Close
Close Language Selection
Health Articles

Penanganan Gangguan Haid dan Gangguan Kesuburan dengan Bedah Invasif Minimal

Senin, 05 Jul 2021
Penanganan Gangguan Haid dan Gangguan Kesuburan dengan Bedah Invasif Minimal

Dalam mengatasi berbagai masalah gangguan haid/menstruasi dan gangguan kesuburan, ada kalanya diperlukan tindakan pembedahan terhadap organ kandungan. Saat ini sudah berkembang teknik bedah dengan sayatan minimal yang dikenal dengan bedah invasif minimal. Meskipun dengan akses yang minimal terhadap area pembedahan, teknik ini mampu memberikan hasil terapi yang maksimal.

Teknologi kedokteran saat ini berkembang sangat pesat. Tindakan pembedahan yang dulu kerap menyisakan bekas luka yang besar kini tak lagi menjadi opsi utama dalam menangani gangguan kesehatan, termasuk gangguan haid dan gangguan kesuburan. Teknik bedah dengan sayatan minimal ini kerap disebut bedah invasif minimal.

Berikut ini jenis bedah invasif minimal yang kerap dilakukan untuk menangani gangguan haid dan gangguan kesuburan:

Laparoskopi
Di antara teknik bedah invasif minimal, laparaskopi merupakan salah satu teknik yang paling dikenal. Bedah laparoskopik, juga dikenal sebagai bedah lubang kunci, menggunakan alat-alat berdiameter kecil untuk menggantikan tangan dokter melakukan prosedur bedah di dalam rongga perut, dengan panduan kamera high definition dan beresolusi tinggi.

Alat laparoskopi berbentuk sebuah tabung kecil berkamera dan lampu kecil pada ujungnya yang memperlihatkan bagian dalam rongga perut dan panggul pada sebuah monitor. Dokter dapat melakukan operasi dengan melihat gambar organ bagian dalam yang diperbesar ratusan kali lipat dan lebih detail. Setelah prosedur selesai, sayatan-sayatan kecil tersebut dijahit, bekas luka yang dihasilkan hanya berupa sayatan kecil sekitar 5-10 milimeter.

Dengan teknik ini, sayatan yang kecil tersebut menghasilkan rasa nyeri yang lebih minimal, mempercepat masa pemulihan, sehingga mempersingkat masa perawatan di rumah sakit. Risiko perdarahan saat proses pembedahan pun dapat diminimalisir. Selain itu, trauma pada tubuh yang disebabkan sayatan juga sangat berkurang. Pada pasien dengan gangguan kesuburan, laparoskopi dapat digunakan dalam pembedahan untuk mengatasi berbagai masalah, seperti pengangkatan mioma, kista endometriosis, hidrosalping, dan pelekatan organ kandungan.

Histeroskopi
Selain laparaskopi, penderita gangguan haid dan kesuburan, juga dapat ditangani dengan metode histeroskopi. Histeroskopi merupakan prosedur visualisasi langsung saluran mulut rahim hingga rongga rahim dan lubang muara saluran telur menggunakan teleskop kecil (histeroskop). Histeroskopi biasanya digunakan sebagai alat diagnostik maupun penanganan gangguan kesuburan (terapeutik) seperti biopsi endometrium, pengangkatan polip atau mioma, ablasi, dan lainnya.

Metode ini juga dapat digunakan untuk menemukan penyebab perdarahan pada rahim, terutama akibat keluarnya darah haid secara berlebihan, dan pendarahan setelah masa menopause. Tak hanya itu saja, histeroskopi juga mampu mendeteksi apakah pasien memiliki fibroid, polip, kanker endometrium, atau bentuk rahim yang tidak lazim.

Biasanya, prosedur histeroskopi berlangsung cukup singkat, untuk keperluan diagnostik, hanya memakan waktu sekitar 5-15 menit. Untuk tindakan terapeutik,
seperti pengangkatan polip atau mioma, akan dikerjakan dengan pembiusan, dan dapat berlangsung sekitar 30-40 menit. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan akan memasang alat histeroskopi melalui vagina, serviks, sampai ke rahim. Rahim akan dipompa cairan, sebagai media untuk mempermudah melihat kondisi rongga rahim.

Keuntungan bedah invasif minimal

  • Visualisasi langsung organ abdomen dan panggul dengan luka yang kecil (5-10 milimeter)
  • Operasi lebih optimal dan detail
  • Penyembuhan yang lebih cepat
  • Nyeri setelah operasi yang minimal
  • Jaringan parut yang lebih sedikit
  • Kehilangan darah lebih sedikit

Meski teknik bedah invasif minimal relatif aman dibandingkan teknik bedah konvensional, tetap ada risiko yang mungkin terjadi, meski persentase terjadinya kecil. Beberapa risikonya antara lain:

  • Kerusakan pembuluh nadi besar,
  • Kerusakan pada organ,
  • Reaksi alergi serius karena obat bius,
  • Komplikasi akibat penggunaan gas karbondioksida,
  • Penggumpalan darah di pembuluh darah.

Meski demikian, dengan penanganan yang cermat oleh tim medis yang berpengalaman, risiko tersebut dapat berkurang jauh.

Teknologi medis RS Pondok Indah IVF Centre memungkinkan bedah invasif minimal dilakukan dengan lebih akurat. Didukung dengan kompetensi dokter dan tim medis lainnya yang profesional. Bagi Anda yang sudah menjalani proses laparoskopi/histeroskopi dan ingin melanjutkan program kehamilan, tim dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre siap membantu Anda dan pasangan melalui berbagai program kehamilan berbantu. Beberapa alternatif program kehamilan berbantu seperti induksi ovulasi, inseminasi, dan bayi tabung. Tim dokter dan tim medis berpengalaman, serta adopsi teknologi terdepan dapat meningkatkan peluang keberhasilan program kehamilan yang akan Anda jalani.

dr. Yassin Yanuar Mohammad, Sp.OG-KFER, M.Sc

Spesialis Kebidanan & Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi & Reproduksi
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Selasa, 08 Des 2015

Mengenal dan Mencegah Cacar Air pada Anak

Read More
Health Articles Jumat, 14 Sep 2018

Kegunaan MRI untuk Diagnosis Penyakit Jantung

Read More
Health Articles Senin, 26 Mar 2018

Terapi Operasi pada Katarak

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor