By Tim RS Pondok Indah
Gastroparesis merupakan kelainan lambung yang menyebabkan pengosongan makanan di lambung lambat. Tanpa penanganan, kondisi ini dapat mengganggu proses pencernaan.

Kebanyakan kasus gastroparesis tidak dikenali sejak awal karena gejalanya mirip dengan gangguan lambung lain, seperti maag (dispepsia) atau penyakit asam lambung (GERD). Kondisi ini umumnya terdeteksi sebagai komplikasi dari penyakit lain, contohnya diabetes. Menurut penelitian, ada sekitar 41% penderita diabetes yang mengalami gastroparesis.
Meski begitu, kondisi ini tidak hanya menyerang penderita diabetes saja. Gastroparesis dapat terjadi tanpa penyebab yang pasti atau karena infeksi virus, penyakit autoimun, serta konsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menghambat pergerakan lambung. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui tanda-tandanya agar penanganan yang tepat bisa segera diberikan.
Gastroparesis adalah gangguan pada proses pencernaan yang menyebabkan pengosongan lambung tidak sempurna. Kondisi ini bukan disebabkan oleh sumbatan pada jalur yang menghubungkan lambung dengan usus halus, melainkan kerusakan pada saraf yang mengendalikan otot lambung (saraf vagus).
Gastroparesis tidak bisa dibiarkan tanpa penanganan, karena dapat menyebabkan mual dan muntah terus-menerus yang bisa menurunkan nafsu makan. Efek penurunan nafsu makan yang tidak terkontrol ini dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan nutrisi, penurunan berat badan yang tidak sehat, maupun dehidrasi.
Baca juga: Penyebab Sering Sendawa Terus Menerus & Cara Mengatasinya
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gastroparesis tidak mudah untuk dikenali sejak dini karena gejala awalnya mirip dengan gangguan pencernaan secara umum, mulai dari mual, muntah, dan perut kembung.
Walau demikian, ada beberapa gejala gastroparesis yang khas dan bisa membantu Anda mengenali penyakit ini, di antaranya:
Perlu diingat juga bahwa gejala gastroparesis biasanya muncul secara bertahap dan akan berkembang menjadi semakin parah seiring waktu. Pada penderita diabetes, gejala gastroparesis juga dapat berupa kadar gula darah yang selalu berubah-ubah.
Baca juga: Permasalahan Lambung Kaum Urban: Dispepsia, Gastritis, dan GERD
Penyebab gastroparesis adalah kerusakan pada saraf vagus. Normalnya, makanan yang berada di lambung akan didorong masuk ke usus halus oleh saraf vagus atau saraf yang mengendalikan otot perut.
Namun, pada penderita gastroparesis, saraf vagus mengalami kerusakan dan mengganggu fungsi otot lambung. Sehingga akan mengurangi gerakan otot lambung, atau bahkan tidak bergerak sama sekali, sehingga lambung tidak mampu mendorong makanan ke usus serta mengosongkan isinya. Efek dari kondisi ini akan menyebabkan makanan tinggal lebih lama di dalam lambung dan menghambat proses pencernaan.
Kerusakan saraf vagus ini umum terjadi pada penderita diabetes dan orang yang pernah menjalani operasi lambung. Namun, banyak pula pasien gastroparesis yang mengalami kondisi ini tanpa penyebab yang jelas (idiopatik).
Baca juga: Nyeri Ulu Hati, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami gastroparesis, yaitu:
Deteksi dini sangat diperlukan agar penyakit ini bisa dikendalikan dan tidak memicu komplikasi. Jadi, apabila Anda mengalami gejala gastroparesis seperti yang telah disebutkan di atas, terutama jika memiliki salah satu faktor risikonya, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di RS Pondok Indah cabang terdekat.
Dokter spesialis yang berpengalaman di bidangnya akan memeriksa kondisi Anda dengan bantuan teknologi medis terkini untuk hasil diagnosis yang akurat. Dengan begitu, rencana penanganan bisa diberikan dengan tepat sehingga Anda pun bisa menikmati hidup yang lebih berkualitas.
Baca juga: Nyeri Perut, Ketahui Penyebab, Gejala, dan Cara Meredakannya
Diagnosis gastroparesis ditegakkan melalui berbagai pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam. Pemeriksaan ini dimulai dari wawancara mengenai keluhan yang Anda alami dan riwayat kondisi medis yang menjadi faktor risiko gastroparesis. Selain itu, pemeriksaan fisik juga akan dilakukan untuk menilai kondisi pasien sebelum pemeriksaan penunjang dilakukan.
Tes pencitraan termasuk salah satu pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan oleh dokter untuk menegakkan diagnosis gastroparesis. Beberapa tes tersebut berupa:
Jika tidak ditemukan adanya penyumbatan pada lambung, dokter akan melakukan uji pengosongan lambung untuk menegakkan diagnosis gastroparesis. Uji pengosongan lambung ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:
Baca juga: Waspadai Radang Lambung dan Ketahui Cara Mengatasinya
Sejauh ini, pengobatan gastroparesis bertujuan untuk mengendalikan gejala dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Selain itu, penanganan gastroparesis juga ditujukan untuk merangsang kontraksi otot lambung, serta memastikan tubuh ternutrisi dan terhidrasi dengan baik.
Ada beberapa penanganan gastroparesis yang direkomendasikan oleh dokter, yaitu:
Baca juga: Apakah Gastroparesis Bisa Sembuh? Cek Informasinya di Sini!
Apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, gastroparesis bisa menimbulkan sejumlah komplikasi pada penderitanya. Berikut ini adalah beberapa komplikasi gastroparesis:
Baca juga: Nyeri Lambung, Periksakan Segera, Jangan Remehkan Akibatnya
Gastroparesis tidak bisa dicegah sepenuhnya, terlebih jika merupakan komplikasi dari kondisi medis lain. Namun, ada beberapa cara menjalani pola hidup sehat yang bisa Anda terapkan untuk meminimalkan risiko terjadinya kondisi ini, yaitu:
Gejala gastroparesis tidak selalu dapat dikenali sejak awal. Oleh karena itu, menjaga kesehatan maupun melakukan kontrol penyakit tertentu perlu dilakukan secara rutin agar tidak berkembang menjadi gastroparesis dan menghambat aktivitas sehari-hari.
Jadi, segera jadwalkan janji temu dengan dokter spesialis penyakit dalam di RS Pondok Indah terdekat bagi Anda yang memiliki salah satu faktor risikonya, terlebih jika sudah merasakan adanya gejala. Nantinya, dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit Pondok Indah akan melakukan pemeriksaan dan penanganan yang holistik dengan bantuan dari tim medis terkait untuk mengoptimalkan hasil pengobatan.
Baca juga: Langkah Awal Mendiagnosis Masalah Lambung
Proses pencernaan lambat bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti gangguan pergerakan usus, komplikasi diabetes, infeksi, konsumsi obat-obatan tertentu, atau gangguan neurologis. Jika otot-otot saluran pencernaan tidak berfungsi dengan baik, seperti pada penderita gastroparesis, makanan akan lebih lama bergerak dari lambung ke usus.
Anda bisa menyadari gejala gastroparesis seperti mual, muntah, perut kembung, nyeri perut, dan perasaan cepat kenyang setelah makan. Jika gejala ini berlangsung lama dan disertai penurunan berat badan, Anda memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dari dokter spesialis penyakit dalam untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Ya, jika tidak ditangani, gastroparesis dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti penurunan berat badan secara drastis, dehidrasi maupun malnutrisi. Pada kasus yang parah, gastroparesis juga berpotensi menyebabkan ketidakstabilan kadar gula darah dan risiko sumbatan usus.
Oleh karena itu, diagnosis dan pengelolaan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Stres tidak secara langsung menyebabkan gastroparesis. Namun, stres berlebihan dapat memperburuk gejala yang dialami penderita gastroparesis. Stress kronis bisa memperlambat pengosongan lambung dan memperburuk rasa mual atau kembung.
Gastroparesis sering memburuk di malam hari karena beberapa faktor, termasuk penurunan aktivitas fisik dan posisi tidur yang mempengaruhi aliran makanan di saluran cerna. Selain itu, makanan yang dikonsumsi di siang hari mungkin menumpuk di lambung dan menyebabkan gejala memburuk di malam hari, bahkan muntah.
Referensi: