Katarak: Penyebab, Gejala, Penanganan, dan Pencegahan

By Tim RS Pondok Indah

Wednesday, 12 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Katarak menjadi salah satu penyebab kebutaan. Jadi, mari cegah katarak dan komplikasinya dengan mengenal gejala awal katarak serta penanganan yang sesuai. 

Katarak: Penyebab, Gejala, Penanganan, dan Pencegahan

Katarak menjadi salah satu kondisi penyumbang terjadinya kebutaan di seluruh dunia. Meski demikian, kebutaan akibat katarak masih bisa dicegah dengan penanganan yang tepat. Jadi, mari cegah katarak dan komplikasinya dengan mengenal gejala awal katarak serta penanganan yang sesuai bagi kondisi ini. 


Mata memiliki lensa alami yang berfungsi untuk meneruskan cahaya sehingga memungkinkan kita untuk melihat secara normal. Komponen utama penyusun lensa mata adalah air dan protein. Normalnya, lensa mata jernih dan fleksibel. Namun, protein penyusun lensa mata ini bisa terurai dan mengeras sehingga menyebabkan lensa mata menjadi keruh serta kaku. Kondisi ini lah yang dikenal dengan katarak. 


Apa itu Katarak?

Katarak adalah suatu kondisi medis yang menyebabkan kekeruhan pada lensa mata, sehingga mengganggu penglihatan. Terjadinya gangguan penglihatan karena katarak bisa saja terjadi pada salah satu mata, maupun keduanya. Namun, katarak bukanlah penyakit menular. Jadi, tidak bisa ditularkan ke mata sebelahnya maupun ditularkan ke orang lain.


Mereka yang mengalami katarak biasa akan menjelaskan penglihatannya seperti melihat dari balik air terjun atau seperti melihat dalam kondisi yang berkabut. Tanpa penanganan yang tepat, katarak bahkan bisa menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan. Di Indonesia sendiri, katarak menyumbang 81% angka kebutaan dan gangguan penglihatan. Oleh karena itu, mengenali gejala awal katarak sangat untuk mencegah kebutaan akibat kondisi ini.


Baca juga: Jangan Sepelekan Mata Merah



Penyebab Katarak

Perubahan yang terjadi pada lensa mata penderita katarak umumnya disebabkan oleh proses penuaan. Seiring dengan penambahan usia, protein yang menjadi salah satu komponen utama di lensa mata akan mengalami penguraian dan membentuk gumpalan-gumpalan yang membuat lensa mata menjadi keruh. 


Selain karena proses penuaan, ada beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang mengalami katarak. Beberapa faktor risiko katarak yang dimaksud adalah sebagai berikut ini:


1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan dapat meningkatkan radikal bebas dalam tubuh, termasuk lensa mata, yang menyebabkan lensa menjadi keruh dan keras. Beberapa faktor yang dimaksud, meliputi: 


  • Polusi udara
  • Asap rokok
  • Pestisida
  • Paparan sinar matahari untuk waktu yang lama
  • Konsumsi alkohol berlebih
  • Terpapar zat yang beracun
  • Riwayat terapi radiasi pada tubuh bagian atas


2. Faktor Kesehatan

Faktor kesehatan maupun penyakit yang diderita, termasuk:


  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Riwayat operasi mata, seperti operasi untuk glaukoma
  • Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang untuk mengobati suatu penyakit, seperti rematik (rheumatoid arthritis)
  • Mengalami penyakit mata tertentu, seperti retinitis pigmentosa dan uveitis
  • Mengalami cedera pada mata


3. Faktor Genetik

Faktor genetik juga memegang peran penting sebagai penyebab katarak. Anak yang memiliki orang tua dengan riwayat menderita katarak akan lebih berisiko mengalami kondisi serupa. Selain itu, mutasi genetik juga bisa menyebabkan terjadinya katarak, yang biasanya menjadi penyebab terjadinya katarak pada anak (katarak kongenital).


Baca juga: Kenali dan Atasi Alergi pada Mata


Gejala Katarak

Gejala awal katarak biasa dikeluhkan ketika memasuki usia 40-50 tahu. Awalnya, Anda mungkin tidak menyadari bahwa tengah mengalami katarak, karena kondisi ini merupakan penyakit progresif. Artinya, keluhan mungkin tidak dirasa mengganggu, tetapi katarak tetap terjadi hingga menyebabkan penglihatan menjadi buram, bahkan bisa menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan.


Berikut ini adalah beberapa gejala katarak yang perlu Anda ketahui:


  • Penglihatan menjadi kabur atau buram, maupun seperti berkabut .
  • Melihat lingkaran cahaya saat memandang sumber cahaya.
  • Lebih sensitif terhadap cahaya, biasa dikeluhkan sebagai rasa silau saat melihat matahari atau lampu mobil di malam hari.
  • Penurunan penglihatan atau kesulitan melihat dengan jelas pada malam hari maupun dengan penerangan minimal.
  • Pandangan ganda atau objek yang dilihat tampak ganda.
  • Warna terlihat lebih pudar atau tidak cerah.
  • Sering mengganti kacamata karena ukuran lensa kacamata sering berubah.


Jika Anda merasakan salah satu dari beberapa gejala katarak, tidak ada salahnya memeriksakan diri ke dokter spesialis mata. Tidak perlu menunggu sampai gejala mengganggu aktivitas, penanganan awal dari dokter yang dilakukan setelah pemeriksaan akan membebaskan Anda dari keluhan tersebut.


Baca juga: Katarak: Berbahayakah dan Bagaimana Penanganannya?


Diagnosis Katarak

Bagi Anda yang sudah berusia 40 tahun atau lebih dan merasakan salah satu gejala katarak, sebaiknya periksakan kesehatan mata ke dokter. Nantinya dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab keluhan yang Anda alami. Selain dengan anamnesis dan pemeriksaan langsung, dokter bisa melakukan pemeriksaan menggunakan slit-lamp, pemeriksaan retina, tes ketajaman penglihatan, tes lapang pandang, dan shadow test.


Setelah dipastikan bahwa penyebab keluhan yang Anda alami adalah katarak, dokter akan menyarankan beberapa cara mengobati katarak sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan, maupun keparahan katarak.


Apakah Katarak Bisa Sembuh?

Ya, katarak bisa disembuhkan melalui operasi katarak. Prosedur ini adalah satu-satunya metode yang terbukti efektif untuk menghilangkan katarak dan memulihkan penglihatan. Setelah operasi, banyak pasien melaporkan peningkatan penglihatan yang signifikan, termasuk penglihatan yang lebih jernih dan berwarna lebih cerah.


Pemulihan dari operasi katarak biasanya cepat, dan kebanyakan pasien dapat melanjutkan aktivitas normal dalam beberapa hari. Meskipun operasi katarak sangat efektif, penting untuk menjalani pemeriksaan mata secara teratur dan mendiskusikan gejala apa pun dengan dokter mata, karena perawatan awal dan diagnosis tepat waktu adalah kunci untuk hasil yang optimal.


Selain itu, menjaga kesehatan mata dengan menghindari paparan berlebihan terhadap sinar UV, tidak merokok, dan mengelola kondisi kesehatan yang mendasarinya, seperti diabetes, dapat membantu memperlambat perkembangan katarak.


Penanganan Katarak

Penanganan dan pengobatan katarak akan disarankan sesuai usia, kondisi kesehatan, serta tingkat keparahan katarak si penderita.


Jika keluhan yang disebabkan oleh katarak tidak terlalu mengganggu, dokter hanya akan memberikan resep kacamata maupun menyarankan untuk mengatur pencahayaan guna mempertajam penglihatan. Peresepan obat katarak maupun suplemen mata biasa dilakukan untuk menghambat perburukan kondisi lensa mata yang mengalami katarak.


Jadi apakah katarak bisa sembuh? Jawabannya adalah bisa, tetapi dengan penanganan khusus dari dokter melalui operasi katarak.


Ketika keluhan yang terjadi karena katarak sudah mengganggu aktivitas, satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan melakukan operasi. Secara garis besar, operasi katarak dilakukan untuk mengganti lensa mata yang telah keruh dengan lensa mata buatan. Pasien katarak biasanya bisa langsung pulang setelah operasi katarak selesai dilakukan. Namun, bagi Anda yang mengalami katarak pada kedua mata, operasi akan dilakukan secara terpisah.


Dokter akan melakukan operasi katarak pada salah satu mata terlebih dahulu. Sedangkan operasi katarak untuk mata yang lain akan dilakukan setelah mata yang sebelumnya dioperasi pulih, atau sekitar 6-12 minggu kemudian. 


Ada 2 teknik operasi katarak, yakni phacoemulsification (small-incision cataract surgery atau operasi katarak dengan insisi kecil) dan extracapsular surgery (operasi katarak ekstrakapsuler). Saat ini teknik phacoemulsification lebih banyak dilakukan untuk menyembuhkan katarak, karena waktu pemulihannya lebih singkat dengan sayatan yang lebih kecil.


Baca juga: Agar Pandangan Selalu Prima



Pencegahan Katarak

Meski katarak merupakan penyakit yang terjadi karena proses penuaan dan dapat disebuhkan dengan operasi, Anda tetap bisa menunda pengeruhan lensa mata dengan menerapkan beberapa kiat berikut:


  • Gunakan kacamata hitam atau kacamata biasa yang dilengkapi dengan fitur anti-UV untuk melindungi mata dari paparan langsung sinar ultraviolet
  • Konsumsi makanan yang bergizi seimbang, terutama makanan yang baik untuk kesehatan mata
  • Memastikan penyakit atau kondisi kesehatan yang bisa meningkatkan risiko terjadinya katarak, seperti diabetes, tetap terkontrol
  • Jangan merokok maupun mengonsumsi alkohol
  • Lakukan pemeriksaan mata secara rutin setiap 2-4 tahun sekali sejak memasuki usia 40 tahun, sedangkan untuk yang berusia 65 tahun atau lebih pemeriksaan dilakukan setiap 1-2 tahun sekali


Baca juga: Amankah Pemakaian Lensa Kontak?


Katarak merupakan salah satu penyakit yang terjadi karena proses penuaan. Meski lumrah, dan hampir dialami oleh semua orang, kondisi ini tetap menimbulkan kekhawatiran bagi penderitanya. Bagaimana tidak, mata sebagai jendela dunia seketika menjadi buram bahkan penderitanya terancam tidak bisa menikmati keindahan dunia bila katarak tidak ditangani dengan tepat.


Untuk menjaga kesehatan mata Anda, sekaligus mendeteksi katarak lebih dini, lakukanlah pemeriksaan kesehatan mata secara rutin. RS Pondok Indah memiliki banyak dokter spesialis mata, beserta subspesialisasinya yang beragam, merupakan tempat yang bisa Anda tuju untuk memastikan kesehatan mata.


Selain tenaga kesehatan yang ahli, RS Pondok Indah juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas medis terkini. Semua keunggulan yang kami miliki ini akan memberikan pelayanan medis terbaik bagi Anda, termasuk untuk melakukan operasi katarak. Jadi, jaga kesehatan mata dan cegah katarak mengaburkan pandangan Anda dengan berkonsultasi ke dokter spesialis mata di RS Pondok Indah cabang terdekat.



Referensi:

  1. Li A, He Q, et al. Comparison of visual acuity between phacoemulsification and extracapsular cataract extraction: a systematic review and meta-analysis. Annals of Palliative Medicine. 2022. (https://apm.amegroups.org/article/view/89411/pdf). Diakses pada 5 Juni 2024.
  2. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Katarak: Kebutaan yang Dapat Dicegah. (https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/891/katarak-kebutaan-yang-dapat-dicegah). Direvisi terakhir 3 Agustus 2022. Diakses pada 5 Juni 2024.
  3. National Eye Institute. Cataracts. (https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/cataracts). Direvisi terakhir 15 November 2023. Diakses pada 5 Juni 2024.
  4. American Academy of Ophthalmology. What is Cataracts? (https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-are-cataracts). Direvisi terakhir 16 Oktober 2023. Diakses pada 5 Juni 2024.
  5. Cleveland Clinic. Cataract (Age-Related). (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8589-cataracts-age-related). Direvisi terakhir 7 Maret 2023. Diakses pada 5 Juni 2024. 
  6. Mayo Clinic. Cataracts. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cataracts/symptoms-causes/syc-20353790). Direvisi terakhir 28 September 2023. Diakses pada 5 Juni 2024.