Berbahayakah Tensi Tinggi Saat Hamil?

Monday, 08 July 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Hipertensi saat hamil menimbulkan gejala pembengkakan tungkai, peningkatan kadar protein urin, hingga penglihatan kabur. Simak penjelasan selengkapnya di sini!

Berbahayakah Tensi Tinggi Saat Hamil?

Perubahan yang terjadi pada tubuh wanita saat hamil sangat beragam. Tekanan darah bisa saja mengalami perubahan dalam periode berharga hidup seorang ibu. Tingginya tensi yang dialami oleh ibu hamil bisa saja memengaruhi kondisi janin, maupun kondisi ibu sendiri. Jadi, pastikan untuk mengetahui bahaya tensi tinggi saat hamil dan cara mencegahnya, agar janin tetap sehat hingga ia dilahirkan.


Kehamilan sebaiknya terjadi saat tubuh sehat, atau tubuh mampu menghadapi perubahan sistem. Sebab, kehamilan bisa menyebabkan perubahan pada sistem jantung dan peredaran darah tubuh ibu, yang normalnya tidak berubah. Tensi tinggi merupakan salah satu perubahan dari sistem jantung dan pembuluh darah yang bisa dialami oleh ibu hamil.


Mengenal Tensi Tinggi saat Hamil

Tensi tinggi saat hamil, atau hipertensi gestasional, adalah kondisi ketika tekanan darah meningkat selama hamil atau tensi tinggi pada ibu hamil. Kemungkinan terjadi nya tekanan darah tinggi (hipertensi) saat kehamilan mencapai 5-10% dari seluruh kehamilan, dan lebih dari 25% terjadi pada kehamilan pertama. Meski sampai saat ini belum diketahui secara jelas penyebab hipertensi saat kehamilan, tetapi ada beberapa kondisi yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi saat kehamilan. Beberapa kondisi tersebut adalah sebagai berikut ini:


  • Riwayat hipertensi kronis sebelum kehamilan
  • Penyakit ginjal kronis
  • Diabetes
  • Riwayat tekanan darah tinggi pada kehamilan sebelumnya
  • Usia saat hamil sangat ekstrim, baik itu usia muda (kurang dari 20 tahun) maupun usia lanjut (lebih dari 40 tahun)
  • Kehamilan kembar


Baca juga: Pemeriksaan Kehamilan Tentukan Kualitas Hidup Anak


Gejala / Ciri-ciri Hipertensi saat Hamil

Selain peningkatan tekanan darah, tensi tinggi saat hamil biasanya disertai dengan beberapa gejala atau ciri-ciri, berupa:


  • Pembengkakan (edema) tungkai
  • Penurunan produksi air urine
  • Peningkatan berat badan secara signifikan secara mendadak
  • Penglihatan kabur yang terjadi secara tiba-tiba
  • Mual dan muntah
  • Nyeri ulu hati atau sekitar perut
  • Peningkatan kadar protein dalam urin
  • Perubahan fungsi ginjal dan hati


Baca juga: Perlukah Induksi Persalinan?



Klasifikasi Tekanan Darah Tinggi Saat Hamil

Tensi tinggi saat hamil dapat dibedakan menjadi:


1. Hipertensi Saat Hamil

Hipertensi dalam kehamilan, bila peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg terjadi untuk pertama kali selama hamil, tidak ada proteinuria (kebocoran protein pada ginjal). Biasanya tekanan darah kembali ke normal kurang dari 12 minggu pasca-persalinan.


2. Preeklamsia

Preeklamsia, ditandai dengan peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu, proteinuria 0,3 gram/24 jam atau +1, disertai pembengkakan pada tungkai atau edema tungkai. Pre-eklamsia dikategorikan menjadi pre-eklamsia berat jika tekanan darah meningkat 160/110 mmHg, proteinuria 2 gram/24 jam atau +2.


3. Eklamsia

Eklamsia, kejang yang dialami oleh wanita hamil dengan preeklampsia, tanpa disebabkan oleh kondisi medis lain.


4. Preeklamsia pada Hipertensi Kronis

Preeklamsia pada hipertensi kronik, kehamilan dengan pre-eklamsia pada wanita penderita hipertensi esensial (memiliki riwayat hipertensi sebelum hamil).


5. Hipertensi Kronis

Hipertensi kronis, ditandai dengan peningkatan tekanan darah 140/90 mmHG sebelum kehamilan atau didiagnosa hipertensi sebelum kehamilan memasuki usia 20 minggu.


Baca juga: Diabetes Gestasional, Diabetesnya Ibu Hamil


Cara Mengatasi Tensi Tinggi saat Hamil

Pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara teratur dapat mendeteksi secara dini tanda-tanda hipertensi dalam kehamilan, maupun komplikasi kehamilan yang lain. Selain itu, pemeriksaan urin yang termasuk ke salah satu pemeriksaan saat kontrol kehamilan bisa digunakan untuk menilai adanya protein maupun darah darah dalam urine.


Satu-satunya penanganan untuk mengatasi tensi tinggi saat hamil adalah melahirkan, karena tekanan darah umumnya akan kembali normal segera setelah melahirkan sampai beberapa minggu kemudian. Namun, sebelum mencapai waktu persalinan, dokter kandungan akan menyarankan beberapa langkah penanganan, yang meliputi:


  • Pemeriksaan kesejahteraan dan pertumbuhan janin setiap kontrol kehamilan rutin
  • Pemeriksaan aliran darah tali pusat melalui ultrasonografi untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan aliran darah tali pusat dari ibu ke janin
  • Pemantauan gerak dan denyut jantung janin menggunakan non-stress test maupun kardiografi
  • Bed rest harus dilakukan oleh ibu hamil dengan tensi tinggi, baik di rumah maupun di rumah sakit
  • Rawat inap di rumah sakit diwajibkan untuk ibu hamil yang mengalami preeklamsia berat atau eklamsia
  • Pemberian magnesium sulfat atau obat penurun tekanan darah lainnya, sesuai dengan arahan dokter spesialis kandungan dan kebidanan
  • Pemantauan hasil pemeriksaan urin dan darah, untuk memantau kemungkinan terjadinya perburukan hipertensi saat kehamilan
  • Pengobatan tambahan, seperti steroid, kadang diperlukan untuk pematangan paru-paru janin, bila harus dilahirkan secara prematur
  • Operasi caesar sebagai metode persalinan yang disarankan bagi wanita yang mengalami hipertensi saat hamil.


Baca juga: Kebutuhan Gizi Ibu Hamil dan Janin, Nutrisi Apa Saja yang Dibutuhkan?



Bahaya Hipertensi saat Hamil

Hipertensi dapat menimbulkan dampak buruk bagi ibu hamil dan janin. Peningkatan tekanan darah menggambarkan peningkatan tahanan pembuluh darah, yang menyebabkan terganggunya aliran darah pada beberapa organ. Gangguan aliran darah ini juga bisa terjadi pada otak, jantung, paru-paru, hati, dan ginjal ibu hamil.


Selain itu, hipertensi saat hamil juga berpotensi mengganggu aliran darah ke plasenta, yang kemudian akan menyebabkan janin kekurangan oksigen. Adanya gangguan aliran darah karena tensi tinggi saat hamil dapat menyebabkan perkembangan janin terhambat, bahkan kematian janin. 


Jika tidak ditangani dengan tepat, hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, berupa lepasnya plasenta sebelum waktu persalinan, kejang-kejang, hingga kematian ibu dan janin. Untuk mengurangi risiko, dokter biasa akan merencanakan persalinan sebelum usia kehamilan 37 minggu.


Edukasi tentang gejala hipertensi saat kehamilan sangat penting untuk mendeteksi komplikasi kehamilan ini, sedini mungkin. Selain itu, pemeriksaan antenatal rutin ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan juga perlu, untuk mendeteksi kemungkinan adanya komplikasi maupun gangguan yang terjadi selama hamil. 


Untuk itu, lindungi kesehatan ibu dan buah hati tercinta dengan konsultasi bersama dokter spesialis kandungan terpercaya di RS Pondok Indah cabang terdekat. Selain konsultasi yang komprehensif, pemeriksaan tambahan yang disarankan oleh dokter bisa mengurangi risiko terjadinya tensi tinggi saat hamil maupun komplikasi kehamilan yang lain.