Close
Close Language Selection
Health Articles

Berbohong pada Anak, Benarkah Membuat Anak Lebih Patuh?

Rabu, 16 Des 2020
Berbohong pada Anak, Benarkah Membuat Anak Lebih Patuh?

Terkadang sebagai orang tua kita sering mengambil jalan pintas berbohong kepada si kecil agar masalah cepat selesai dan si kecil pun mengikuti apa kata kita. Namun, bagaimana dampak kebiasaan tidak jujur ini pada perkembangan psikologis si kecil? 

Menurut penelitian dari Gail D. Heymana, Diem H. Luua, and Kang Leeb di Amerika, alasan orang tua pada umumnya berbohong kepada anaknya adalah untuk memengaruhi emosi dan tingkah lakunya, agar si kecil menjadi bertingkah laku baik. Namun, orang tua lainnya, misalnya orang Asia di Amerika punya tujuan yang lebih besar, mereka ingin membuat anaknya memiliki perilaku patuh terhadap sesuatu. Sehingga hal tersebut membuat orang tua ‘terpaksa’ berbohong demi kepatuhan anaknya. 

Misalnya, Anda ingin si kecil rajin membereskan mainannya setelah bermain. Maka Anda kerap berbohong dan mengancam dengan mengatakan, apabila si kecil tidak membereskan mainannya, Anda akan membuang mainannya. Anda berharap si kecil akan patuh setelah mengatakan hal tersebut. Contoh lainnya, misalnya, ketika si kecil minta dibelikan mainan, tetapi Anda tidak ingin memberikannya dan berbohong kepadanya dengan mengatakan Anda tidak punya uang untuk membelinya. Anda berharap, si kecil akan mengerti dan berhenti meminta mainan. Alasan lainnya, ketika si kecil sedang menangis di mobil dan tidak berhenti. Anda mengatakan kepada si kecil, apabila ia tidak berhenti menangis, maka akan diturunkan dari mobil. 

Contoh-contoh ketidakjujuran ini sebenarnya dilakukan oleh orang tua dengan maksud baik, agar anak menuruti perintah orang tua dan orang tua lebih mudah menghadapi anaknya. Namun, apabila si kecil mengetahui kebohongan ini, maka dampaknya pada si kecil akan menjadi tidak baik. 

Kebiasaan berbohong pada anak, baik yang disengaja maupun tidak disengaja akan berdampak pada perkembangan si kecil. Dampak-dampaknya antara lain: 

  • Anak akan sadar bahwa orang tua berbohong kepada anak dengan tidak benar-benar melakukan apa yang diucapkan
  • Anak secara langsung akan belajar konsep berbohong dari orang tuanya sendiri
  • Anak belajar bahwa berbohong adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah
  • Kepercayaan anak kepada orang tuanya akan menurun

Menurut penelitian Nanyang Technological University di Singapura, anak yang kerap dibohongi oleh orang tuanya akan mengalami masalah kesehatan mental, hingga ia dewasa. Oleh sebab itu, penting sekali bagi orang tua mengurangi berbohong kepada anaknya. Salah satu caranya adalah dengan mencoba menyiapkan alasan yang jujur ketika si kecil bertanya atau ketika ia sedang tidak mematuhi aturan yang diberikan.  

Apabila si kecil tidak mau merapikan mainannya setelah bermain, Anda dapat memberitahukan kepada anak mengenai konsekuensi logis dari perilakunya, bahwa jika ia tidak merapikan mainannya maka mainan akan tercecer dan ada kemungkinan bisa hilang karena terselip.

Contoh lain misalnya, anak ingin mengetahui pembicaraan orang tua, lalu Anda dapat mengatakan kepada si kecil, bahwa Anda sedang tidak ingin membicarakannya, atau tidak ingin menjawabnya saat ini, atau ini adalah urusan lain yang tidak ada kaitannya dengan si kecil. 

Cara-cara di atas adalah beberapa tips agar dapat mengurangi bohong kepada si kecil, terutama saat si kecil sulit untuk diatur. Sebaiknya dekati si kecil dengan rasa kasih dan sayang, tidak berteriak, dan menggunakan bahasa yang halus. Bagaimanapun juga, orang tua adalah role model anak, sehingga alangkah baiknya apabila kita memberikan contoh yang baik supaya anak dapat meniru kebiasaan-kebiasaan baik kita. 

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psi, CGA

Psikolog
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor