Close
Close Language Selection
Health Articles

Lansia Sulit Kendalikan Keinginan Berkemih?

Selasa, 16 Mei 2023
Lansia Sulit Kendalikan Keinginan Berkemih?

Penuaan merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Menjaga hidup tetap sehat dan berkualitas menjadi poin pentingnya. 

Inkontinensia urine adalah kondisi ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan proses berkemih sehingga mengompol. Inkontinensia urine merupakan kondisi yang sering dialami oleh para geriatri (lansia). Urine dapat keluar melalui saluran kemih tanpa dikendalikan secara sadar atau justru mengalami kesulitan saat mengeluarkan urine, sedangkan secara sadar seharusnya proses berkemih ini dapat dikontrol. 

Banyak lansia menganggap bahwa inkontinensia urine merupakan bagian dari proses penuaan alami, sehingga sebagian besar dari mereka enggan berkonsultasi ke dokter. Terkadang ada perasaan malu dan tabu. Kondisi inkontinensia urine ini meningkat seiring dengan waktu. Pada wanita 1,5 kali lebih sering terjadi dibandingkan pria. Fisiologi berkemih pada dasarnya yakni ginjal memproduksi urine, lalu melewati ureter dan ditampung di kandung kemih. Kemudian urine melewati uretra untuk mencapai dunia luar. 

Sesungguhnya, terdapat beberapa kondisi di mana inkontinensia urine bukan disebabkan oleh proses penuaan, yakni disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti obesitas, diabetes, infeksi, maupun kelainan mental tertentu. Karenanya, diperlukan pemeriksaan oleh dokter untuk mengetahui dengan pasti penyebab terjadinya inkontinensia urine. 

Faktor risiko inkontinensia urine 
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami inkontinensia urine, yaitu: 

  • Pernah melahirkan 
  • Obesitas atau memiliki berat badan berlebih 
  • Menopause atau berusia lanjut 
  • Merokok 
  • Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) 
  • Riwayat prolaps organ kemaluan 
  • Radiasi pelvis 
  • Diabetes 
  • Parkinson 
  • Trauma punggung 
  • Demensia 
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu 

Jenis-jenis inkontinensia urine 
Gejala inkontinensia urine bervariasi, dapat timbul sekali-sekali dan dalam jumlah yang sedikit, atau dapat juga lebih sering dan dalam jumlah yang lebih banyak. Berikut ini lima tipe inkontinensia urin beserta masing-masing gejalanya: 

1. Stress incontinence – mengompol ketika sudah penuh 
Kandung kemih berfungsi untuk menampung urine hingga penuh. Penderita stress incontinence memiliki otot pengatur proses berkemih yang lemah. Sehingga ketika kandung kemih sudah terisi penuh dan memberikan tekanan pada otot tersebut, urine dapat keluar. Proses ini dapat terjadi saat batuk, bersin, tertawa, maupun mengangkat beban berat. Kelainan ini dapat disebabkan oleh penuaan, kehamilan, dan operasi. 

2. Urge incontinence – ingin berkemih secara berkala
Sering memiliki keinginan untuk berkemih secara tiba-tiba dan terjadi pada interval yang singkat (kurang dari 30 menit). Kandung kemih belum terisi penuh, tetapi penderita urge incontinence ingin segera ke toilet. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi dinding pembuluh darah yang tidak teratur sehingga menekan urine yang ditampung. Kemudian penderita merasakan keinginan untuk berkemih secara tiba-tiba dan mengeluarkan volume urine yang sedikit. Kelainan ini dapat disebabkan oleh infeksi, ketidakstabilan otot dinding pembuluh darah, dan tumor. 

3. Overflow incontinence – mengeluarkan urine sedikit dan tiba-tiba
Penderita overflow incontinence justru memiliki hambatan dalam mengeluarkan urine. Urine pada kandung kemih akan menumpuk dan hanya dapat keluar saat tekanannya sangat tinggi. Urine yang dapat keluar pun hanya sedikit, tetapi terjadi secara tiba-tiba. Jenis ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Kelainan ini dapat disebabkan oleh batu kandung kemih, pembesaran prostat, tumor, atau kerusakan saraf. 

4. Mixed incontinence – lebih dari satu jenis inkontinensia urine 
Penderita mengalami lebih dari satu jenis inkontinensia urin, seperti adanya stress incontinence dan urge incontinence secara bersamaan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya penderita mengalami kandung kemih yang overaktif ditambah dengan adanya kelainan saat penutupan saluran kandung kemih. 

5. Continuous incontinence – urine keluar secara terus menerus 
Penderita inkontinensia urine total terjadi ketika kandung kemih sama sekali tidak mampu menampung urine sehingga penderitanya akan terus mengompol. Diperlukan anamnesis pemeriksaan fisik status lokalis pemeriksaan vagina, dubur, pemeriksaan penunjang laboratorium, ultrasonografi, CT-Scan, MRI uroflowmetri urodinamik untuk memastikan diagnostik. Tatalaksana penanganan inkontinensia urine meliputi modifikasi hidup sehat, menjaga jenis dan pola minum yang dikonsumsi, rutin berolahraga, menjaga kebersihan organ intim, terapi pengobatan, sampai tindakan operatif, dan rehabilitasi medik. Penanganan untuk inkontinensia urine akan disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing penderitanya. 

dr. Devintha Tiza Ariani, Sp. U

Urologi
RS Pondok Indah - Puri Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor