Kenali DBD, mulai dari Penyebab hingga Penanganannya 

Oleh Tim RS Pondok Indah

Jumat, 14 Juni 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

DBD adalah penyakit yang disebabkan virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Simak informasi selengkapnya mengenai penyakit ini!

Kenali DBD, mulai dari Penyebab hingga Penanganannya 

DBD masih menjadi salah satu penyakit yang turut menyumbang angka kematian tinggi di Indonesia. Padahal, penanganan awal yang tepat bisa menyelamatkan nyawa penderita DBD. Selain itu, beberapa langkah pencegahan DBD bisa diterapkan dengan mudah dan sederhana, tetapi efektif untuk menjauhkan diri dari infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini. 


Demam berdarah dengue (DBD) terdiri 3 fase yang masing-masing memiliki gejala berbeda. Awalnya mungkin Anda tidak akan menyadari tengah terinfeksi DBD, karena keluhan yang dirasakan seperti sedang sakit flu. Kondisi ini dikenal dengan DD atau demam dengue (dengue fever).


Anda dikatakan mengalami penyakit demam berdarah ketika terjadi perdarahan, baik yang bisa terlihat maupun tidak. Beberapa tanda perdarahan ini bahkan bisa menyebabkan komplikasi yang membahayakan nyawa. Oleh karena itu, Anda perlu mengenali gejala DBD agar penanganan yang tepat bisa diberikan. Lebih baik lagi, mengetahui cara mencegah DBD perlu dilakukan supaya Anda tidak terinfeksi, bahkan sampai megalami komplikasi penyakit yang sering muncul di musim hujan ini.


Mengenal Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD atau demam berdarah dengue adalah salah satu penyakit infeksi di negara beriklim tropis, yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Menurut data Kemenkes RI, tercatat setidaknya 16.000 kasus DBD yang terjadi sampai tanggal 1 Maret 2024 di 213 Kabupaten/Kota di Indonesia.


Baca juga: Musim Hujan Tiba, Waspada Demam Berdarah pada Anak!


Penyebab DBD

Demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Sampai saat ini diketahui ada 4 jenis virus dengue. Infeksi salah 1 dari jenis virus ini akan menyebabkan Anda mengalami DBD.

Setelah terinfeksi salah 1 jenis virus dengue, Anda akan kebal terhadap jenis virus tersebut untuk selamanya. Namun, Anda masih mungkin mengalami DBD karena terinfeksi salah satu dari 3 jenis virus dengue yang lain.


DBD termasuk salah satu penyakit zoonosis, yang berarti penyakit infeksi ini ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang menularkan infeksi ini adalah nyamuk. Umumnya, gigitan nyamuk Aedes aegypti lah yang menjadi penyebab demam berdarah.


Jadi, bila Anda bertanya apakah DBD menular? Jawabannya adalah tidak ditularkan langsung antar manusia, melainkan dari nyamuk yang telah menghisap darah penderita DBD, ke manusia lain yang sehat.



Gejala DBD

Kebanyakan penderita DBD tidak merasakan adanya gejala apa pun. Namun, ada juga beberapa orang yang mengeluhkan gejala DBD, dengan keparahan yang berbeda-beda. Gejala demam berdarah ringan sering dikeluhkan menyerupai gejala flu. Sedangkan untuk gejala yang berat bahkan bisa menyebabkan perdarahan yang membahayakan nyawa.


Gejala Demam Berdarah Ringan

Mereka yang mengalami gejala DBD akan merasakannya 4-10 hari setelah digigit nyamuk Aedes aegypti. Demam yang merupakan gejala utama demam berdarah dikenal dengan demam pelana kuda, yang akan dimulai dengan demam tinggi (hingga 40°C) dan akan turun atau seolah-olah sudah membaik, tetapi akan kembali mengalami peningkatan suhu.


Selain demam tinggi, beberapa keluhan yang dirasakan sebagai gejala DBD, meliputi:


  • Sakit kepala yang sangat parah
  • Nyeri di belakang mata
  • Nyeri otot dan tulang yang biasa dikeluhkan sebagai pegal linu atau badan pegal-pegal
  • Tidak nafsu makan
  • Mual bahkan muntah
  • Lemas
  • Ruam kulit, atau bintik-bintik merah di kulit


Mengingat gejala DBD yang ditimbulkan menyerupai flu dan penyakit ringan lainnya, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam untuk memastikan penyebab dari keluhan yang dirasakan saat ini. Nantinya dokter akan memberikan penanganan yang sesuai, setelah memeriksa dan memastikan kondisi Anda.


Gejala Dengue Shock Syndrome (DSS)

Gejala DBD umumnya akan membaik dengan sendirinya dalam 1-2 minggu kemudian. Namun, 1 dari 20 orang yang menderita DBD bisa saja mengalami komplikasi yang membahayakan nyawa, yakni DSS atau dengue shock syndrome. Komplikasi DBD ini juga lebih berisiko dialami oleh mereka yang sudah pernah terinfeksi sebelumnya. Beberapa gejala DBD yang parah atau DSS, antara lain:


  • Merasa lemas, setelah merasa tubuh sempat membaik
  • Muntah hebat, atau terjadi berulang kali dan tidak kunjung berhenti
  • Nyeri perut yang parah 
  • Gusi berdarah atau mimisan, maupun memar 
  • BAB berdarah atau BAB berwarna hitam 
  • Muntah darah
  • Jantung berdebar-debar
  • Gelisah
  • Napas lebih cepat
  • Kulit teraba dingin, tampak pucat, dan lembab karena keringat dingin


Jika mengalami salah satu gejala DBD parah seperti di atas, Anda harus memeriksakan diri ke IGD terdekat untuk mendapatkan penanganan dan pengawasan ketat dari dokter. 


Baca juga: Pentingnya Vaksinasi bagi Orang Dewasa



Penanganan DBD

Sebelum memberikan perawatan DBD yang Anda alami, dokter akan memastikan dengan mengajukan beberapa pertanyaan sembari melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan penunjang juga akan disarankan guna menunjang diagnosa DBD, termasuk pemeriksaan NS1, IgG dan IgM dengue, hitung darah lengkap, dan tes fungsi hati. 


Tujuan penanganan DBD bukanlah menyembuhkan, karena penyakit akibat infeksi virus ini sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya sekitar 1 minggu. Penanganan yang diberikan bertujuan mengatasi keluhan, meningkatkan kekebalan tubuh pasien, serta mencegah terjadinya komplikasi demam berdarah.


Beberapa penanganan DBD yang bisa dilakukan, meliputi:


  • Melakukan kompres hangat untuk menurunkan demam, atau konsumsi obat penurun demam jika kompres tidak dapat menurunkan suhu tubuh
  • Memastikan asupan cairan telah terpenuhi
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Istirahat cukup


Baca juga: Flu Singapore, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya


Pencegahan DBD

Agar senantiasa terhindar dari demam berdarah, bahkan komplikasinya, upaya pencegahan DBD perlu dilakukan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan gerakan 3M Plus sebagai upaya pencegahan DBD. Beberapa upaya tersebut meliputi: 


  • Menguras tempat penampungan air
  • Menutup tempat-tempat penampungan air
  • Mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.


Sementara poin Plus yang dimaksud, adalah sebagai berikut ini:


  • Menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk
  • Memeriksa tempat-tempat yang digunakan untuk penampungan air
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  • Menggunakan obat anti nyamuk
  • Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi yang ada di rumah
  • Melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan secara bersama
  • Meletakkan pakaian yang telah digunakan dalam wadah yang tertutup
  • Memberikan larvasida pada penampungan air yang susah untuk dikuras
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar


Selain beberapa upaya di atas, melakukan vaksin juga bisa menjadi langkah pencegahan infeksi DBD. Vaksin ini bisa diberikan pada mereka yang berusia 9-45 tahun dan sudah pernah terinfeksi DBD sebelumnya. Anda bisa mendapatkan vaksin DBD di RS Pondok Indah cabang terdekat. 


Selain vaksin DBD, dokter spesialis penyakit dalam di RS Pondok Indah akan terlebih dahulu memeriksa dan memastikan kondisi Anda sesuai untuk menerima vaksin ini. Bagi Anda yang sedang terinfeksi DBD, RS Pondok Indah akan memberikan perawatan yang komprehensif, agar tidak mengalami komplikasi dengan tetap merasa nyaman. 




Referensi:

  1. Kularatne SA, Dalugama C. Dengue infection: Global importance, immunopathology and management. Clinical Medicine. 2022. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8813012/). Diakses pada 4 Juni 2024.
  2. Medagama A, Dalugama C, et al. Risk factors associated with fatal dengue hemorrhagic fever in adults: a case control study. Canadian Journal of Infectious Diseases and Medical Microbiology. 2020. (https://www.hindawi.com/journals/cjidmm/2020/1042976/). Diakses pada 4 Juni 2024.
  3. Wang WH, Urbina AN, et al. Dengue hemorrhagic fever–A systemic literature review of current perspectives on pathogenesis, prevention and control. Journal of Microbiology, Immunology and Infection. 2020. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1684118220300670). Diakses pada 4 Juni 2024.
  4. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kasus DBD sedang tinggi, Waspada Komplikasi nya. (https://p2p.kemkes.go.id/kasus-dbd-sedang-tinggi-waspada-komplikasi-nya/). Direvisi terakhir 21 Maret 2024. Diakses pada 4 Juni 2024. 
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3M Plus. (https://ayosehat.kemkes.go.id/pemberantasan-sarang-nyamuk-dengan-3m-plus). Direvisi terakhir 22 Juni 2023. Diakses pada 4 Juni 2024.
  6. World Health Organization. Dengue and severe dengue. (https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue). Direvisi terakhir 23 April 2024. Diakses pada 4 Juni 2024.
  7. Center for Disease Control and Prevention. About Dengue. (https://www.cdc.gov/dengue/about/index.html). Direvisi terakhir 14 Mei 2024. Diakses pada 4 Juni 2024.
  8. Cleveland Clinic. Dengue Fever. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17753-dengue-fever). Direvisi terakhir 6 Juni 2022. Diakses pada 4 Juni 2024.
  9. Mayo Clinic. Dengue Fever. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078). Direvisi terakhir 5 Oktober 2022. Diakses pada 4 Juni 2024.