Close
Close Language Selection
Health Articles

Lambung Terjaga, Pertumbuhan Terpelihara

Rabu, 14 Sep 2022
Lambung Terjaga, Pertumbuhan Terpelihara

Keduanya membuat anak muntah, tetapi tahukah Anda perbedaan antara GER dengan GERD? Adakah potensi gangguan yang ditimbulkan, terutama pada tumbuh kembang si kecil? Yuk, simak penuturan berikut. 

Gastroesofageal reflux (GER) merupakan kondisi terjadinya aliran balik isi lambung ke kerongkongan, mulut, bahkan hidung. Ini merupakan proses fisiologis akibat belum matangnya saluran cerna anak. Sementara, gastroesofageal reflux disease (GERD) merupakan keluhan dan komplikasi yang timbul akibat cairan refluks lambung yang melebihi batas normal. Kondisi ini sudah menimbulkan gejala penyakit dan dapat mengganggu tumbuh kembang anak

Pada anak, GERD dapat terjadi akibat adanya tekanan dari bawah kerongkongan atau otot kerongkongan yang melemah. Kondisi ini dapat terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi produk susu atau kurangnya aktivitas fisik. Selain itu, GERD juga dapat dipicu oleh obesitas; obat-obatan alergi, pereda nyeri, penenang, dan antidepresan; serta asap rokok (anak yang menjadi perokok pasif). 

Bayi yang lahir prematur serta anak dengan komorbiditas penyakit paru, gangguan perkembangan saraf, dan obesitas memiliki risiko tinggi mengalami GERD. Pada bayi, munculnya GERD biasanya ditandai dengan gejala yang khas, seperti regurgitasi (kembalinya getah perut yang kadang disertai makanan yang belum dicerna ke kerongkongan dan masuk ke perut), kesulitan makan, dan hematemesis (muntah dengan bercak darah). Pada anak, gejala tersebut ditambah dengan keluhan rasa panas di bagian dada (heartburn), sulit menelan, batuk berkepanjangan, mual muntah, dan gangguan tumbuh kembang. Apabila muncul gejala-gejala tersebut, segera periksakan kondisi anak ke dokter. 

Secara medis, pemeriksaan terkait GERD diawali dengan anamnesis (ada-tidaknya riwayat alergi, keluhan THT, dan riwayat keluarga). Setelahnya, pemeriksaan klinis seperti berat dan tinggi badan, pemeriksaan jantung dan paru, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan abdomen (ada-tidaknya nyeri tekan, bising usus, dan pembesaran organ pada perut) akan dilakukan. Jika GERD terjadi secara berulang meski setelah terapi, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan Baium follow through dan endoskopi jika diperlukan. 

Terapi GERD yang utama adalah diet (makanan) dan pola hidup sehat. Pada anak dengan obesitas, sebaiknya dilakukan program penurunan berat badan dengan melibatkan dokter spesialis gizi klinik. Selain itu, pengobatan untuk mengurangi refluks, memperbaiki kontraksi usus, dan menetralisir pH lambung akan diberikan sesuai dengan saran dan arahan dokter spesialis anak yang ahli dalam bidang pencernaan anak, atau konsultan gastroenterologi hepatologi anak.

Waspadai GERD yang tak tertangani dengan baik
Angka kejadian sinusitis, laringitis, asma, pneumonia, dan bronkiektasis pada GERD yang tidak tertangani sangatlah tinggi. 

Cegah GERD pada anak

  • Berikan porsi makan kecil tapi sering pada bayi 
  • Hindari perubahan posisi mendadak setelah makan 
  • Hindarkan anak dari makanan yang mengandung lemak tinggi, cokelat, kafein, makanan yang pedas dan berbumbu, serta asap rokok dan alkohol hingga GERD sembuh

dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A (K)

Spesialis Anak Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Anak
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Kamis, 21 Jul 2022

Dampak COVID-19 pada Sistem Pernapasan

Read More
Health Articles Senin, 01 Mar 2021

Penanganan Mandiri COVID-19 di Rumah

Read More
Health Articles Rabu, 05 Des 2018

Me Time Hindarkan Depresi

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor