5 Mitos dan Fakta Terkait Penyakit Reumatik

Thursday, 07 March 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Penyakit reumatik sangat berkaitan dengan nyeri sendi. Ada banyak informasi mengenai penyebabnya yang beredar di tengah masyarakat

5 Mitos dan Fakta Terkait Penyakit Reumatik

Penyakit reumatik terdiri dari kurang lebih 200 jenis penyakit, dengan berbagai penyebab. Angka kejadian penyakit reumatik ini juga dilaporkan meningkat dengan bertambahnya usia, dan secara epidemiologi dengan adanya pertambahan angka harapan hidup secara global, termasuk di Indonesia.


Penyakit reumatik mempunyai spektrum yang lebar, dari kasus yang ringan sampai kasus yang berat.


Sebagian besar kasus reumatik ringan kerap dianggap sepele, dan seringkali pasien tidak berkonsultasi ke dokter sebagai upaya pemulihan pertama. Banyak yang memilih bertanya kepada keluarga, teman, mengulik informasi dari internet, hingga memutuskan untuk mengobati diri sendiri (self-medication).


Kondisi ini menyebabkan beredarnya mitos seputar penyakit reumatik yang belum tentu terbukti kebenarannya, tetapi dapat sangat memengaruhi keputusan pasien dalam pengobatan penyakit ini.


Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Reumatik


1. Sering mandi di malam hari mengakibatkan penyakit reumatik

Mitos yang paling sering kita dengar hingga saat ini adalah penyakit reumatik disebabkan oleh kebiasaan mandi di malam hari atau penggunaan pendingin ruangan/air conditioner (AC) yang terlalu sering, ataupun udara dingin.


Sering mandi di malam hari berakibat reumatik adalah mitos belaka, dan tidak terdapat bukti ilmiah sama sekali yang mengaitkan hal tersebut dengan penyakit reumatik. 


Hal yang dapat menjelaskan fenomena nyeri sendi yang muncul ketika mandi malam (dengan air dingin) atau penggunaan AC, kemungkinan adalah nyeri sendi yang memang sudah ada baik karena osteoartritis, artritis reumatoid maupun reumatik yang lain, yang memberat karena terpapar air atau suhu yang dingin.


Namun, air atau suhu dingin ini bukan penyebab penyakit reumatik, bahkan tidak menjadikan penyakitnya memberat. Hal yang khusus adalah air atau suhu dingin dapat memperberat kondisi fenomena raynaud, yaitu kondisi kurangnya pasokan darah ke ujung-ujung jari karena penyempitan pada penyakit autoimun seperti skleroderma.


2. Penderita reumatik tidak boleh makan daging, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan

Dugaan penderita reumatik tidak boleh makan daging, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan adalah mitos karena pada sebagian besar penyakit reumatik tidak ada pantangan khusus yang terbukti berpengaruh terhadap penyakitnya. Diet khusus diperlukan pada beberapa penyakit reumatik, seperti pada penyakit celiac (intoleransi gluten), yakni harus menghindari konsumsi gluten.


Pada kasus dengan hiperurisemia (asam urat tinggi) dan gout, maka pasien harus menjalani diet rendah purin, termasuk menghindari alkohol, wine, pemanis buatan, jeroan, seafood, dan membatasi konsumsi daging.


Sedangkan sayur dan kacang-kacangan terbukti tidak banyak berpengaruh dalam menyebabkan reumatik gout. 


3. Penyakit reumatik adalah penyakit orang tua

Pandangan bahwa penyakit reumatik adalah penyakit orang tua merupakan mitos, karena penyakit reumatik dapat ditemui pada segala kelompok umur. Misalnya, pada usia anak dapat ditemui penyakit juvenille idiopathic arthritis, pada usia dewasa muda dapat ditemukan penyakit lupus, dan lainnya.


Khusus penyakit reumatik jenis degeneratif seperti osteoartritis (kerusakan tulang rawan sendi), dan juga osteoporosis (keropos tulang) memang akan sering ditemui pada usia lanjut, dan semakin meningkat prevalensinya seiring bertambahnya usia.


4. Penyakit reumatik adalah penyakit keturunan

Informasi mengenai penyakit reumatik adalah penyakit keturunan, mungkin benar pada sebagian kasus, tetapi tidak dapat diberlakukan secara umum. Penyakit reumatik autoimun seperti lupus atau artritis reumatoid, diketahui memiliki peran faktor genetik, meskipun terdapat juga faktor lingkunan yang memengaruhi, seperti paparan zat tertentu, merokok, atau infeksi virus pemicu.


Penyakit-penyakit degeneratif seperti osteoartritis, atau penyakit metabolik seperti gout juga memiliki peran faktor genetik. Sedangkan pada kasus seperti nyeri di telapak kaki (plantar fasciitis), terdapat faktor mekanik yang dominan seperti berat badan berlebih, pilihan alas kaki yang keras, trauma, dan lainnya, sehingga tidak ada keterlibatan faktor genetik.


5. Penyakit reumatik dan radang sendi berhubungan dengan kadar asam urat tinggi

Dalam keseharian, kita seringkali menemui fenomena bahwa setiap mengalami nyeri sendi, nyeri otot ataupun hanya pegal-pegal, dugaan paling sering penyebabnya adalah asam urat, sehingga banyak yang secara otomatis meminta pemeriksaan asam urat serum.


Pandangan bahwa penyakit reumatik dan radang sendi berhubungan dengan kadar asam urat tinggi tidaklah tepat, karena penyakit reumatik dengan keluhan utama nyeri sendi/otot terdiri dari puluhan penyakit yang berbeda tampilan klinis dan juga penyebabnya. 


Gout atau nyeri sendi akibat asam urat mempunyai karakteristik sendiri yang dapat diidentifikasi oleh dokter. Karakteristiknya adalah nyeri sendi yang tiba-tiba, nyeri sangat hebat sampai sulit beraktivitas, dan keluhan yang dapat menghilang tidak lebih dari dua minggu.


Keluhan nyeri dengan karakteristik seperti itu dapat dicurigai sebagai akibat asam urat dan perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut termasuk kadar asam urat serum. Pada keluhan yang tidak spesifik, harus dicari kemungkinan penyebab lain dan tentu diperlukan pemeriksaan lainnya.


Kondisi nyeri sendi/otot/nyeri struktur sekitarnya memang tidak mudah untuk didiagnosis, mengingat tampilan yang hampir sama, Oleh karena itu, kami sarankan Anda segera berkonsultasi dengan dokter yang tepat apabila mengalami gejala nyeri sendi.


Mengidentifikasi penyebab yang tepat sedini mungkin akan membantu Anda mendapatkan terapi yang sesuai dengan segera.