Cedera ACL, yang Dapat Memengaruhi Karir dan Performa Atlet

By Tim RS Pondok Indah

Wednesday, 19 June 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Cedera ACL pasti tidak asing bagi pecinta olahraga. Kondisi yang sering dialami atlet ini sebenarnya bisa dialami siapapun, terutama yang sering beraktivitas fisik.

Cedera ACL, yang Dapat Memengaruhi Karir dan Performa Atlet

Di dalam sendi lutut, terdapat 3 tulang yang dihubungkan oleh ligamen. Bersama dengan posterior cruciate ligament (PCL), ACL atau anterior cruciate ligament menghubungkan tulang paha dan tulang kering. Keduanya saling bersilangan, menyerupai huruf X, dengan posisi ACL berada di depan (lebih dekat ke tulang lutut). Itulah mengapa cedera ACL juga dikenal dengan cedera ligamen lutut anterior.


ACL dan PCL memungkinkan lutut untuk menekuk dan kembali lurus. Kedua komponen ini juga bertugas mempertahankan stabilitas lutut dan tubuh, sehingga gangguan pada salah satu ligamen ini akan membuat penderitanya mengalami keterbatasan gerak maupun beraktivitas.


Apa itu Cedera ACL?

Cedera ACL adalah suatu kondisi yang menggambarkan kerusakan pada jaringan penghubung tulang paha bawah dan tulang kering. Robek atau meregangnya jaringan ini secara berlebih merupakan penyebab terjadinya cedera ACL.


Ketika terjadi cedera ACL, akan terdengar suara letupan dari sendi lutut yang diikuti dengan pembengkakan serta nyeri hebat saat pasien berdiri. Kondisi ini lebih sering dialami oleh atlet, terutama yang sering mengubah arah lutut maupun berhenti secara mendadak. Benturan keras pada lutut juga bisa menyebabkan cedera ACL. Keparahan cedera ACL akan berpengaruh pada penanganan yang akan diberikan oleh dokter.


Baca juga: Cedera Hamstring: Penyebab, Gejala, dan Penanganan



Penyebab Cedera ACL

Secara umum, penyebab cedera ACL adalah semua gerakan atau kondisi yang menambah tekanan pada lutut. Beberapa kondisi atau aktivitas yang bisa menyebabkan tekanan berlebih pada lutut adalah sebagai berikut ini:


  • Melambat secara mendadak
  • Berhenti mendadak saat tengah berlari kencang
  • Mengubah arah kaki, terutama lutut, secara mendadak
  • Memutar tubuh dengan posisi kedua telapak kaki masih menapak di lantai
  • Melompat dan mendarat dengan posisi kaki yang tidak tepat
  • Mengalami benturan pada lutut
  • Melakukan gerakan yang membuat lutut meregang secara berlebih


Baca juga: Getting Back On Track: Mengatasi Cedera Olahraga Pada Kaki


Faktor Risiko Cedera ACL

Beberapa faktor risiko cedera ACL:


  • Berjenis kelamin wanita
  • Berprofesi sebagai atlet, atau rutin melakukan olahraga yang melibatkan perubahan arah maupun berhenti secara mendadak, seperti yang dilakukan pada olahraga basket, sepak bola, tenis, dan bulu tangkis
  • Menggunakan perlengkapan olahraga yang tidak tepat maupun sudah lama, termasuk alas kaki yang tidak sesuai (terutama kebesaran) dan pelindung yang tidak gunakan dengan benar (seperti tidak memasang pengikat pada papan ski)
  • Berolahraga pada permukaan yang licin dan keras, maupun pada lapangan yang menggunakan rumput sintetis
  • Persiapan aktivitas olahraga (conditioning), termasuk pemanasan atau peregangan, yang kurang maksimal
  • Melakukan gerakan olahraga yang salah, seperti jongkok dengan posisi lutut mengarah ke dalam


Baca juga: Cara Penanganan Cedera Bulu Tangkis


Gejala Cedera ACL

Gejala cedera ACL masing-masing orang bisa berbeda, tergantung dari derajat keparahannya. Namun, secara umum, gejala cedera ACL yang sering dikeluhkan antara lain:


  • Bunyi letupan (ada juga yang mendengar ‘pop’) dari lutut ketika cedera ACL terjadi
  • Nyeri hebat pada lutut yang mengalami cedera
  • Keterbatasan gerak atau regangan pada lutut 
  • Nyeri saat berdiri maupun melakukan gerakan yang menggunakan lutut cedera sebagai tumpuan
  • Kesulitan berjalan yang dilihat dengan jalan terpincang-pincang
  • Ketidakstabilan pada lutut (lutut terasa tidak mantap, lemas)
  • Pembengkakan pada lutut yang memburuk dengan cepat dalam 24 jam setelah terjadinya cedera 
  • Memar (kulit tampak keunguan) dan terasa hangat pada lutut yang mengalami cedera


Jika Anda merasakan salah satu dari beberapa gejala cedera ACL, tidak ada salahnya memeriksakan diri ke dokter spesialis kedokteran olahraga. Tidak perlu menunggu sampai gejala mengganggu aktivitas, penanganan awal dari dokter yang dilakukan setelah pemeriksaan akan membebaskan Anda dari keluhan tersebut.


Tingkat Keparahan Cedera ACL

Berdasarkan derajat keparahan rusaknya ligamen, berikut ini adalah pengelompokan cedera ACL beserta gejalanya: 

1. Cedera ACL Derajat 1

Ligamen hanya mengalami peregangan atau kerusakan yang sangat minimal, sehingga tidak menyebabkan keluhan yang mengganggu aktivitas maupun fungsi lutut dalam menopang berat tubuh.


2. Cedera ACL Derajat 2

Menggambarkan peregangan yang menyebabkan ligamen lutut anterior menjadi kendur serta sedikit robek. Pada kondisi ini, pasien mulai mengalami ketidakstabilan pada lutut, atau biasa ditandai dengan pasien yang membutuhkan beberapa saat untuk membuat lutut stabil baru kemudian bisa berdiri bahkan berjalan.


3. Cedera ACL Derajat 3

Pada kondisi ini, ligamen ACL telah robek menjadi 2 bagian atau robek seutuhnya. Pasien dengan cedera ACL parah ini biasa akan mengeluhkan lututnya tidak stabil, jalan terpincang-pincang, bahkan tidak bisa berjalan.


Baca juga: Hindari Cedera Olahraga


Diagnosis Cedera ACL

Sebelum menentukan pengobatan, dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan kondisi serta keparahan cedera ACL yang terjadi. Selain melakukan anamnesa terkait keluhan dan kegiatan sebelum keluhan terjadi, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik berupa tes Lachman dan tes Drawer guna menegakkan diagnosa cedera ACL. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggerakan lutut ke berbagai posisi.


Pemeriksaan penunjang berupa USG, rontgen, maupun MRI lutut juga bisa disarankan untuk memastikan derajat keparahan cedera ACL yang Anda alami. Pada beberapa kasus, pemeriksaan menggunakan artroskopi bisa dilakukan untuk memastikan diagnosa cedera ACL. Kombinasi semua pemeriksaan tersebut menjadi dasar pertimbangan untuk pengobatan cedera ACL yang akan diberikan oleh dokter. 



RICE: Penanganan Cedera ACL Mandiri

Sebelum mendapatkan penanganan dari dokter, Anda bisa mengatasi cedera ACL dengan melakukan beberapa perawatan mandiri. Upaya penanganan mandiri ini dilakukan untuk mencegah cedera ACL makin parah, serta meringankan keluhan yang dirasakan. Beberapa upaya penanganan mandiri tersebut sebenarnya sama dengan penanganan untuk kasus keseleo (sprain), yakni RICE, yang terdiri dari:


  • Rest atau istirahatkan bagian lutut yang cedera, termasuk mengurangi pergerakan maupun aktivitas, termasuk berjalan
  • Ice atau kompres dingin bagian lutut yang cedera, selama 20 menit setiap 2 jam sekali diluar jam tidur 
  • Compression atau kompresi, yang dilakukan dengan membalut lutut yang cedera menggunakan perban elastis
  • Elevation atau elevasi, yang dilakukan dengan memposisikan lutut yang cedera lebih tinggi dengan mengganjalnya menggunakan bantal


Selain itu, konsumsi obat antinyeri bisa dilakukan untuk mengatasi nyeri lutut yang terjadi, setidaknya sampai bertemu dan diresepkan obat oleh dokter.


Baca juga: Mengapa Exercise Penting Dilakukan Pasca Cedera?


Pengobatan Cedera ACL oleh Dokter

Nantinya, dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan derajat keparahan cedera ACL yang terjadi. Pada cedera ACL derajat ringan, dokter akan menyarankan beberapa penanganan selain arahan untuk kontrol rutin. Tujuan kontrol adalah untuk memantau proses pemulihan hingga akhirnya pasien bisa kembali beraktivitas seperti biasa .Beberapa penanganan yang diberikan berupa:


  • Menggunakan brace atau penyangga lutut, maupun kruk, untuk mengurangi beban pada lutut
  • Fisioterapi untuk memperkuat otot di sekitar lutut, sehingga keterbatasan gerak tidak makin parah
  • Rutin berlatih dengan melakukan gerakan yang diajarkan oleh fisioterapis, secara mandiri di rumah
  • Kompres dingin maupun melakukan arahan dokter untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri lutut
  • Konsumsi obat yang diresepkan oleh dokter, termasuk obat antinyeri
  • Menghindari aktivitas yang bisa memperparah cedera ACL 


Sedangkan pada kasus cedera ACL yang sedang hingga berat, dokter akan menyarankan operasi sebagai pengobatan. Beberapa pertimbangan dilakukannya operasi ACL, antara lain:


  • Berprofesi sebagai atlet
  • Kerusakan atau robekan terjadi pada lebih dari 1 ligamen
  • Cedera ACL yang terjadi menyebabkan pasien tidak dapat beraktivitas
  • Cedera sudah terjadi selama lebih dari 5 bulan, agar tidak terjadi jaringan parut pada ligamen yang dapat membuat pergerakan jadi terbatas


Operasi ACL, atau operasi rekonstruksi ACL, dilakukan dengan mengangkat tendon yang rusak kemudian menggantikannya dengan graft. Yang dimaksud dengan graft adalah tendon yang diambil dari bagian tubuh lain, paling sering diambil dari otot paha belakang (hamstring) maupun otot lutut pasien, maupun dari donor atau orang lain.


Setelah operasi ACL, pasien tetap perlu menjalani fisioterapi. Tujuan fisioterapi di sini adalah untuk mengembalikan kekuatan otot dan pergerakan pasien, agar bisa beraktivitas dengan normal. Lamanya fisioterapi ini berbeda untuk masing-masing orang, tergantung dari keparahan cedera dan kondisinya. Namun, umumnya terapi berlangsung selama 6-12 bulan. 


Atlet yang mengalami cedera ACL biasanya baru akan diperkenankan untuk kembali berkompetisi setidaknya 1 tahun setelah proses operasi, dengan catatan fisioterapi rutin dilakukan. 


Meski tidak terlihat langsung oleh mata telanjang, keberadaan ACL sangat penting bagi pergerakan dan aktivitas seseorang. Oleh karena itu, kesehatannya perlu dijaga, bahkan lebih baik jika Anda bisa melakukan beberapa upaya pencegahan cedera ACL.


Jadi, jangan menunda untuk periksa ke dokter spesialis kedokteran olahraga di RS Pondok Indah bila Anda merasakan keluhan yang menyerupai gejala cedera ACL. Sebab pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin akan menghindarkan Anda dari komplikasi ACL, seperti keterbatasan gerak dan peradangan sendi (osteoartritis) lutut. 


Bahkan, atlet yang mengalami ACL terancam harus mengakhiri karirnya, jika tidak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat dan cepat.


Selain pemeriksaan dan penanganan dari dokter spesialis yang kompeten, Sport Medicine, Injury & Recovery Center (SMIRC) di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya juga menawarkan pelayanan fisioterapi yang akan membuat proses pemulihan setelah cedera ACL lebih cepat. Semua penanganan yang didesain khusus oleh tim medis kami akan memberikan kenyamanan dan hasil yang optimal bagi Anda.




Referensi:

  1. Shom P, Varma AR, Prasad R. The Anterior Cruciate Ligament: Principles of Treatment. Cureus. 2023. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10336184/). Diakses pada 14 Juni 2024. 
  2. Arundale AJ, Silvers‐Granelli HJ, Myklebust G. ACL injury prevention: Where have we come from and where are we going?. Journal of Orthopaedic Research®. 2022. (https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1002/jor.25058). Diakses pada 14 Juni 2024.
  3. Diermeier TA, Rothrauff BB, et al,. Treatment after ACL injury: panther symposium ACL treatment consensus group. British journal of sports medicine. 2021. (https://bjsm.bmj.com/content/bjsports/55/1/14.full.pdf). Diakses pada 14 Juni 2024.
  4. Meredith SJ, Rauer T, et al,. Return to sport after anterior cruciate ligament injury: Panther Symposium ACL Injury Return to Sport Consensus Group. Orthopaedic journal of sports medicine. 2020. (https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/2325967120930829). Diakses pada 14 Juni 2024.
  5. OrthoInfo. Anterior Cruciate Ligament (ACL) Injuries. (https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases--conditions/anterior-cruciate-ligament-acl-injuries). Direvisi terakhir Oktober 2022. Diakses pada 14 Juni 2024. 
  6. Cleveland Clinic. ACL Tear. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16576-acl-tear). Direvisi terakhir 2 Agustus 2023. Diakses pada 14 Juni 2024.
  7. Mayo Clinic. ACL Injury. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/acl-injury/symptoms-causes/syc-20350738). Direvisi terakhir 1 Desember 2022. Diakses pada 14 Juni 2024.