Close
Close Language Selection
Health Articles

Penanganan Mandiri COVID-19 di Rumah

Senin, 01 Mar 2021
Penanganan Mandiri COVID-19 di Rumah

Seiring dengan bertambahnya jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia dan penuhnya kapasitas fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah, masyarakat berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai penanganan COVID-19 secara mandiri, agar mereka dapat menjalani isolasi di rumah. Informasi biasanya didapat melalui kerabat yang mungkin sudah pernah terkena penyakit tersebut terlebih dahulu, atau melalui berbagai pesan di media sosial. 

Penyakit COVID-19 semakin hari semakin mendekat dengan keseharian kita. Karenanya, protokol kesehatan 5M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas) harus terus dipatuhi secara ketat. Demi mengurangi angka penyebaran penyakit ini.

Penanganan COVID-19 sendiri terdiri dari penanganan secara medikamentosa (dengan terapi pengobatan), ataupun secara non-medikamentosa (tanpa menggunakan obat-obatan). Penanganan non-medikamentosa masih dapat diterapkan secara mandiri, baik pengaturan pola makan, latihan pernapasan, serta pengecekan suhu dan saturasi oksigen secara berkala. Namun, yang cukup menjadi kontroversi dan mungkin dapat menimbulkan masalah baru adalah penanganan dengan obat-obatan secara mandiri. 

Obat-obatan sendiri secara garis besar dapat dibagi menjadi obat-obatan bebas yang dapat dibeli secara mudah di mana saja yaitu OTC (over the counter), ataupun yang harus dibeli dengan rekomendasi dan atau resep dari dokter. Obat-obatan yang dapat dibeli secara bebas, dapat dikatakan cenderung aman dengan tingkat keamanan yang berbeda-beda. Namun, yang cukup berbahaya adalah apabila obat-obatan yang seharusnya hanya dapat diperoleh dengan resep dokter, ternyata disarankan dibeli secara bebas untuk penanganan COVID-19 secara mandiri di rumah.

Beberapa bulan belakangan, sudah cukup banyak pesan di media sosial atau jejaring WhatsApp yang beredar berisikan saran-saran yang harus dilakukan oleh pasien COVID-19. Isi pesannya bervariasi, mulai dari informasi untuk mengonsumsi vitamin dan mineral tertentu, sampai yang kurang lumrah seperti minum minyak kayu putih. Apakah saran-saran ini semuanya dapat diikuti? Satu hal yang perlu dicermati adalah setiap obat memiliki efek samping yang mungkin dapat timbul jika tidak digunakan secara tepat dosis dan tepat guna. Terapi untuk pasien COVID-19 mencakup pemberian obat-obatan dan tentunya juga pengecekkan berkala terhadap efek samping yang mungkin muncul akibat terapi.

Berdasarkan standar terapi dari petunjuk yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pasien COVID-19 tanpa gejala atau dengan gejala ringan sebenarnya cukup mendapatkan multivitamin dan mineral saja. Pemberian multivitamin dan mineral ini berdasarkan dosis dan kebutuhan harian, tentunya ditunjang dengan istirahat cukup dan mengonsumsi makanan bergizi selama masa isolasi mandiri.

Bagaimana dengan kasus COVID-19 sedang dan berat? Idealnya kasus COVID-19 sedang dan berat dirawat di fasilitas kesehatan. Namun apabila pasien akhirnya harus dirawat secara mandiri di rumah tentunya terapi yang diberikan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter, termasuk edukasi mengenai tanda-tanda bahaya (alarm sign) dan kapan harus kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Secara garis besar, terapi yang diberikan mencakup terapi antivirus dan terapi simptomatik atau gejala. Untuk terapi antivirus, pilihan obat yang digunakan adalah favipiravir atau oseltamivir. Keduanya adalah obat-obatan golongan obat keras yang harus didapatkan dengan resep dokter. Efek samping yang paling sering dari obat favipiravir adalah peningkatan fungsi hati dan serum asam urat. Obat ini juga diduga dapat menyebabkan cacat pada janin dan dibawa oleh sel sperma, sehingga penggunaannya sangat perlu pengawasan ketat, apalagi pada pasien dengan usia subur dan aktif secara seksual.

Ada juga yang menyarankan penggunaan obat antibiotik. Antibiotik adalah obat-obatan yang digunakan untuk membunuh bakteri. Pada kasus COVID-19 terkadang dokter memberikan obat golongan ini apabila dicurigai ada infeksi sekunder oleh bakteri di tubuh Anda. Namun, tidak semua pasien COVID-19 membutuhkan terapi obat antibiotik. Beberapa penelitian pada awal pandemik menyarankan penggunaan antibiotik azithromycin yang dikombinasikan dengan hydroxychloroquine, namun efek samping yang berat, seperti dapat menyebabkan gangguan ritme jantung yang kadang bisa bersifat fatal, dan efektivitas obat yang ternyata tidak terlalu bermanfaat secara signifikan menyebabkan penggunaannya harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang, apakah benar diperlukan atau tidak.

Penggunaan obat batuk juga menjadi salah satu yang direkomendasikan. Tetapi, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana tipe batuk yang dialami oleh pasien. Apakah ada dahak atau tidak, apakah batuknya batuk kering atau tidak. Hal itu karena penggunaan obat batuk apalagi yang berfungsi sebagai pengencer dahak pada batuk kering mungkin tidak berguna, malah merangsang batuk semakin parah karena tenggorokan terasa gatal. Penggunaan obat batuk yang bersifat antitusif atau menekan refleks batuk pada pasien dengan batuk berdahak malah menyebabkan penumpukan lendir yang justru menyebabkan sesak napas karena lendir tidak dapat dikeluarkan.

Penggunaan obat-obatan seperti multivitamin dan penurun demam juga sebaiknya dapat dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, karena ada dosis maksimum yang dapat dikonsumsi. Obat-obatan ini apabila digunakan secara berlebihan malah dapat menyebabkan efek samping pada organ yang berfungsi mengatur metabolisme obat, seperti hati ataupun ginjal.

Dapat disimpulkan bahwa penanganan mandiri COVID-19 di rumah, tidak semudah yang kita pikirkan. Jadi, apabila Anda dan keluarga terkena COVID-19, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan terapi pengobatan yang sesuai sebelum melakukan isolasi mandiri ya :)

dr. Muliadi Limanjaya

Dokter Umum
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Rabu, 17 Okt 2018

Lutut Sehat, Mobilitas Lancar

Read More
Health Articles Selasa, 17 Sep 2019

Nyeri Haid

Read More
Health Articles Sabtu, 23 Mei 2020

Mengatasi Kejenuhan Ketika #dirumahaja

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor