Close
Close Language Selection
Health Articles

Terhindar dari Nyeri Pinggang

Kamis, 24 Jan 2019
Terhindar dari Nyeri Pinggang

Nyeri pinggang tidak hanya mengganggu kenyamanan saat beraktivitas. Jika tidak cepat ditangani, kondisi ini dapat merembet ke saraf bahkan menyebabkan kelumpuhan.

Bekerja di kantor, berada di depan layar seharian, memaksa banyak orang untuk duduk dalam waktu yang lama. Sayangnya, tidak jarang orang duduk dengan posisi yang kurang ergonomis. Itulah salah satu penyebab dari nyeri pinggang (low back pain, LBP). Bisa dikatakan, permasalahan ini dapat terjadi pada semua orang. Menurut WHO, 85 persen penduduk dunia berpotensi mengalami LBP. Selain duduk terlalu lama, sering mengangkat berat (terlebih dengan cara yang salah), hingga gemar melakukan olahraga high-impact (sepakbola, bola basket, bulu tangkis, dan lainnya) juga menjadi penyebab terjadinya LBP.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang kondisi ini, perlu dipahami yang dimaksud dengan LBP. Pain (nyeri) merupakan pengalaman tidak nyaman yang terkait dengan sensori/fungsional dan kerusakan jaringan. Sementara, yang dimaksud low back adalah bagian punggung bawah atau pinggang (dengan batasannya dari tulang iga belakang terbawah sampai lipatan bokong).

Kondisi emosional mendapat penekanan penting dalam penanganan LBP. Terdapat dua kategori di mana LBP perlu ditangani secara khusus, yaitu yellow flag dan red flag. Pada yellow flag, pasien sebenarnya masih bisa beraktivitas, tapi karena masalah psikologis pasien tidak mau beraktivitas. Sedangkan pada kasus red flag, LBP menyebabkan kelumpuhan atau pergeseran sendi membuat tulang menjadi tidak stabil, sehingga memerlukan penanganan medis yang lebih lanjut.

Penyebab LBP

  1. Mechanical. Menjadi penyebab terbanyak, mencapai 97 persen dari semua kasus LBP. Termasuk dalam penyebab ini adalah trauma, masalah otot (otot terlalu kaku atau teregang berlebihan/strain), sendi bergeser, pengeroposan tulang (osteoporosis) serta pengapuran (osteoarthritis).
  2. Non-mechanical. Merupakan penyebab terjarang, hanya satu persen, yang biasanya diakrenakan infeksi tuberkulosis yang menyebar ke tulang atau penyakit sendi karena autoimun.
  3. Penyakit organ dalam (visceral). Sebanyak dua persen LBP disebabkan kondisi sakit ginjal, prostat, organ dalam kewanitaan, atau lainnya.

Pada masa awal, penderita LBP akan merasakan nyeri yang terkadang disertai rasa kaku dan pegal-pegal di sekitar pinggang/bokong. Pada tahap berikutnya, ketika sudah menjalar ke saraf, rasa nyeri akan menyambar ke kaki, menimbulkan rasa baal dan kesemutan, bahkan dapat mengubah pola jalan seseorang menjadi tidak seimbang. 

Selain anamnesis, pemeriksaan fisik secara look, feel, dan move merupakan prinsip dasar diagnosa LBP.

  • Look. Pasien akan dinilai dari pinggang maupun kedua tungkai bawah adakah deformitas/tanda radang dan kelainan postur pasien, baik waktu berdiri/telentang/tengkurap.
  • Feel. Dokter akan menilai sumber nyeri pasien, organ apa saja yang terkena, baik otot (kaku/radang), tendon, sendi, saraf, atau tulang (jaringan muskuloskeletal lainnya), serta sensibilitas saraf (bila ada masalah saraf).
  • Move. Pasien diminta melakukan gerakan menunduk, memiringkan badan, dan memutar badan.

Selain itu diperlukan pemeriksaan analisis pola jalan dan terkadang pemeriksaan khusus untuk memastikan permsalahan, seperti postur tulang belakang dan postur tungkai bawah (termasuk kaki untuk kasus flat feet serta lutut untuk kasus kaki X dan O).

Penanganan LBP tergantung hasil diagnosa. Setiap kasus akan diberikan penanganan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi, secara umum, terdapat beberapa langkah penanganan LBP.

  1. Cognitive behaviour therapy menjadi prinsip utama rasa nyeri. Mengetahui sumber nyeri, secara emosional, dapat mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien. Hal ini termasuk pemberian edukasi mengenai proper body mechanics.
  2. Pemberian obat. Biasanya berupa obat anti-nyeri, anti-radang, dan pelemas otot. Obat dapat diberikan secara oral, topical, atau injeksi.
  3. Ortosis. Penggunaan alat bantu (seperti korset) yang disesuaikan dengan kasus yang dialami serta edukasi mengenai tata cara penggunaan alat bantu tersebut.
  4. Modalitas. Regenerative therapy sebagai tren terapi saat ini, seperti low-level laser theraphy (untuk mengatasi peradangan dan peremajaan jaringan) dan Extracorporeal Shockwave Theraphy/ESWT (untuk membentuk pembuluh darah baru, merangsang pelumas otot/jaringan, mengurangi nyeri, dan anti radang sub akut/kronis).
  5. Elastic taping, plester khusus (anti air dan dapat bertahan 3-5 hari) yang ditempel di tubuh pasien.
  6. Theurapeutic exercise (kolaborasi dengan tim fisioterapis). Latihan bisa berupa stretching (peregangan), strengthening (penguatan) dan kebugaran otot, serta aerobik. Pemilihan latihan disesuaikan dengan kondisi atau keluhan pasien.

dr. Adri Fauzan, Sp.KFR

Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi Medik
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor