Close
Close Language Selection
Health Articles

Monitor Komposisi Tubuh Anda, Raih Sehat dan Berat Badan Ideal

Senin, 27 Mar 2017
Monitor Komposisi Tubuh Anda, Raih Sehat dan Berat Badan Ideal

Pada dekade terakhir ini, angka kejadian obesitas pada penduduk Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Kondisi ini kemudian menempatkan penduduk Indonesia pada kelompok yang berisiko tinggi untuk menderita penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes mellitus. Jika Anda tak ingin masuk ke dalam kelompok tersebut, ada baiknya untuk memonitor berat badan Anda mulai sekarang.

Obesitas saat ini diketahui sebagai faktor risiko utama yang independen terhadap penyakit jantung. Salah satu cara melihat apakah Anda memiliki berat badan berlebih adalah dengan cara mengukur berat badan dan lingkar perut. Apabila melebihi nilai normal maka dapat menurunkan sensitivitas hormon insulin. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan berbagai gangguan dalam tubuh, di antaranya metabolisme karbohidrat dan lemak darah. Gangguan yang berlangsung lama dan tidak teratasi pada akhirnya akan memengaruhi elastisitas pembuluh darah serta pembentukan plak yang menyebabkan penyakit jantung koroner.

Terkait dengan hal tersebut, menjaga status gizi yang normal merupakan hal yang sangat penting. Namun demikian, keterkaitan obesitas terhadap terjadinya penyakit degeneratif bukan semata-mata terletak pada menjaga berat badan normal, namun lebih pada memastikan bahwa komposisi tubuh, dalam hal ini lemak dan distribusinya, berada dalam kisaran yang normal.

Korelasi komposisi tubuh dengan status gizi
Seseorang yang memiliki distribusi lemak tubuh pada area sekitar perut memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit degeneratif daripada mereka yang memiliki distribusi pada daerah lainnya, misalkan pada area panggul dan bokong meskipun keduanya memiliki status gizi yang sama. Seseorang yang kurus namun memiliki lingkar pinggang yang melebihi nilai normal jauh lebih berisiko daripada seseorang yang memiliki berat badan lebih namun dengan lingkar perut yang normal.

Dari uraian tersebut di atas maka menjadi jelaslah bahwa komposisi tubuh menunjukkan korelasi yang lebih erat daripada status gizi semata yang penilaiannya biasanya menggunakan indeks massa tubuh (IMT). Penilaian status gizi dengan IMT ini dilakukan dengan menimbang dan mengukur berat dan tinggi badan. Kemudian dimasukkan dalam rumus berikut:

Namun demikian penggunaan IMT tak langsung semata-mata menjadi salah. IMT cukup efektif untuk menjaring orang-orang yang berisiko tinggi. Dalam upaya tindak lanjut dan pemantauan, komposisi tubuh lebih dipilih oleh karena secara patofisiologi distribusi dan kadar lemak lebih memengaruhi progresifitas penyakit. Selain itu, pada dasarnya berat badan yang ditimbang tidak hanya menggambarkan kandungan lemak tubuh saja namun juga massa otot, tulang, organ tubuh, dan yang paling besar adalah air.

Seseorang bisa saja memiliki IMT yang menunjukkan bahwa ia overweight atau bahkan obesitas, seperti misalnya seorang atlet binaraga, namun komposisi tubuhnya menunjukkan bahwa kandungan lemaknya berada dalam batas normal. Hal ini tentu saja tidak menempatkan ia berisiko untuk menderita penyakit diabetes mellitus misalnya.

Cara menilai komposisi tubuh
Penilaian komposisi tubuh dapat dilakukan dengan berbagai cara. Secara sederhana, mengukur rasio lingkar perut dan lingkar panggul secara kasar dapat menggambarkan komposisi tubuh seseorang, meskipun lingkar perut yang diperoleh dapat saja berasal dari body frame (rangka tubuh yang besar), atau karena kondisi tertentu misalnya pengukuran dilakukan setelah orang tersebut makan. Ukuran lingkar perut, tanpa membandingkan dengan lingkar panggul, cukup efektif digunakan untuk pemantauan.

Cara penilaian komposisi tubuh yang lainnya adalah dengan menggunakan alat yang disebut Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) yang cara kerjanya menggunakan elektroda. Signal elektroda akan menjalar dalam tubuh. Pemeriksaan ini sebenarnya cukup sederhana dan mudah. Anda hanya perlu berdiri di atas timbangan yang sudah memiliki elektroda dan hasilnya akan segera diketahui saat itu juga.

BIA tak hanya menilai kandungan lemak tubuh namun juga dapat menganalisis kebutuhan metabolisme dasar tubuh Anda. Nilai yang diperoleh ini kemudian penting untuk menentukan besarnya energi dan jumlah makanan yang boleh dikonsumsi oleh Anda dalam satu hari.

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc, Sp.GK

Spesialis Gizi Klinik
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor