Close
Close Language Selection
Health Articles

Tak Lupa di Kala Tua

Rabu, 05 Des 2018
Tak Lupa di Kala Tua

Menjadi tua memang tidak dapat dihindari, tapi tidak dengan menjadi pikun. Menjalani hidup sehat dan terus melatih kemampuan otak dapat membuat kita terhindar dari demensia.

Indonesia saat ini termasuk negara dengan struktur populasi tua, karena memiliki proporsi penduduk lansia lebih dari tujuh persen. Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2017 diperkirakan sebesar 23,66 juta jiwa (9,03 persen dari seluruh penduduk Indonesia). Peningkatan populasi lansia akan berdampak pada perubahan pola penyakit di masyarakat. Salah satu gangguan kesehatan yang akan umum ditemui adalah penurunan fungsi kognitif, misalnya: demensia/pikun.

Fungsi kognitif
Fungsi kognitif berperan sangat penting bagi manusia agar mampu berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Fungsi kognitif merupakan aktivitas mental otak secara sadar yang melibatkan beberapa domain.

  • Orientasi. Kemampuan mengenal atau mengidentifikasi waktu, tempat, dan orang.
  • Atensi. Kemampuan memperhatikan suatu stimulus dengan mengabaikan stimulus lain yang tidak diperlukan. Kemampuan mempertahankan atensi dalam waktu yang lebih lama disebut konsentrasi.
  • Bahasa. Modalitas dasar untuk komunikasi dan membangun fungsi kognitif. Kemampuan bahasa meliputi parameter: kelancaran, pemahaman, pengulangan, dan penamaan.
  • Fungsi memori. Kemampuan melakukan proses penerimaan dan penyandian informasi, proses penyimpanan, serta proses mengingat. Fungsi memori dibagi dalam tiga tingkatan: memori segera (immediate memory), memori baru (recent memory), dan memori lama (remote memory).
  • Kemampuan visuospasial. Kemampuan konstruksional seperti menggambar atau meniru berbagai gambar dan menyusun bentuk.
  • Fungsi eksekutif. Proses kompleks dalam memecahkan masalah atau persoalan baru. Proses ini meliputi kesadaran terhadap keberadaan suatu masalah, mengevaluasi, menganalisis, serta memecahkan atau mencari jalan keluar.

Pra-demensia dan demensia/pikun
Penurunan fungsi kognitif tingkat ringan yang tidak sampai mengganggu aktivitas hidup sehari-hari atau mengakibatkan perubahan perilaku, disebut sebagai mild cognitive impairment atau pra-demensia.

Penurunan fungsi kognitif intelektual yang cukup berat, sehingga mengganggu aktivitas sosial dan profesional yang tercermin dalam aktivitas hidup keseharian atau mengakibatkan perubahan perilaku, disebut sebagai demensia atau pikun.

Seberapa banyak kejadian pra-demensia dan demensia/pikun?
Angka kejadian pra-demensia pada populasi penduduk lansia berkisar antara 7,7 – 42 persen. Penderita pra-demensia yang tidak mendapatkan penatalaksanaan adekuat akan lebih mudah berkembang menjadi demensia dengan tingkat progresivitas antara 10 – 12 persen per tahun. Angka kejadian demensia pada populasi penduduk lansia berkisar antara 5 – 7 persen, dan di beberapa negara dengan struktur populasi tua dapat mencapai 19 persen. Penderita demensia di Indonesia pada 2015 diperkirakan sekitar 1,2 juta jiwa. Jumlah ini pada 2030 diperkirakan mencapai hampir dua juta jiwa jika tidak dilakukan penanganan dan pencegahan yang tepat. Beberapa bentuk demensia yang sering ditemukan adalah alzheimer’s disease (sekitar 50 – 70 persen), demensia vaskular, demensia lewy body dan demensia penyakit parkinson, serta demensia Frontotemporal.

Cara mengetahui pra-demensia atau demensia/pikun
Penurunan fungsi kognitif pada demensia umumnya terkait gangguan memori, terutama gangguan memori baru. Memori lama dapat terganggu pada demensia tahap lanjut. Namun demikian, tidak semua orang dengan gangguan memori adalah penderita demensia/pikun. Dan sebaliknya, tidak semua penderita demensia/pikun memiliki gejala utama gangguan memori, dapat saja gejala utamanya adalah penurunan fungsi kognitif yang lain. Untuk memastikan seseorang menderita demensia/pikun, perlu pemeriksaan riwayat neurobehavior, pemeriksaan fisik neurologis, dan pemeriksaan kognitif lebih lanjut. Pemeriksaan neurobehavior yang sering dilaksanakan adalah pemeriksaan CERAD, atau yang lebih sederhana seperti: MoCA-INA, MMSE, CDT, dan AD8. Saat ini, beberapa pemeriksaan neurobehavior sederhana tersedia dalam bentuk aplikasi di gadget.

Cara mempertahankan fungsi kognitif
Proses degeneratif ditentukan secara genetik, dan dipengaruhi oleh gaya hidup sejak muda. Untuk menjaga otak tetap sehat, perlu dibiasakan pola hidup sehat untuk otak yang dilakukan sejak muda sampai lansia.

Beberapa tips pola hidup sehat untuk otak:

  • Selalu berpikir positif
  • Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah
  • Olahraga yang cukup dan teratur (misalnya: jalan kaki selama 30 menit setiap hari; senam gerak latih otak)
  • Stimulasi kognitif untuk menjaga otak tetap berpikir aktif (ingat selalu semboyan: use it or lose it)
  • Menjaga pola makan sehat
  • Aktif kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan (khususnya berperan serta dalam pemecahan masalah di lingkungan kita)
  • Menghindari cedera kepala
  • Selalu mengelola stres dengan baik

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia lalai mensyukurinya, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. Mari mensyukurinya, salah satunya dengan menjalankan pola hidup sehat.

Dr. dr. Gea Pandhita, M.Kes, Sp.S

Spesialis Saraf
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor