Close
Close Language Selection
Health Articles

Baby Blues Syndrome dan Post-Partum Depression, Pahami dan Tangani Segera

Kamis, 06 Apr 2017
Baby Blues Syndrome dan Post-Partum Depression, Pahami dan Tangani Segera

Seorang ibu berusia 30 tahun baru melahirkan anaknya yang ke-4. Satu bulan setelah bersalin, beliau merasa baik-baik saja, namun ibu muda tersebut mulai memperlihatkan perilaku yang tidak biasa. Ia menjadi sensitif, pemarah, mencemaskan hal-hal yang tidak penting, keceriaannya berganti dengan kemurungan, dan mudah merasa lelah. Merawat bayi sambil membesarkan ketiga kakaknya memang bukan hal yang mudah. Belum lagi menjalani malam-malam yang melelahkan dan mengganggu kualitas tidurnya. Apa yang sebenarnya dialami olehnya?

Kasus seperti yang dialami ibu tersebut banyak terjadi pada wanita yang baru melahirkan. Kondisi ini dikenal dengan sebutan baby blues syndrome (BBS). Statistik menyatakan angka kejadian BBS pada wanita pasca melahirkan tidak kurang dari 80 persen. Sekalipun gangguan ini dikategorikan ringan dan umumnya akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu, kita perlu waspada akan kemungkinan terjadinya post-partum depression (PPD) atau depresi pasca kelahiran.

Gangguan tersebut pada awalnya menyerupai BBS, namun intensitas keluhan jauh meningkat dan menimbulkan disabilitas yang bermakna pada kehidupan sehari-hari. Gangguan mood (suasana perasaan) turut menyertainya, sehingga dapat membuat seseorang mengalami kesedihan yang ekstrem. Wanita yang mengalami PPD akan kehilangan kemampuannya untuk mengurus bayi yang baru dilahirkannya, keluarganya, bahkan dirinya sendiri. Karena beratnya gangguan ini, wanita yang mengalaminya memerlukan pengobatan yang adekuat.

Kasus PPD setidaknya mencapai angka 15 persen per tahunnya. Apabila angka kelahiran di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik pada tahun 2015 adalah 4,8 juta, maka jumlah mereka yang berisiko mengalami PPD adalah sekitar 720.000 ibu per tahunnya. Gangguan ini dapat muncul segera setelah melahirkan atau umumnya antara seminggu hingga satu bulan pasca melahirkan.

Apa penyebabnya?

PPD tidak disebabkan oleh penyebab tunggal, namun lebih merupakan hasil dari berbagai kombinasi faktor-faktor fisik dan emosional. PPD juga tidak diakibatkan oleh sesuatu hal yang tidak atau dilakukan oleh sang ibu.

Sesaat setelah melahirkan, kadar hormon-hormon (estrogen dan progesteron) dalam tubuh seorang ibu akan mengalami perubahan yang dramatis. Hal tersebut akan memberikan dampak pada perubahan biokimiawi di otak yang akan mencetuskan mood swings (alam perasaan yang tidak menentu). Selain itu, banyak ibu yang tidak dapat beristirahat dengan baik, sementara fisiknya membutuhkan pemulihan setelah proses persalinan. Gangguan tidur tersebut dapat mengakibatkan ketidaknyamanan dan kelelahan yang berlebihan, yang tentunya dapat memberikan kontribusi pada gejala-gejala PPD.

Apa saja gejalanya?

Beberapa gejala yang umum dialami oleh penderita PPD termasuk di bawah ini:

  • Senantiasa merasa sedih, putus asa, kosong, dan hanyut dalam pikiran-pikiran negatif
  • Menangis tanpa alasan dengan proporsi lebih sering dari biasanya
  • Khawatir dan cemas secara berlebihan
  • Alam perasaan yang berubah-ubah (moody), mudah tersinggung dan gelisah
  • Gangguan tidur, dapat berupa tidur yang berlebihan atau kesulitan untuk jatuh tertidur sekalipun kelelahan
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi dan membuat keputusan
  • Mudah marah
  • Kehilangan minat untuk aktivitas yang biasanya disukai
  • Timbulnya banyak keluhan nyeri, termasuk sakit kepala, masalah pada pencernaan dan nyeri pada otot-otot
  • Perubahan pola makan, dapat berupa terlalu banyak makan ataupun kehilangan selera makan
  • Mulai menjauhkan diri dari teman-teman dan keluarga, hingga menutup diri
  • Kesulitan dalam membina hubungan emosional dan kedekatan dengan bayinya
  • Selalu ragu akan kemampuan untuk merawat bayinya
  • Adanya pikiran-pikiran untuk melukai dirinya sendiri maupun bayinya

Apabila ditemukan setidaknya lima gejala di atas selama dua minggu atau lebih, maka perlu mendapat pertolongan secepatnya. Karena gangguan ini dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan fisik dan mental sang ibu, bayinya, dan bahkan dapat menjadi ancaman bagi hubungan rumah tangga.

Siapa saja yang berisiko mengalami PPD?

Ada beberapa kelompok wanita yang memiliki risiko lebih besar untuk mengalami PPD karena memiliki hal-hal di bawah ini:

  • Adanya gejala depresi pada saat kehamilan sebelumnya
  • Adanya riwayat gangguan depresi atau bipolar
  • Adanya anggota keluarga kandung yang memiliki riwayat gangguan depresi atau gangguan mental lainnya
  • Adanya riwayat kehidupan yang penuh tekanan (stres) selama kehamilan atau sesaat setelah melahirkan, seperti kehilangan pekerjaan, kematian anggota keluarga, kekerasan dalam rumah yang dialami ibu
  • Adanya komplikasi saat proses kelahiran, termasuk kelahiran prematur, atau bayi yang mengalami masalah kesehatan
  • Adanya masalah psikososial yang berkaitan dengan kehamilan, seperti status perkawinan, apakah kehamilan tersebut direncanakan atau tidak
  • Tidak adanya dukungan emosional dari suami, keluarga dan kawan-kawan selama kehamilan
  • Adanya riwayat penyalahgunaan obat, seperti narkoba dan konsumsi alkohol

Bagaimana cara menanganinya?

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menangani kondisi tersebut, yakni:

  • Konseling

Suatu penanganan yang melibatkan profesional dalam bidang kesehatan mental (konselor, psikolog, psikiater atau pekerja sosial). Terdapat dua tipe konseling yang terbukti cukup efektif dalam menangani PPD:

  1. Cognitive behavioral therapy (CBT) yang bertujuan membantu penderita PPD untuk mengenali dan mengubah pikiran-pikiran dan perilaku negatif
  2. Interpersonal therapy (IPT) yang bertujuan membantu penderita PPD untuk memahami dan melakukan sesuatu dalam memperbaiki hubungan interpersonal yang bermasalah
  • Medikasi

Pengobatan dengan anti-depresi bekerja untuk mengembalikan keseimbangan kimiawi bagian otak yang meregulasi suasana perasaan. Anti-depresi baru akan memperlihatkan hasilnya setelah digunakan selama beberapa minggu dengan teratur. Umumnya anti-depresi cukup aman bila digunakan saat menyusui, namun penderita PPD perlu berkonsultasi dengan psikiaternya untuk memahami risiko dan keuntungan anti-depresi.

dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ

Spesialis Kedokteran Jiwa
RS Pondok Indah - Puri Indah
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Minggu, 29 Mar 2020

Kolesterol Naik, Apa yang Harus Dilakukan?

Read More
Health Articles Selasa, 27 Peb 2018

Gendang Telinga Berlubang Perlukah Ditambal?

Read More
Health Articles Senin, 11 Mei 2020

Beradaptasi dengan The New Normal

Read More
Health Articles Senin, 16 Apr 2018

Kanker Prostat: Kenali dan Tangani

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor