Close
Close Language Selection
Health Articles

Fertility Preservation: Penjaga Asa untuk Memiliki Keturunan

Selasa, 06 Jul 2021
Fertility Preservation: Penjaga Asa untuk Memiliki Keturunan

Kehadiran teknologi fertility preservation, baik sel telur wanita, sel sperma pria, maupun embrio dapat dibekukan untuk diawetkan. Pasien yang diharuskan menjalani tindakan medis yang berisiko mengganggu fungsi organ kesuburan, tidak perlu mengkhawatirkan kemungkinan tidak dapat memiliki keturunan di kemudian hari.

Fertility preservation, yang berarti pelestarian kesuburan atau pengawetan kesuburan, merupakan teknologi yang memungkinkan seseorang untuk menyimpan sel sperma, sel telur, atau embrio, untuk digunakan lagi di kemudian hari. Mulanya teknologi ini diperuntukkan bagi para pasien kanker yang akan melakukan terapi kemoterapi atau radiasi. Sebagaimana diketahui, terapi kemoterapi menggunakan paparan radiasi yang berisiko merusak ovarium atau testis. Maka itu, sebelum proses terapi dimulai, pasien yang belum memiliki keturunan biasanya akan ditawarkan opsi untuk mengawetkan atau membekukan ovarium, sel telur, atau sel spermanya hingga jangka waktu tertentu untuk dapat digunakan untuk memiliki keturunan setelah terapi selesai.

Metode fertility preservation
Dalam perkembangannya, metode fertility preservation turut menjadi pilihan solusi dalam penanganan gangguan kesuburan. Ada beberapa teknik melakukan fertility preservation salah satunya adalah menggunakan teknik vitrifikasi, yakni simpan-beku dengan pendinginan yang sangat cepat pada suhu -196 derajat Celcius. Pada suhu serendah ini, semua kehidupan biologis akan terhenti. Istimewanya, tidak ada perbedaan bentuk dan jumlah sel telur pada ovarium yang disimpan, baik sebelum dan sesudah pembekuan.

Jenis fertility preservation yang dapat dilakukan untuk masalah gangguan kesuburan, meliputi:

  • Embryo cryopreservation, disebut juga simpan beku embrio, merupakan pilihan yang paling umum digunakan karena memiliki tingkat kesuksesan tertinggi dibandingkan metode lain. Prosedur yang digunakan kurang lebih sama dengan metode bayi tabung. Bedanya, embrio tidak langsung ditanamkan ke dalam rahim, melainkan disimpan beku dengan proses kriopreservasi/vitrifikasi terlebih dahulu.
  • Egg cryopreservation, sel telur yang tidak dibuahi langsung dibekukan dan disimpan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kesempatan untuk hamil dengan menggunakan telur beku lebih rendah. Namun kemajuan teknologi baru cukup signifikan, terdapat peningkatan peluang sel telur untuk bertahan dalam proses pembekuan-pencairan sehingga meningkatkan keberhasilan program kehamilan.
  • Sperm cryopreservation, dalam proses ini, pria memberikan sampel air maninya. Air mani kemudian diproses, dibekukan dengan proses kriopreservasi dan disimpan untuk digunakan di masa depan. Penelitian telah menunjukkan bahwa penyimpanan sperma dalam waktu lama tidak mengubah kemampuannya untuk membuahi sel telur

Fertility preservation untuk gangguan kesuburan
Seiring dengan perkembangan teknologi bayi tabung, fertility preservation pun dapat dimanfaatkan untuk Anda yang memiliki gangguan kesuburan. Ketika menjalani program bayi tabung atau inseminasi, dilakukan pengambilan sel telur, sel sperma, dan atau embrio. Ketiga sampel ini kemudian dilestarikan selama jangka waktu tertentu hingga nanti ketika Anda ingin memiliki anak kedua, ketiga, dan selanjutnya. Jadi, tidak perlu dilakukan pengambilan sel telur atau sel sperma ulang.

Kesuburan sendiri sangat dipengaruhi usia. Seiring bertambahnya usia, potensi seseorang memiliki keturunan juga makin menurun. Fertility preservation dapat digunakan untuk menunda proses ini hingga Anda siap untuk berkeluarga.

Semua teknik fertility preservation dapat dilakukan di RS Pondok Indah IVF Centre. Klinik ini juga didukung oleh tim embriologis berpengalaman untuk memastikan keberhasilan program yang Anda jalani. Tak hanya sel telur dan sel sperma yang dapat dibekukan, jaringan testis atau ovarium pun dapat diambil dan diawetkan dengan teknologi ini. Ke depannya, para peneliti juga sudah mulai mengembangkan ovarium artificial (buatan). Jadi, sel telur dapat dikultur dan ditumbuhkan menjadi ovarium buatan. Teknik ini akan sangat berguna bagi wanita yang mengalami masalah menopause prematur, yakni menopause yang terjadi sebelum waktunya.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MPH, Sp.OG-KFER

Spesialis Kebidanan & Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi & Reproduksi
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Selasa, 06 Jul 2021

Mitos Fakta Seputar Bayi Tabung

Read More
Health Articles Selasa, 27 Peb 2018

Gendang Telinga Berlubang Perlukah Ditambal?

Read More
Health Articles Selasa, 06 Mar 2018

Mengenal Lebih Dalam Demensia

Read More
Health Articles Kamis, 22 Peb 2018

Anuskopi pada Penderita Wasir, Perlukah?

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor