Close
Close Language Selection
Health Articles

Penanganan Minimal Invasive Untuk Cedera Panggul

Selasa, 14 Nov 2023
Penanganan Minimal Invasive Untuk Cedera Panggul

Kenali faktor risiko pada cedera panggul dan berbagai opsi penanganannya.

Cedera dapat terjadi kapan saja dan pada bagian tubuh mana saja, termasuk pada panggul. Beberapa cabang olahraga seperti sepak bola, taekwondo, senam, dan rugby memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan cabang olahraga lain, tetapi bukan berarti bahwa olahraga lain ‘aman’ dari cedera. Umumnya, cedera pada panggul sering muncul akibat kurang conditioning atau kurangnya pemanasan ketika akan berolahraga dengan intensitas yang cukup berat.

Selain olahraga, semua kegiatan yang melibatkan gerakan sendi panggul berlebihan dapat menyebabkan cedera pada sendi panggul. Aktivitas seperti yoga atau balet memiliki korelasi yang erat terhadap cedera pada sendi panggul. Faktor risiko lainnya adalah cedera panggul sebelumnya yang tidak tertangani dengan baik.

Cedera pada panggul cukup bervariasi, mulai dari struktur yang terlibat hingga derajat keparahan dari cedera itu sendiri. Jenis cedera yang paling ringan dan paling umum terjadi adalah muscle strain atau cedera/robekan pada otot panggul, contohnya seperti groin pull atau hamstring strain. Bentuk cedera lain dapat berupa benturan pada area panggul yang menyebabkan nyeri dan kebiruan yang umumnya akan sembuh dalam beberapa hari.

Cedera lain yang lebih jarang ditemui, yakni cedera yang melibatkan jaringan lunak seperti robekan pada labrum (labral tear), hip bursitiship synovitis, sportsman hernia, dan snapping hip syndrome. Pada tahap yang lebih lanjut, cedera pada panggul juga dapat melibatkan struktur yang lebih dalam yakni tulang seperti osteitis pubis, femoroacetabular impingement, stress fracture, atau osteoarthritis. Kondisi-kondisi ini membutuhkan pertolongan lebih lanjut untuk memperoleh pemulihan yang optimal.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan prinsipnya sama dengan cedera olahraga lainnya yakni dengan menggunakan konsep PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevation). Selain itu, pemberian analgetik atau penahan nyeri juga dapat membantu untuk mengurangi nyeri dan mengurangi proses inflamasi yang umumnya terjadi pada waktu cedera. Setelah itu perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik detail oleh dokter untuk memastikan struktur apa yang cedera dan seberapa parah cedera yang dialami.

Cedera panggul ringan seperti muscle strain atau hip pointer, umumnya akan sembuh tanpa komplikasi yang bermakna. Namun, beberapa cedera panggul lainnya khususnya robekan pada labrum memiliki risiko tinggi untuk terjadinya osteoarthritis yang umumnya berujung pada tindakan total hip replacement.

Perlu diingat bahwa tidak semua cedera panggul memerlukan tindakan operasi, bahkan lebih dari 80% cedera panggul dapat pulih dengan tindakan non-operatif dengan fisioterapi dan pemberian obat. Regimen fisioterapi yang diberikan harus disesuaikan dengan diagnosis yang dialami pasien, maka diagnosis awal penting untuk diketahui sebelum memulai proses fisioterapi.

Untuk cedera yang lebih serius seperti robekan pada labrum, prosedur hip arthroscopy dapat dilakukan untuk memperbaiki labrum secara minimal invasive. Prosedur ini hanya membutuhkan 2–3 sayatan kecil (masing-masing sepanjang 0,5 cm) dan menggunakan instrumen khusus untuk melihat struktur tersebut pada sendi panggul. Tindakan ini juga dapat dilakukan pada cedera lainnya seperti snapping hip syndrome dan femoroacetabular impingement.

Sementara total hip replacement (THR) memiliki indikasi yang berbeda dan boleh dikatakan sebagai lini terakhir tatalaksana cedera panggul. Prosedur ini diindikasikan apabila sudah terjadi osteoarthritis atau pengapuran pada sendi panggul, yang terjadi pada kasus cedera panggul yang parah atau yang tidak tertangani dengan baik sebelumnya. Seperti namanya, THR merupakan prosedur penggantian sendi panggul secara total. Kedua permukaan sendi panggul yakni femoral head dan acetabulum akan digantikan oleh prosthesis implant sehingga nyeri yang dialami pasien akan berkurang.

Setelah tindakan, pasien dapat langsung berjalan dengan menggunakan alat bantu beberapa hari setelah operasi, sesuai dengan toleransi nyeri pasien. Namun, ada beberapa gerakan sendi panggul yang belum dapat dilakukan selama beberapa bulan pertama. Hal ini perlu didiskusikan dengan dokter karena terkait dengan teknik operasi yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa prosedur THR ini bukanlah sebuah prosedur yang “permanen”. Diketahui implan THR saat ini dapat bertahan selama 25 tahun pada 58% pasien (Lancet, 2019).

Langkah utama yang dapat dilakukan untuk mencegah cedera panggul ketika berolahraga adalah melakukan pemanasan (conditioning), terutama jika sudah lama tidak berolahraga. Hindari beberapa gerakan yang repetitif seperti twisting dan pivoting berulang. Penting juga untuk mengetahui batas aktivitas yang dapat dilakukan, memaksakan gerakan-gerakan dalam kondisi nyeri dapat meningkatkan derajat keparahan cedera panggul.

dr. Yoshi Pratama Djaja, Sp.OT (K)

Ortopedi Konsultan Hip and Knee, Adult Reconstruction, Trauma, and Sports
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Jumat, 06 Okt 2017

Rutin Deteksi Dini Cegah Kanker Payudara

Read More
Health Articles Minggu, 02 Des 2018

Pantau Kadar Gula Darah Mandiri

Read More
Health Articles Selasa, 12 Peb 2019

Siaga Satu Serangan Jantung!

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor