Penyebab dan Cara Mengatasi Diare Pada Bayi

Rabu, 15 Mei 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Gastroenteritis atau penyakit diare akut pada bayi pasti membuat orang tua khawatir. Mari kenali penyebab dan cara mengatasi diare pada bayi di sini.

Penyebab dan Cara Mengatasi Diare Pada Bayi

Diare pada bayi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup banyak terjadi di negara tropis, seperti Indonesia. Kondisi ini lebih berbahaya, karena daya tahan tubuhnya masih lebih lemah dibandingkan dengan orang dewasa. Selain karena daya tahan tubuh, diare pada bayi juga lebih berisiko menyebabkan terjadinya dehidrasi, yang juga bisa membahayakan keselamatan si kecil. 


Penyakit diare di dunia merupakan penyebab kematian kedua tertinggi pada anak balita, dan menyebabkan 1,5 – 2 juta kematian setiap tahun. Hal serupa juga ditemukan dalam data Riskesdas 2013 yang memaparkan bahwa diare merupakan penyebab kematian tertinggi sekaligus menjadi penyebab gagal tumbuh balita di Indonesia. Lima provinsi dengan kejadian diare tertinggi adalah Aceh, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Banten.


Oleh karena itu, mengenali penyebab dan berbagai upaya penanganan diare pada bayi perlu diketahui orang tua.


Pengertian Diare

Diare adalah gangguan buang air besar (BAB) yang ditandai dengan adanya perubahan konsistensi tinja menjadi lembek, bahkan cair, serta peningkatan frekuensinya (biasanya lebih dari tiga kali) dalam sehari. 


Frekuensi BAB lebih dari 4 kali sehari masih tergolong normal untuk bayi yang menerima ASI eksklusif, selama berat badannya meningkat dengan baik. Kondisi ini merupakan intoleransi laktosa sementara, akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna bayi. 


Dikatakan diare pada bayi yang menerima ASI eksklusif apabila frekuensi BAB meningkat atau konsistensinya berubah menjadi cair. Jadi, meskipun frekuensi BAB kurang dari tiga kali sehari, tetapi konsistensinya cair, bayi dianggap mengalami diare. 


Baca Juga: Pencernaan Sehat, Tumbuh Kembang Anak Optimal


Penyebab Diare Pada Bayi

Secara umum, penyebab diare pada bayi bisa dikelompokkan menjadi 6, yaitu:


  1. Infeksi, baik oleh bakteri, virus, maupun parasit, merupakan penyebab diare tersering. Virus, terutama rotavirus merupakan penyebab utama (60-70 persen) diare pada anak. Hal ini yang melandasi peraturan wajib imunisasi rotavirus bagi bayi berusia 1–3 bulan. Selain rotavirus, infeksi bakteri Escherichia coli menjadi penyebab kedua tersering diare di negara berkembang, baik bagi orang dewasa maupun anak.
  2. Malabsorpsi atau gangguan penyerapan makanan pada saluran cerna.
  3. Alergi.
  4. Keracunan.
  5. Imunodefisiensi, atau menurunnya kemampuan sistem imun untuk melawan penyakit dan infeksi.
  6. Penyebab lainnya.


Diare adalah penyebab utama malnutrisi pada anak di bawah 5 tahun. Kondisi ini bahkan yang menjadi penyebab anak meninggal dunia akibat diare. Sebab malnutrisi akan menyebabkan anak lebih rentan terkena diare. Namun, setiap episode diare juga akan membuat malnutrisi menjadi lebih parah. 


Pemeriksaan darah lengkap pada diare akut biasanya tidak diperlukan, kecuali pada penderita dengan dehidrasi berat atau diare dengan penyakit penyerta. Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita diare. 



Penanganan dan Cara Mengatasi Diare Pada Bayi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan WHO menetapkan Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang terdiri dari:


1. Rehidrasi dengan cairan rehidrasi oral formula baru

Formula lama dibuat saat terjadinya kejadian luar biasa (KLB) disentri di Asia Selatan yang menyebabkan lebih banyak kehilangan elektrolit tubuh, terutama natrium. Seiring dengan perbaikan higienitas dan sanitasi masyarakat, maka diare yang seringkali dijumpai belakangan ini lebih banyak diakibatkan oleh virus yang tidak menyebabkan kehilangan elektrolit (kalsium, klorida, magnesium, fosfat, kalium, dan natrium) sebanyak diare akibat disentri. 


Oleh karena itu, dikembangkanlah cairan rehidrasi baru yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipernatremia (rasa haus, lemah, mual dan lain-lain), mengurangi secara signifikan pemberian cairan melalui intravena, mengurangi pengeluaran tinja, dan mengurangi kejadian muntah.


2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

Zinc merupakan salah satu zat gizi yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Kadar zinc dalam tubuh akan menurun dalam jumlah besar ketika anak mengalami diare. Pemberian zinc mampu menggantikan kandungan zinc alami tubuh yang hilang tersebut dan mempercepat penyembuhan diare. 


Zinc juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare.


Baca Juga: Yuk, Kenali Penyakit yang Rentan Terjadi pada Balita!


3. Pemberian ASI dan makanan tetap diteruskan

Bayi berusia kurang dari 6 bulan sebaiknya tetap mendapat ASI eksklusif selama diare. Apabila si kecil menginginkan lebih banyak ASI dan makanan daripada biasanya, itu akan lebih baik karena akan membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan, dan mencegah malnutrisi. Lakukan hal ini sampai dua minggu setelah diare berhenti. 


Bagi anak yang berusia kurang dari 2 tahun, dianjurkan untuk mengurangi konsumsi susu formula dan menggantinya dengan ASI. Sedangkan bagi anak yang berusia lebih dari 2 tahun, teruskan pemberian susu formula. Ingatkan ibu untuk memastikan anaknya mendapat oralit (yang mengandung air, garam, dan gula) dan air matang.


4. Antibiotik selektif

Antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi, seperti diare berdarah atau diare karena infeksi bakteri kolera, yang dapat membuat diare berlangsung lama. Selain bahaya resistensi kuman, pemberian antibiotik yang tidak tepat bisa membunuh flora normal (bakteri baik) yang justru dibutuhkan tubuh. Efek samping dari penggunaan antibiotik yang tidak rasional adalah timbulnya gangguan fungsi ginjal, hati, dan pengulangan diare.


5. Edukasi orang tua

Penting untuk para ibu untuk memiliki pemahaman mengenai cara pemberian oralit, zinc, ASI, atau makanan untuk si kecil. Waspadai tanda-tanda atau gejala untuk segera membawa si kecil ke fasilitas kesehatan, misalnya jika anak buang air besar cair lebih sering, muntah berulang, mengalami rasa haus yang nyata, makan dan minum yang jauh berkurang, demam, tinja berdarah, dan diare tidak membaik dalam 3 hari. 


Baca Juga: Tanda Saluran Cerna Anak yang Sehat


Kapan Diare pada Bayi Dianggap Berbahaya?

Umumnya, bayi yang mengalami diare ringan dapat sembuh dalam waktu beberapa hari. Akan tetapi, bayi juga berisiko mengalami diare yang cukup kronis dan berbahaya sehingga butuh penanganan segera dari dokter.


Segera periksakan di kecil ke dokter spesialis anak jika diare yang dialami bayi cukup berat dan disertai gejala seperti:


  • Feses berwarna hitam atau putih
  • BAB berdarah atau bernanah
  • Muntah-muntah
  • Lesu
  • Sering rewel dan tampak kesakitan
  • Demam
  • Tidak mau menyusu dan susah makan


Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Saluran Cerna Anak


Selain itu, jika bayi mengalami diare yang cukup berat hingga membuatnya dehidrasi, penanganan langsung oleh dokter perlu segera dilakukan. Waspadai tanda-tanda dehidrasi pada bayi berikut ini:


  • Mulut kering
  • Kulit terlihat lebih kering
  • Tidak mengeluarkan air mata saat menangis
  • Buang air kecil lebih sedikit dari biasanya atau justru tidak sama sekali
  • Terlihat lemas dan sering mengantuk


Penanganan diare pada bayi dan balita yang terjadi secara akut perlu untuk dipahami orang tua. Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dan tidak panik. Selain itu, mari jaga kesehatan si kecil dengan rutin memeriksakannya ke dokter spesialis anak.