Close
Close Language Selection
Health Articles

Vaksin Hepatitis B untuk Anak

Jumat, 23 Okt 2015
Vaksin Hepatitis B untuk Anak

Hepatitis B adalah penyakit infeksi yang mengenai hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB). Virus ini dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis. Penyakit akut (jangka pendek) ditandai dengan demam, muntah, diare, kurang nafsu makan, lelah, nyeri di otot, sendi, perut, dan warna kuning di mata atau kulit.

Penyakit akut lebih umum dijumpai pada dewasa. Sebagian orang dapat memiliki infeksi kronis Hepatitis B tanpa gejala yang khas, namun infeksi kronis ini dalam jangka panjang dapat berhubungan dengan kerusakan hati (sirosis) dan kanker hati.

Infeksi kronis ini lebih umum ditemukan pada bayi dan anak. Orang yang terinfeksi Hepatitis B dapat menyebarkan virus tersebut, walaupun tidak terlihat sedang sakit. Virus Hepatitis B menular melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain orang yang sedang terinfeksi.

Seorang anak dapat terinfeksi misalnya karena lahir dari ibu yang menderita infeksi Hepatitis B, kontak dengan darah atau cairan tubuh lain melalui kulit yang luka, pemakaian sikat gigi bersama, dan transfusi darah.

Vaksinasi Hepatitis B telah berhasil mencegah Hepatitis B dan komplikasinya, termasuk kanker hati dan sirosis. Sejak pemberian vaksinasi Hepatitis B rutin di Amerika, angka kejadian Hepatitis B di anak telah berkurang lebih dari 95 persen.

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2010 menganjurkan pemberian vaksin Hepatitis B sebanyak 3 kali, dengan jadwal segera setelah lahir, usia 1 bulan, dan usia 6 bulan.

Vaksin ini dapat diberikan bersamaan/simultan dengan vaksin lain seperti BCG, DPT, Polio, HIB, dan PCV. Anak atau remaja yang belum pernah mendapat vaksin Hepatitis B pada umur yang dianjurkan dapat segera mendapat pemberian vaksin tersebut sebanyak 3 dosis interval 0, 1, 6 bulan.

Anak yang mendapat vaksin tidak lengkap (baru 1 atau 2 dosis) atau jadwal tidak teratur dapat segera melengkapinya tanpa harus mengulang pemberian dari awal. Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Hepatitis B (HBSAG positif) dianjurkan mendapatkan imunisasi pasif berupa antibodi terhadap Hepatitis B (HBIG) dalam waktu 12-­24 jam setelah lahir.

Selain pemberian imunisasi aktif (vaksin Hepatitis B). Vaksin Hepatitis B sangat aman, namun sama seperti semua obat, vaksin ini memiliki risiko terjadi efek samping. Efek samping ringan yang dapat terjadi antara lain nyeri atau bengkak di tempat suntikan, atau demam ringan yang biasanya terjadi dalam 1­2 hari pertama setelah vaksin diberikan.

Reaksi alergi berat sangat jarang dilaporkan. Pemberian vaksin pada bayi prematur atau berat lahir kurang dari 2.000 gram dapat ditunda sampai bayi memiliki berat minimal 2.000 gram.

Anak dengan riwayat alergi berat terhadap vaksin atau komponen vaksin hepatitis B tidak dianjurkan mendapatkan vaksin ini. Anak yang sedang sakit sedang atau berat dianjurkan menunda imunisasi sampai setelah pulih. Anak dengan sakit ringan seperti batuk­pilek (common cold) tetap boleh mendapat vaksin ini.

dr. Yovita Ananta, Sp.A, MHSM, IBCLC

Spesialis Anak Konselor Laktasi
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Kamis, 24 Jan 2019

Tennis Elbow, Tak Hanya Dialami Petenis

Read More
Health Articles Jumat, 27 Des 2019

Hidup Berkualitas di Masa Menopause

Read More
Health Articles Selasa, 08 Nov 2016

Perlukah Deteksi Dini Kanker Payudara?

Read More
Health Articles Kamis, 05 Des 2019

Gadget dan Kesehatan Mental

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor