Penyakit GERD: Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

Wednesday, 15 May 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Penyakit GERD adalah kondisi medis yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara teratur sehingga menyebabkan heartburn atau nyeri dada.

Penyakit GERD: Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

Apa Itu Penyakit GERD?

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi medis yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara teratur. Hal ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman yang sering dikenal sebagai heartburn atau nyeri dada. GERD dapat menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan baik.


Gejala-gejala Penyakit GERD

Gejala penyakit GERD meliputi:


1. Heartburn (Rasa Terbakar di Dada)

Heartburn, atau sensasi terbakar di dada, adalah gejala paling umum dan paling sering dikaitkan dengan GERD. Sensasi ini biasanya muncul setelah makan dan bisa bertahan selama beberapa jam. Rasa terbakar seringkali diperburuk saat berbaring atau membungkuk. Ini terjadi ketika asam lambung kontak langsung dengan lapisan kerongkongan yang tidak dilindungi seperti lapisan perut.


2. Regurgitasi Asam

Regurgitasi asam adalah sensasi isi perut yang naik kembali ke kerongkongan hingga ke mulut. Berbeda dengan muntah, regurgitasi tidak melibatkan kontraksi perut yang kuat. Hal ini menyebabkan rasa pahit atau asam di mulut dan bisa menjadi sangat tidak nyaman, terutama saat berbaring atau di malam hari.


3. Kesulitan Menelan (Disfagia)

Beberapa orang dengan GERD mengalami kesulitan menelan atau perasaan seolah-olah makanan 'tersangkut' di dada. Ini disebut disfagia. Kondisi ini terjadi karena kerusakan jangka panjang dari asam pada kerongkongan, yang menyebabkan pembengkakan atau penyempitan (stricture) yang menghambat perjalanan makanan.


4. Batuk Kronis dan Serak

GERD bisa menyebabkan gejala yang tidak terbatas pada sistem pencernaan. Asam yang naik ke kerongkongan dapat lanjut naik ke laring (pita suara) dan trakea, menyebabkan iritasi. Ini bisa mengakibatkan batuk kronis, serak, atau perubahan suara, terutama di pagi hari atau setelah makan.


5. Nyeri Dada

Nyeri dada dari GERD sering kali sulit dibedakan dari nyeri dada akibat masalah jantung. Nyeri dada yang berkaitan dengan GERD biasanya terasa seperti tekanan atau rasa terbakar yang intens di bawah tulang dada, yang dapat menyebar ke seluruh dada.


6. Masalah Pernapasan

Asam yang naik bisa masuk ke dalam saluran napas, menyebabkan iritasi dan spesifik gejala seperti sesak napas, wheezing (suara bersiul saat bernapas), dan bronkospasme (penyempitan saluran napas yang menyebabkan kesulitan bernapas).


7. Gejala Malam Hari

GERD sering memburuk di malam hari saat seseorang berbaring, membuat gravitasi tidak lagi membantu mencegah reflux asam. Ini bisa menyebabkan tidur yang terganggu, serangan heartburn malam hari, batuk, atau sesak napas yang bisa mengganggu tidur.


8. Erosi Enamel Gigi

Asam lambung yang naik bisa merusak gigi, terutama enamel gigi, yang adalah lapisan luar yang melindungi gigi. Hal ini dapat menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif, patah, atau berlubang.


9. Komplikasi Lanjutan

Jika tidak diobati, GERD dapat mengarah ke kondisi yang lebih serius, seperti esofagitis erosif (peradangan dan ulserasi pada kerongkongan), stricture, atau kondisi prakanker yang dikenal sebagai Barrett's Esophagus.


Penyebab Penyakit GERD

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi medis di mana isi perut bocor kembali ke kerongkongan, menyebabkan gejala yang tidak nyaman hingga kerusakan pada lapisan kerongkongan. Memahami penyebab serta faktor risikonya adalah kunci untuk pengelolaan dan pencegahan yang efektif.


Berikut adalah penyebab penyakit GERD:


1. Disfungsi Lower Esophageal Sphincter (LES)

Kesalahan utama yang menyebabkan GERD adalah disfungsi pada lower esophageal sphincter (LES), yaitu otot cincin di dasar kerongkongan yang berfungsi sebagai pintu antara kerongkongan dan perut. LES yang sehat menutup segera setelah makanan dan minuman memasuki perut, mencegah isi perut kembali ke kerongkongan. Jika LES melemah atau relaksasi secara tidak tepat, isi asam perut dapat kembali ke atas, menyebabkan sensasi terbakar dan kerusakan.


2. Faktor Gaya Hidup dan Makanan

Beberapa kebiasaan makan dan gaya hidup dapat memperparah atau berkontribusi terhadap disfungsi LES, termasuk:

  • Makanan Berlemak dan Pedas: Makanan ini dapat melemahkan LES, memungkinkan isi asam lebih mudah kembali ke kerongkongan.
  • Makan Berlebihan: Mengonsumsi porsi makanan yang besar meningkatkan tekanan pada perut, yang dapat memaksa isi perut naik kembali melalui LES.
  • Alkohol dan Kafein: Kedua stimulan ini dapat melemahkan LES, memudahkan isi perut untuk mengalir kembali ke kerongkongan.
  • Merokok: Nikotin dari rokok dapat melemahkan LES, menambah risiko terjadinya reflux.


3. Faktor Kesehatan dan Medis

Beberapa kondisi kesehatan dan penggunaan obat tertentu juga dapat mempengaruhi fungsi LES dan menyebabkan GERD, antara lain:

  • Obesitas: Kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan tekanan intra-abdominal, yang dapat memaksa isi perut kembali ke atas melalui LES yang lemah.
  • Kehamilan: Serupa dengan obesitas, kehamilan meningkatkan tekanan pada perut, terutama pada trimester akhir, dan bisa menyebabkan GERD.
  • Hiatal Hernia: Kondisi di mana bagian atas perut menonjol ke dalam rongga dada melalui hiatus, sebuah bukaan di diafragma, dapat menyebabkan atau memperparah GERD.
  • Medikasi: Beberapa obat, seperti antikolinergik, obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen, dan beberapa obat untuk tekanan darah, bisa melemahkan LES dan meningkatkan risiko reflux.


4. Faktor Genetik

Walaupun faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan sangat mempengaruhi risiko GERD, komponen genetik juga berperan. Beberapa orang mungkin memiliki predisposisi genetik yang membuat mereka lebih mungkin mengembangkan disfungsi LES atau kondisi yang berhubungan dengan GERD.


Cara Menangani Penyakit GERD

Cara mengatasi penyakit GERD perlu menerapkan pendekatan holistik yang meliputi perubahan gaya hidup, penggunaan obat-obatan, dan dalam kasus yang parah, intervensi bedah.


Perubahan Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup sering kali merupakan langkah pertama dan paling penting dalam mengelola GERD. Berikut beberapa strategi yang dapat diadopsi:


1. Menyesuaikan Pola Makan

  • Kurangi Porsi Makan: Makan dalam porsi kecil namun lebih sering dapat membantu mengurangi tekanan pada lower esophageal sphincter (LES), yang sering menjadi penyebab asam naik ke kerongkongan.
  • Hindari Makanan Pemicu: Makanan yang berlemak, pedas, serta minuman yang mengandung kafein dan alkohol harus dihindari karena dapat memicu relaxasi LES, memungkinkan reflux asam.


2. Penyesuaian Posisi Tidur

  • Angkat Kepala Tempat Tidur: Menempatkan bantal atau blok di bawah kepala tempat tidur untuk meninggikan sekitar 6-8 inci membantu mencegah asam naik ke kerongkongan saat tidur.


3. Berhenti Merokok dan Mengurangi Konsumsi Alkohol

  • Nikotin dan alkohol adalah dua faktor yang dapat melemahkan LES, meningkatkan risiko dan keparahan reflux asam.


4. Pengelolaan Berat Badan

  • Kelebihan berat badan meningkatkan tekanan intra-abdominal yang dapat mendorong isi perut naik ke kerongkongan. Menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi gejala GERD.


Obat-Obatan

Penggunaan obat-obatan bisa efektif untuk mengurangi frekuensi dan keparahan gejala GERD. Beberapa jenis obat yang umum digunakan meliputi:


1. Antasida

  • Antasida dapat digunakan untuk mengatasi gejala cepat dengan menetralkan asam lambung. Meskipun efektif untuk relief jangka pendek, antasida tidak menyembuhkan luka pada kerongkongan yang disebabkan oleh reflux berulang.


2. Blocker H2

  • Obat ini mengurangi produksi asam dengan memblokir histamin, yang merangsang produksi asam di perut. Mereka cukup efektif dan bisa memberi relief untuk waktu yang lebih lama dibanding antasida.


3. Inhibitor Pompa Proton (PPI)

  • PPI adalah obat yang paling efektif untuk mengurangi produksi asam lambung dan sangat membantu dalam menyembuhkan kerongkongan. Penggunaan jangka panjang harus di bawah pengawasan medis karena dapat berhubungan dengan efek samping jangka panjang seperti risiko fraktur dan defisiensi nutrisi.


Terapi Komplementer

Beberapa pendekatan terapi komplementer bisa membantu dalam mengelola GERD:


1. Akupunktur

  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa akupunktur dapat membantu dalam mengurangi gejala GERD dengan meningkatkan motilitas gastrointestinal dan mengurangi produksi asam.


2. Mengunyah Permen Karet

  • Mengunyah permen karet setelah makan dapat meningkatkan produksi saliva, yang bisa membantu menetralkan asam di kerongkongan.


Intervensi Bedah

Dalam kasus di mana pengobatan medis dan perubahan gaya hidup tidak efektif, intervensi bedah mungkin diperlukan:


1. Fundoplikasi Nissen

  • Prosedur ini melibatkan pembungkusan bagian atas perut di sekitar LES untuk menguatkan otot dan mencegah reflux. Ini seringkali efektif dalam mengurangi gejala secara signifikan.


2. Implan LINX

  • Sebuah cincin magnet kecil yang ditempatkan di sekitar junction esofagus dan perut dapat membantu menjaga LES tetap tertutup untuk mencegah reflux, namun tetap memungkinkan makanan masuk.


Kapan Harus Pergi ke Dokter?

Jika gejala GERD terjadi secara teratur atau mengganggu aktivitas sehari-hari, segera konsultasikan dengan dokter. Tanda-tanda yang memerlukan perhatian medis segera termasuk:

  • Nyeri dada yang parah atau terus-menerus
  • Kesulitan bernapas
  • Muntah darah
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Masalah makan atau menelan yang terus-menerus
  • Demam


Dengan memahami gejala, penyebab, dan cara menangani penyakit GERD, diharapkan individu dapat mengelola kondisi ini dengan lebih baik dan mengurangi risiko komplikasi yang mungkin timbul. Namun, penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai.