah, perubahan gaya hidup sudah lebih dari cukup untuk mengurangi risiko pembentukan batu baru. Namun, jika seseorang memiliki risiko kambuh kembali yang tinggi, maka dokter akan menjalankan serangkaian tes darah dan urine yang disebut evaluasi metabolik.


Selanjutnya, dokter akan merekomendasikan tindakan pencegahan atau pemeriksaan lebih lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. 


Agar kejadian serupa tidak terulang, maka sangat penting melakukan pencegahan dengan mengubah diet dan mengonsumsi obat tertentu. Beberapa cara lainnya yang bisa dilakukan adalah: 


  • Minum cukup air setiap hari 
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur 
  • Mengurangi makanan yang tinggi oksalat 
  • Mengurangi asupan protein hewani 
  • Mengonsumsi asupan kalsium dengan jumlah yang tepat 
  • Mengurangi asupan garam 



Apabila Anda mengalami tanda-tanda seperti yang telah disebutkan di atas, segera konsultasikan diri Anda kepada Dokter Spesialis Urologi di RS Pondok Indah untuk tindakan pencegahan lanjutan. Anda juga dapat membuat janji temu secara online dari RS Pondok Indah secara praktis dan fleksibel, kapan pun dan di mana pun Anda berada.