Waspada Pneumonia pada Anak: Kenali Gejala dan Penanganannya!

Monday, 15 July 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Pneumonia pada anak ditandai dengan demam, batuk atau pilek, kemudian diikuti oleh gejala sesak napas yang biasanya terjadi dalam 14 hari dan bersifat akut.

Waspada Pneumonia pada Anak: Kenali Gejala dan Penanganannya!

Berdasarkan data UNICEF tahun 2018, setiap jam terjadi kematian 2-3 balita di Indonesia akibat pneumonia. Hal ini menunjukkan bahwa pneumonia masih menjadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai.

Pneumonia pada anak biasanya berasal dari infeksi saluran pernapasan akut atas (ISPA atas). Umumnya gejala pneumonia diawali dengan demam, batuk atau pilek, kemudian diikuti oleh sesak napas. 


Penyebab Pneumonia pada Anak

Pneumonia pada anak paling banyak karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, ataupun jamur. Penyebab infeksi yang paling sering adalah virus ataupun bakteri.


Bakteri yang paling sering menyebabkan kasus pneumonia pada anak adalah pneumokokus (Streptococcus pneumonia), stafilokokus (Staphylococcus aureus), dan HiB (Haemophilus influenzae type B).

Selain bakteri, virus rhinovirus, virus influenza, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus campak (morbili) juga dapat menyebabkan pneumonia pada anak.


Baca juga: Jangan Anggap Remeh Batuk Pilek pada Anak!



Faktor Risiko Pneumonia pada Anak

Anak-anak umumnya berisiko terkena pneumonia karena sistem imunitasnya masih lemah dan belum terbentuk sempurna. Ada pula beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko anak terkena pneumonia, yakni:


  • Terlahir prematur
  • Malnutrisi atau kurang gizi
  • Imunisasi anak belum lengkap dan belum menerima vaksin pneumonia
  • Menderita infeksi tertentu, seperti campak dan HIV
  • Menderita penyakit bawaan atau kelainan pada paru-paru maupun sistem pernapasan


Baca juga: Jangan Abaikan Sinusitis! Kenali Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya


Gejala Pneumonia pada Anak

Gejala pneumonia pada anak mencakup:


  • Batuk
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Mual atau muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Lebih sering menangis atau lebih rewel dibandingkan dengan biasanya
  • Lemas
  • Sesak napas


Baca juga: Radang Amandel yang Bandel


Mendeteksi Sesak Napas pada Anak

Sesak napas ditandai oleh adanya usaha bernapas yang berat seperti tarikan dinding dada saat bernapas maupun adanya napas cuping hidung. Adanya sesak napas menjadi indikasi anak kekurangan oksigen.


Bagaimana mengenali si kecil yang mengalami sesak napas? Hitunglah frekuensi napas si kecil dalam 1 menit dengan meletakkan tangan di dada anak. Sesak napas ditandai dengan frekuensi napas cepat yaitu:


  • Lebih dari 60 kali/menit untuk usia kurang dari 2 bulan
  • Lebih dari 50 kali/menit untuk usia 2 bulan – 1 tahun
  • Lebih dari 40 kali/menit untuk usia 1 tahun – 5 tahun
  • Lebih dari 30 kali/menit untuk usia lebih dari 5 tahun


Jika gejala-gejala di atas terjadi pada anak Anda, segera bawa ia ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis anak. Penanganan awal dari dokter yang dilakukan setelah pemeriksaan akan membantu buah hati Anda terbebas dari keluhan tersebut.


Baca juga: Menjaga Kesehatan Pernapasan



Langkah Pencegahan Pneumonia pada Anak 

Pneumonia dapat menular melalui droplet (percikan air liur). Untuk mencegah pneumonia pada anak, hindari kontak langsung dengan penderita pneumonia. Selain itu, penularan pneumonia juga dapat dicegah dengan berbagai upaya berikut ini:


1. Menjaga Kebersihan Lingkungan dan Diri

Langkah pencegahan pneumonia yang paling awal dapat dimulai dengan menjaga kebersihan rumah dan mengolah kondisi lingkungan sekitar, agar infeksi tersebut tidak menyebar.


Misalnya ketika kita sedang tidak sehat, sebaiknya gunakan masker dengan benar, serta terapkan etika batuk dan bersin yang tepat dengan menutup mulut menggunakan lengan baju atas atau tisu kemudian membuangnya ke tempat sampah.


Pencegahan penyebaran infeksi yang juga dapat dilakukan adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap habis batuk atau bersin, setelah memegang permukaan benda terutama di tempat umum, sebelum makan, dan lain sebagainya.


2. Menjaga Pola Hidup Sehat untuk Anak

Pneumonia anak juga dapat dicegah secara efektif dengan pemberian ASI eksklusif, mengusahakan untuk cukupi kebutuhan gizi anak, menghindarkan anak dari paparan asap rokok maupun polusi udara lainnya, serta melindungi anak dengan pemberian imunisasi yang dapat mencegah pneumonia.


3. Melengkapi Vaksin Anak

Saat ini terdapat beberapa vaksin yang dapat melindungi anak dari penyakit ini, yaitu vaksin Difteri Pertusis Tetanus Hemophilus Influenza B (DPT HiB) yang merupakan vaksin kombinasi, vaksin pneumokokus (PCV), vaksin influenza, dan vaksin MR (measles rubella).


Berdasarkan The United Nations Children's Fund (UNICEF), pneumonia adalah penyebab terbesar kematian pada anak dibandingkan penyakit menular lainnya. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengambil tindakan berikut sebagai langkah pencegahannya:


  • Sekitar 50 persen kematian anak akibat pneumonia berkaitan dengan polusi udara, maka itu apabila sedang sakit, gunakan masker dengan tepat
  • Terapkan etika batuk dan bersin yang benar agar tidak menularkan ke anak lain 
  • Studi menunjukkan bahwa menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dengan mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun dapat mengurangi risiko anak mengalami pneumonia hingga 50 persen
  • Menyusui anak secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan adalah cara yang efektif untuk melindungi anak dari pneumonia dan penyakit menular lainnya
  • Minum air bersih dan matang, serta pastikan sanitasi rumah tetap terjaga
  • Cara paling efektif untuk melindungi anak dari pneumonia adalah dengan imunisasi


Baca juga: Radang Tenggorokan pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Tips Menanganinya


Penanganan Pneumonia pada Anak 

Langkah penanganan pneumonia pada anak biasanya akan disesuaikan dengan kondisi anak, serta penyebab dan keparahan penyakit.


Bila si kecil terdiagnosis pneumonia, tatalaksananya akan lebih optimal bila dilakukan di rumah sakit, karena penderita berisiko mengalami sesak napas dan memerlukan terapi oksigen. Terapi oksigen dan cairan infus, obat pereda demam maupun obat-obatan melalui suntikan yang lain dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.


Pada kasus yang berat, dapat digunakan alat bantu napas (ventilator) di ruang rawat intensif. Selama perawatan, si kecil juga dapat diberikan antibiotik untuk pneumonia akibat infeksi bakteri maupun obat-obatan lain, cairan sesuai kebutuhan, dan nutrisi yang cukup. Tindakan inhalasi maupun fisioterapi tidak perlu rutin diberikan sebagai pengobatan pneumonia pada anak.


Gejala pneumonia pada anak perlu dikenali sedini mungkin oleh orang tua, agar perawatannya dapat dilakukan dengan segera. Apabila kondisi anak mulai menunjukkan gejala pneumonia, jangan tunda untuk membawanya ke Rumah Sakit Pondok Indah untuk diperiksa oleh dokter spesialis anak. Penanganan yang cepat dan tepat setelah diagnosis pneumonia pada anak ditegakkan, dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengobatan.