Close
Close Language Selection
Health Articles

Mewaspadai Keputihan

Kamis, 04 Jun 2015
Mewaspadai Keputihan

Mendengar istilah ‘keputihan’, yang terbayang adalah tayangan iklan produk obat keputihan dengan adegan ibu-ibu yang sedikit malu-malu bercerita pada temannya terkait masalah yang dialaminya. Sebenarnya, apa itu keputihan? Siapa saja yang bisa terkena keputihan? Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Apakah keputihan bisa dicegah?

Dalam istilah medis, keputihan dikenal dengan Fluor Albus atau Leucorrhea. Istilah ini merujuk pada saat wanita mengeluarkan cairan yang berlebihan (selain darah) dari kemaluannya. Cairan keputihan dapat berasal dari rongga rahim, leher rahim, vagina, atau vulva yang mengalami masalah.

Keputihan bisa terjadi pada bayi yang baru lahir hingga remaja; pada usia subur, maupun yang sudah menopause. Penyebab keputihan bisa karena fisiologis (tidak memerlukan pengobatan) seperti yang terjadi pada bayi yang baru lahir sampai berusia 10 hari. 

Pada remaja yang sudah mendekati masa haid, keputihan terjadi karena pengaruh hormon estrogen dari ovarium yang sudah dipengaruhi hormon dari hipofise. Pada wanita subur terjadi rangsangan kelenjar leher rahim yang mengeluarkan lendir cair untuk membantu sperma masuk ke rahim.

Jika mengalami rangsangan seksual, mereka akan mengeluarkan cairan banyak dari kelenjar-kelenjar yang ada di vagina. Pada yang fisiologis, biasanya berupa lendir yang mengandung banyak epitel dengan sel darah putih (leukosit) yang jarang. Sementara pada yang patologis, terdapat banyak sel darah putih.

Penyebab keputihan yang banyak terjadi adalah infeksi. Sering memakai celana dalam dari bahan yang sulit menyerap keringat (nylon/polyester) atau celana yang terlalu ketat sangat berpotensi menyebabkan keputihan karena dapat melembabkan daerah kemaluan dan mengubah keasaman vagina.

Keputihan juga bisa terjadi karena hubungan seksual dengan pasangan yang membawa kuman atau jamur. Penyebab lain bisa karena adanya benda asing yang sengaja dipakai oleh wanita, seperti alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) atau pesarium untuk mengatasi rahim turun pada wanita yang tidak mau atau tidak mungkin operasi.

Untuk mengetahui secara pasti penyebab keputihan, dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan cara mengambil sampel dari cairan keputihan. Ada 2 macam cara pemeriksaan: langsung dan pembiakan (kultur dan resistensi tes). Namun, pemeriksaan ini perlu waktu. 

Berdasarkan pengalaman klinis, penampilan gejala dan keluhan yang dirasakan pasien bisa memberi arah pengobatan. Pada wanita menopause, epitel vagina sangat tipis sehingga mudah terkena infeksi dan bisa menimbulkan keputihan yang gatal dan pedih. 

Pengobatannya memerlukan hormon estrogen. Keganasan dari leher rahim juga dapat menimbulkan keluhan keputihan yang berbau karena adanya jaringan mati dari jaringan kanker.

Tips mencegah keputihan

  • Hindari pemakaian sabun atau apapun di sekitar kemaluan yang bisa berisiko alergi atau iritasi
  • Hindari celana ketat
  • Kenakan celana dalam yang terbuat dari katun dan cuci dengan detergen tanpa pewangi
  • Sering ganti pembalut
  • Jangan menggunakan tampon
  • Basuh kemaluan dari depan ke arah belakang untuk menghindari ikutnya bakteri dari anus
  • Hati-hati menggunakan antibiotika; harus sesuai anjuran

Beberapa jenis kuman penyebab keputihan

  • Trichomonas vaginalis

Termasuk jenis parasit; menyebabkan timbulnya keputihan yang cair sampai kental, berwarna kekuningan, agak berbau, dan membuat penderita merasakan gatal dan panas. Bisa juga menimbulkan infeksi di uretra (saluran kemih). Gejalanya sakit dan sering berkemih.

Untuk mengatasi infeksi trikomonas, dipakai obat jenis Metronidazol. Selain pada penderita (wanita), pengobatan juga perlu diberikan pada pasangannya (laki-laki) untuk mencegah reinfeksi.

  • Candida albicans

Termasuk jenis jamur. Infeksinya menimbulkan gejala berupa cairan yang berwarna putih dan sangat gatal. Pengobatan bisa dengan Preparat Nystatyn dalam bentuk tablet minum atau tablet vaginal, Ketokonazol, dan Fluconazol.

  • Haemophilus vaginalis

Termasuk basil kecil; menyebabkan keluarnya cairan putih keabu-abuan (kadang kekuningan), berbau, dan menyebabkan rasa gatal. Pengobatan bisa dengan antibiotika derivat Ampisilin. Pengobatan dilakukan juga untuk pasangannya.

Masih banyak jenis bakteri lain penyebab keputihan, seperti Stafilokok, Streptokokus, Gonorea, Coli, yang pengobatannya harus dengan antibiotika yang sesuai.

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor