Diabetes: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

By Tim RS Pondok Indah

Wednesday, 12 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Diabetes adalah kondisi tingginya gula darah yang kemudian dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Simak jenis, gejala, penyebab, dan penanganan diabetes di sini.

Diabetes: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Diabetes dikenali dengan peningkatan kadar gula darah saat pemeriksaan darah, yang sering kali dilakukan sebagai pemeriksaan rutin maupun karena keluhan kesehatan lainnya. Tingginya kadar gula darah akibat diabetes yang tidak terkontrol bisa menyebabkan komplikasi kesehatan. Untuk mencegahnya, diperlukan penanganan dari beberapa strategi serta perubahan pola hidup.


Bila memang sudah dipastikan menderita diabetes, dokter akan menyarankan beberapa kombinasi penanganan untuk mencegah kondisi menjadi lebih parah serta mencegah komplikasi diabetes yang mungkin terjadi. Salah satu penanganan penting yang disarankan dokter adalah pemeriksaan gula darah secara rutin, yang pastinya diikuti dengan pola hidup sehat. 


Mengenal Penyakit Diabetes

Diabetes, atau yang dikenal dengan istilah kencing manis, ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Namun, tingginya kadar gula darah ini tidak selalu menjadi patokan bahwa Anda adalah penderita diabetes. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan diagnosis penyakit diabetes beserta jenisnya.


Jenis Diabetes

Ada beberapa jenis penyakit diabetes, tetapi yang paling sering terjadi adalah diabetes tipe 1 (diabetes insipidus), diabetes tipe 2 (diabetes mellitus), pre-diabetes, dan diabetes saat hamil (diabetes gestasional).


1. Diabetes Tipe 1 (Diabetes Insipidus)

Diabetes Tipe 1 (Diabetes Insipidus) adalah kondisi peningkatan kadar gula darah akibat penurunan, bahkan tidak adanya, produksi insulin dalam tubuh.


2. Diabetes Tipe 2 (Diabetes Mellitus)

Diabetes Tipe 2 (Diabetes Mellitus), yakni peningkatan kadar gula darah karena sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin (resistensi insulin) sehingga insulin yang dihasilkan tidak bisa digunakan dengan baik. Jadi, tidak ada gangguan produksi insulin pada penderita diabetes tipe 2.


3. Diabetes Gestasional

Diabetes Gestasional merupakan diabetes yang dialami oleh wanita hamil dan bersifat sementara. Kondisi ini terjadi karena perubahan hormon saat kehamilan dapat memicu resistensi insulin dan memicu terjadinya diabetes gestasional.


4. Pre-diabetes

Pre-diabetes adalah kondisi di mana terjadi kadar gula darah (glukosa) meningkat, tetapi belum mencapai ambang batas untuk dianggap sebagai diabetes. Kondisi ini masih dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Akan tetapi, bila tidak cepat ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus.


Baca juga: Cerdas Pantau Diabetes



Penyebab Diabetes

Kandungan gula dalam makanan akan menjadi sumber energi bagi tubuh. Agar bisa dipecah dan diolah menjadi energi, gula memerlukan senyawa pengangkut, berupa insulin. Senyawa yang dihasilkan oleh pankreas ini akan membawa dan menjaga keseimbangan gula darah.


Kekurangan hormon insulin, baik karena penurunan produksinya maupun fungsinya yang kurang optimal, bisa menyebabkan penumpukan gula darah. Kondisi inilah yang dikenal dengan diabetes.


Secara garis besar, diabetes terjadi karena kombinasi dari faktor genetik dan lingkungan. Maksudnya adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab diabetes memang tidak bisa diubah, tetapi kondisi lingkungan maupun gaya hidup juga berperan penting dalam terjadinya kondisi medis ini. Beberapa penyebab diabetes yang perlu Anda ketahui, antara lain:


1. Genetik

Lebih memegang peran penting sebagai penyebab diabetes tipe 1. Mereka yang berasal dari ras tertentu juga diketahui lebih berisiko mengalami diabetes. Selain itu, adanya riwayat diabetes pada keluarga juga akan memperbesar kemungkinan seseorang mengalami diabetes.


Fibrosis kistik dan hemokromatosis, maupun penyakit akibat mutasi genetik yang lain juga bisa menjadi penyebab diabetes. Kondisi ini akan memengaruhi pankreas sehingga produksi hormon insulin pun berkurang.


2. Penyakit Autoimun

Normalnya sistem imun akan menghancurkan sel-sel berbahaya yang menyebabkan penyakit. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan penyakit autoimun, dimana sistem imun salah mengenali sel sehat dan tidak berbahaya dalam tubuh sebagai ancaman untuk kemudian dihancurkan. 


Saat penyakit autoimun menyerang sel pankreas, yang menghasilkan insulin, akan terjadi penurunan produksi insulin, sehingga menyebabkan terjadinya diabetes.


3. Resistensi Insulin

Sel-sel di otot, lemak, dan liver akan menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. Saat sel-sel ini tidak bisa menggunakan atau merespon insulin dengan baik, akan terjadi lonjakan gula darah yang menyebabkan terjadinya diabetes. Kondisi ini adalah penyebab tersering terjadinya diabetes tipe 2.


Baca juga: Kentang atau Nasi Putih, Mana Karbohidrat yang Lebih Baik untuk Diabetes?


4. Gaya Hidup yang Tidak Sehat

Gaya hidup sedenter, atau kurang aktif bergerak, merupakan pola hidup tidak sehat yang bisa memicu terjadinya kelebihan berat badan, bahkan obesitas. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin yang juga merupakan penyebab diabetes. Selain itu, diet atau pola makan yang kurang sehat dan kebiasaan mengonsumsi makanan yang manis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes.


5. Gangguan pada Pankreas

Termasuk operasi pengangkatan pankreas maupun cedera pada pankreas, maupun peradangan pada kelenjar ini, dapat menyebabkan terganggunya produksi insulin yang berujung sebagai diabetes.


6. Kelainan Hormon

Saat terjadi gangguan produksi hormon, bisa saja terjadi resistensi insulin yang menyebabkan terjadinya diabetes. Contoh klasik kondisi ini adalah plasenta saat kehamilan yang menyebabkan resistensi insulin. Selain itu, akromegali dan sindrom Cushing adalah penyakit akibat gangguan hormon, yang juga bisa memicu terjadinya diabetes tipe 2.


7. Konsumsi Obat-Obatan 

Meski sering diresepkan sebagai terapi untuk beberapa kondisi medis maupun keluhan, beberapa obat bisa merusak sel beta pankreas yang memproduksi hormon insulin, maupun mengganggu kerja insulin. Beberapa contoh obat tersebut adalah golongan diuretik, glukokortikoid, anti-kejang, dan obat anti-HIV.


Diabetes bisa disebabkan oleh berbagai faktor, pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu memastikan penyebab dari keluhan yang Anda rasakan saat ini. Nantinya dokter akan memberikan penanganan yang sesuai, setelah memeriksa dan memastikan kondisi Anda.


Baca juga: Gangguan Penglihatan Akibat Diabetes


Gejala Diabetes

Gejala diabetes sebenarnya berbeda-beda, tergantung dari jenis diabetes yang diderita, serta tingginya kadar gula darah. Secara umum, gejala diabetes tipe 1 cenderung terjadi secara cepat dan lebih parah. Sedangkan gejala diabetes tipe 2 sering kali sangat ringan dan memburuk secara perlahan, sehingga tidak disadari penderitanya. Beberapa gejala diabetes yang paling sering dikeluhkan adalah sebagai berikut ini:


  • Lebih cepat lapar
  • Penurunan berat badan yang tidak direncanakan
  • Lebih sering merasa haus
  • Lebih sering buang air kecil
  • Lebih mudah marah atau perubahan ‘mood’ yang drastis
  • Merasa lebih mudah lelah dan lemas
  • Pandangan buram
  • Proses penyembuhan luka lebih lama
  • Infeksi berulang, baik berupa sariawan, infeksi kulit, maupun keputihan (pada wanita)
  • Kesemutan maupun mati rasa (kebas) di tangan atau kaki
  • Ditemukan keton pada pemeriksaan urine, yang merupakan hasil pemecahan otot dan lemak karena tubuh menganggap tidak memiliki pasokan insulin yang cukup


Gejala penyakit diabetes tipe 1 (diabetes insipidus) biasanya dimulai dari saat penderita masih anak-anak atau memasuki masa remaja. Sedangkan untuk diabetes tipe 2 (diabetes melitus), biasanya gejala lebih banyak dikeluhkan saat penderitanya memasuki usia 40 tahun. Namun, gejala diabetes tipe 2 juga bisa terjadi lebih awal, mengingat peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada anak yang terjadi beberapa waktu terakhir. 


Bila Anda mengalami berbagai gejala diabetes di atas, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan dokter. Nantinya, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan apakah Anda menderita diabetes atau tidak. Beberapa pemeriksaan penunjang, seperti tes gula darah puasa, tes gula darah sewaktu, tes toleransi glukosa, dan tes HbA1c (tes kadar gula darah rata-rata), merupakan pemeriksaan yang mungkin disarankan dokter untuk mendiagnosa diabetes.


Baca juga: Peduli dan Kenali Gejala Diabetes Mellitus sejak Dini


Apakah Diabetes Bisa Sembuh?

Saat ini, diabetes tipe 1 tidak bisa disembuhkan. Penderita memerlukan pengobatan insulin seumur hidup untuk mengelola kadar gula darah mereka. Di sisi lain, diabetes tipe 2 tidak dapat sembuh secara permanen, tetapi dapat dikendalikan dengan sangat baik melalui perubahan gaya hidup yang signifikan.


Beberapa individu dengan diabetes tipe 2 telah berhasil mencapai remisi, di mana kadar gula darah mereka kembali ke rentang normal tanpa perlu pengobatan. Ini biasanya dicapai melalui penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan, diet sehat, dan olahraga rutin.


Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa remisi bukan berarti sembuh, karena kondisi ini dapat kembali jika gaya hidup yang mendukung remisi tidak dipertahankan. Oleh karena itu, manajemen jangka panjang dan pemantauan terus-menerus sangat penting bagi semua individu dengan diabetes.



Cara Mengatasi Diabetes

Tujuan penanganan diabetes bukanlah untuk menyembuhkan, tetapi mencegah keparahan serta komplikasi yang mungkin terjadi, termasuk kerusakan saraf (neuropati diabetes), maupun gangguan pembuluh darah, seperti serangan jantung. Langkah penanganan akan disesuaikan dengan jenis diabetes yang diderita. Kombinasi dari beberapa strategi penanganan pun sering dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.


Secara umum, penanganan diabetes meliputi pengontrolan gula darah, pengobatan diabetes baik dengan atau tanpa insulin, serta perubahan pola hidup menjadi lebih sehat. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang penanganan diabetes yang bisa dilakukan:


1. Kontrol Gula Darah

Pemeriksaan gula darah merupakan salah satu cara untuk mengetahui efektivitas pengobatan yang sedang Anda jalani. Frekuensi pemeriksaan dan target kadar gula darah akan disesuaikan dengan kondisi Anda. 


Selain itu, dokter juga bisa menyarankan pemeriksaan HbA1c sebagai rangkaian pemeriksaan gula darah untuk mengetahui rerata kadar gula dalam waktu 2-3 bulan terakhir.


2. Peresepan Obat Antidiabetes

Dokter akan meresepkan obat antidiabetes untuk mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes yang masih bisa menghasilkan insulin, yang kebanyakan adalah pasien diabetes tipe 2 atau prediabetes. Selain itu, dokter juga bisa meresepkan obat yang bekerja untuk mencegah penyerapan maupun pemecahan karbohidrat, meningkatkan sensitivitas insulin di jaringan, serta mencegah penyerapan gula di ginjal. 


3. Penggunaan Insulin

Meski lebih sering digunakan oleh penderita diabetes tipe 1, insulin juga bisa diresepkan untuk penderita diabetes tipe 2. Dokter akan memberikan dosis dan waktu penyuntikan insulin sesuai dengan kondisi Anda. 


Baca juga: Kenali Gejala dan Penanganan Diabetes Mellitus Pada Anak


4. Konsumsi Makanan Sehat

Tidak hanya mengurangi asupan gula, penderita diabetes juga diharapkan untuk memilih asupan yang rendah kalori dan rendah lemak, tetapi kaya nutrisi dan serat. Untuk mencapai pola makan sehat, Anda disarankan untuk lebih banyak mengonsumsi sayur, buah, makanan tinggi protein, serta biji-bijian utuh. 


5. Rutin Berolahraga

Tidak hanya menjaga tubuh tetap bugar, rutin berolahraga akan membuat tubuh lebih sensitif terhadap insulin, sehingga kadar insulin yang dibutuhkan lebih sedikit untuk mengolah gula menjadi energi. Anda bisa melakukan aktivitas fisik dan olahraga sebanyak 5x dalam seminggu selama 30 menit setiap kalinya. Lakukan aktivitas fisik dengan intensitas rendah seperti jalan kaki, berenang, atau bersepeda.


6. Tidak Merokok

Diabetes sendiri bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, dalam jangka panjang. Merokok juga memiliki risiko serupa, yang bila dilakukan oleh penderita diabetes akan mempercepat terjadinya penyempitan bahkan kerusakan pembuluh darah.


Selain beberapa penanganan di atas, dokter juga bisa menyarankan operasi bariatrik dan transplantasi pankreas, bila memang diperlukan untuk mengontrol gula darah penderita diabetes. Menghentikan konsumsi minuman beralkohol, menjaga berat badan ideal, serta kontrol tekanan darah maupun kadar kolesterol juga penting untuk mencegah komplikasi maupun keparahan diabetes.


Baca juga: Tetap Sehat dan Bahagia dengan Diabetes


Diabetes bukanlah kondisi medis yang bisa diatasi dengan sekali pengobatan saja. Kontrol rutin dengan dokter spesialis penyakit dalam, lakukan pemeriksaan dan tes gula darah secara rutin, dan penerapan pola hidup sehat memegang peran penting dalam keberhasilan pengendalian kondisi ini. Tidak hanya aspek fisik, evaluasi psikis penderita diabetes pun menjadi poin penting yang akan dilakukan dokter saat kontrol rutin.



Referensi:

  1. Hur KY, Moon MK, et al,. 2021 clinical practice guidelines for diabetes mellitus in Korea. Diabetes & metabolism journal. 2021. (https://synapse.koreamed.org/articles/1147890). Diakses pada 10 Mei 2024.
  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Managing Diabetes. (https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/managing-diabetes). Direvisi terakhir Oktober 2023. Diakses pada 10 Mei 2024 .
  3. Cleveland Clinic. Diabetes. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/7104-diabetes). Direview terakhir 17 Februari 2023. Diakses pada 10 Mei 2024.
  4. Mayo Clinic. Diabetes. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetes/symptoms-causes/syc-20371444). Direvisi terakhir 27 Maret 2024. Diakses pada 10 Mei 2024.
  5. National Health Services. Diabetes. (https://www.nhs.uk/conditions/diabetes/). Direvisi terakhir 6 Maret 2023. Diakses pada 10 Mei 2024.