Penyebab Sering Sendawa Terus Menerus & Cara Mengatasinya

Wednesday, 19 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Sendawa terus menerus dapat dipicu akibat beberapa penyakit seperti GERD, radang lambung, tukak lambung, radang pankreas dan sejenisnya. Waspadai gejalanya!

Penyebab Sering Sendawa Terus Menerus & Cara Mengatasinya

Apa Itu Sendawa?

Serdawa atau yang lebih dikenal dengan sendawa didefinisikan sebagai keluarnya gas dari kerongkongan ke faring/tenggorokan secara tiba-tiba, yang dapat disertai atau tanpa disertai suara.


Sendawa merupakan usaha tubuh untuk mengeluarkan kelebihan udara dari saluran pencernaan bagian atas. Sendawa terjadi akibat masuknya udara secara cepat ke saluran pencernaan bagian atas karena kontraksi otot pernapasan diafragma atau kontraksi otot dasar lidah.


Udara dapat masuk ke sebatas kerongkongan saja, sehingga disebut supragastric belching, atau hingga ke lambung, yang disebut gastric belching


Sendawa yang berasal dari lambung terjadi karena relaksasi otot sfingter kerongkongan bawah untuk mencegah terkumpulnya udara pada lambung. Sendawa ini secara normal dapat terjadi hingga 30 kali dalam sehari tanpa disadari.


Namun, bila sendawa menjadi lebih dari jumlah biasanya, maka dapat dikatakan Anda mengidap sendawa berlebihan. Perlu diketahui bahwa penderita lebih banyak mengeluhkan sendawa berlebihan yang berasal dari kerongkongan. 


Penyebab Sendawa

Sendawa dapat terjadi ketika Anda makan atau minum terlalu cepat, berbicara ketika makan, mengunyah permen karet, meminum minuman berkarbonasi atau bersoda, atau merokok.


Sendawa juga dapat dipicu akibat beberapa penyakit seperti refluks dari lambung ke kerongkongan atau disebut gastroesophageal reflux disease (GERD), radang lambung, tukak lambung, radang pankreas, intoleransi laktosa, malabsorbsi karbohidrat seperti fruktosa atau sorbitol, atau infeksi bakteri Helicobacter pylori.


Peningkatan frekuensi sendawa pada penderita GERD sebagian besar terjadi karena kelebihan gas pada lambung. Penderita GERD menelan udara lebih sering dan akibatnya mengalami sendawa yang berasal dari lambung lebih sering dibandingkan dengan orang tanpa riwayat GERD.


Sendawa berlebihan juga dilaporkan pada 80 persen penderita dispepsia fungsional, yaitu sakit perut tanpa adanya luka dan tidak disertai penyebab yang jelas. Orang dengan riwayat penyakit ini, juga menelan udara lebih sering dan mengalami sendawa yang berasal dari lambung lebih sering dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keluhan dispepsia.


Sebagian besar sendawa merupakan gangguan behavioural atau fungsional tubuh. Namun, apabila sendawa dirasakan mengganggu aktivitas Anda sehari-hari atau disertai dengan gejala seperti diare, nyeri perut yang terus menerus, buang air besar berdarah, perubahan warna feses atau frekuensi buang air besar, penurunan berat badan, nyeri pada dada, kehilangan nafsu makan, atau merasa mudah kenyang, gejala sendawa perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan organ yang mendasari terjadinya sendawa. 



Penegakan Diagnosis Akibat Sendawa 

Pada saat berkonsultasi dengan dokter, wawancara medis dan pemeriksaan fisik lengkap akan dilakukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari sendawa. Bila didapati kecurigaan ke arah kelainan organ, dokter akan merujuk Anda untuk melakukan pemeriksaan endoskopi.


Diagnosis gangguan sendawa dilakukan dengan pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kontraksi kerongkongan yang disebut pemeriksaan impedansi esofagus. 


Ada dua diagnosis yang mungkin terjadi akibat sendawa berlebihan, yaitu:


  1. Gangguan aerofagia (menelan udara), bila gejala sendawa berulang beberapa kali dalam seminggu disertai dengan bukti menelan udara pada pemeriksaan yang bernama impedansi esofagus. 
  2. Gangguan sendawa berulang yang tidak spesifik, bila ditemukan gejala sendawa berulang dalam seminggu dan tidak ada bukti menelan udara. 


Untuk menegakkan diagnosis, kriteria-kriteria tersebut harus berlangsung selama minimal tiga bulan dengan gejala paling sedikit 6 bulan sebelum pemeriksaan.


Cara Mengatasi Sendawa Terus Menerus

Penanganan sendawa bergantung pada penyebabnya. Metode penanganan terdiri dari terapi tanpa obat (terapi non-farmakologis) dan terapi obat (terapi farmakologis).


Terapi non-farmakologis untuk keluhan sendawa meliputi:


1. Speech Therapy 

Speech therapy merupakan terapi supragastric belching yang memiliki efektivitas sebesar 83 persen dalam mengurangi gejala supragastric belching. Strategi speech therapy mencakup edukasi pasien mengenai perilaku yang mendasari masuknya udara ke dalam kerongkongan secara berlebihan dan strategi untuk menanganinya. Strategi mencakup pengaturan napas dan kegiatan menelan yang menjadi lebih disadari.


2. Terapi Kognitif Perilaku

Terapi kognitif perilaku juga dapat mengurangi gejala sendawa. Terapi ini terdiri dari tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen perilaku, dan evaluasi terapi dan hasil. Terapi ini berfokus pada membantu penderita mengenali etiologi penyakit, faktor pencetus, dan penjelasan bagaimana terapi dapat memperbaiki gejala. Terapi pernapasan diafragma atau pernapasan perut dengan mulut terbuka dianjurkan untuk mengurangi sendawa.


3. Perubahan Gaya Hidup

Sendawa dapat dikurangi dengan makan dan minum dengan perlahan-lahan, menelan dalam jumlah yang kecil, menghindari minuman berkarbonasi dan bersoda, menghindari mengunyah permen karet, mengurangi dan menghentikan kebiasaan merokok, melakukan pemeriksaan gigi rutin, tetap aktif bergerak, dan menangani penyakit yang mendasari terjadinya sendawa.


Sementara, terapi farmakologis untuk keluhan sendawa ditentukan berdasarkan penyakit yang mendasarinya. Pada pasien dengan GERD, terapi dengan obat supresi asam lambung dapat digunakan.


Selain itu, terapi dengan obat baclofen pada suatu penelitian dapat memperbaiki gejala pasien dengan supragastric belching.


Sendawa memang hal yang wajar, menjadi tidak wajar apabila terjadi berlebihan dan berulang. Apabila sendawa berlebihan terjadi secara terus menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, dan mempengaruhi kualitas hidup Anda, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi.