Close
Close Language Selection
Health Articles

Skoliosis pada Remaja, Perlukah Dikhawatirkan?

Kamis, 16 Nov 2017
Skoliosis pada Remaja, Perlukah Dikhawatirkan?

Gangguan pada sistem tulang dan sendi (muskuloskeletal) kerap menimbulkan rasa sakit, mengurangi kenyamanan dan kemampuan kita untuk bergerak serta melakukan kegiatan sehari-hari. Banyak yang menganggap gangguan atau kelainan ini kerap terjadi di usia lanjut saja. Padahal kelainan muskulosketal pun dapat terjadi sejak remaja, bahkan anak-anak.

Kesehatan muskuloskeletal khususnya tulang pada anak perlu diperhatikan sejak dalam masa kandungan, saat kelahiran, dan semasa pertumbuhan hingga ia remaja. Pada masa-masa tersebut, asupan kalsium yang cukup merupakan faktor utama dalam membantu pertumbuhan anak dan remaja, terutama untuk kekuatan tulangnya. Namun, tahukah Anda bahwa faktor hormonal dan faktor kebiasaan juga berpengaruh? Menjaga postur tubuh sejak dini berperan penting untuk menghindarkan sang buah hati dari berbagai kelainan tulang. Salah satu kasus yang paling banyak terjadi adalah skoliosis. 

Mengenal skoliosis

Skoliosis adalah kondisi melengkungnya tulang belakang ke samping kiri dan kanan secara tidak normal. Ada beberapa tipe skoliosis, dibedakan berdasarkan tingkat kelengkungannya. Skoliosis paling banyak terjadi pada anak perempuan menjelang dan masa pubertas dengan kisaran usia 9 -15 tahun. Pada sebagian besar kasus, skoliosis tidak bisa dicegah karena seringkali tidak diketahui penyebabnya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan deteksi dini baik secara klinis, melalui pemeriksaan fisik, perhitungan antopometri, maupun pemeriksaan X-ray agar hasil diagnosa dini dapat terlihat dengan lebih detil.

Penanganan skoliosis

Penanganan skoliosis berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahan, usia, serta pola dan derajat lengkungannya. Tujuan penatalakasanaan pada skoliosis adalah mencegah progresivitas kelengkungan tulang belakang, mencapai keseimbangan yang benar, mencegah efek samping dari skoliosis itu sendiri, dan mengoreksi kelengkungan skoliosis tulang belakang. Hal tersebut dapat dicapai dengan observasi dan fisioterapi pada kasus yang ringan.

Pada derajat kelengkungan sedang, pemasangan brace atau alat penyangga diperlukan sampai usia dewasa untuk mencegah agar derajat kelengkungan yang terjadi tidak bertambah. Tindakan operasi hanya dilakukan pada skoliosis dengan derajat kelengkungan yang besar dan progresif.

Open surgery atau minimal invasive, mana yang lebih baik?

Untuk mengoreksi skoliosis dengan derajat kelengkungan yang besar dan progresif dapat dilakukan dengan open surgery menggunakan pedicle screw dan rod, yaitu implan yang ditanam bagian di tulang belakang. Hal ini dilakukan untuk memanipulasi dan mengoreksi kelengkungan, mempertahankan koreksinya, dan mencegah progresivitas skoliosis tersebut.

Selain itu, operasi koreksi skoliosis juga dapat dilakukan dengan metode minimal invasive, yaitu endoscopic procedure dengan beberapa luka sayatan berukuran kecil (small incision). Metode ini menggunakan video kamera mungil yang dimasukkan ke dalam salah satu sayatan untuk membantu dokter saat proses operasi berlangsung. 

Dengan minimal invasive surgery, kehilangan darah pada saat operasi bisa diminimalisir, luka pascaoperasi lebih tidak nyeri dan lebih tidak terlihat, juga dapat memperkecil risiko infeksi. Metode ini juga memungkinkan pasien untuk pulih lebih cepat sehingga waktu rawat inap di rumah sakit lebih singkat. Pada sebagian besar kasus, operasi koreksi skoliosis lebih efektif dilakukan dengan metode open surgery. Namun, untuk beberapa kasus skoliosis yang tidak rigid dengan kelengkungan yang tidak besar, dapat menggunakan metode minimal invasive surgery.

dr. Fachrisal Ipang, Sp.OT (K)

Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Tulang Belakang
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor