Anak Saya Autisme atau ADHD?
25 February 2015

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah suatu kondisi neurobehavioral yang muncul sebelum usia 7 tahun. Bila dibiarkan dapat menetap sampai dewasa. Gangguan bisa ditunjukkan melalui tindakan sang anak, seperti:

o  Tidak bisa diam,

o  Tidak bisa konsentrasi.

o  Mudah teralih perhatiannya.

o  Impulsif.

Gangguan ini biasanya mulai terdeteksi saat usia sekolah. Mengenai penyebabnya, sejumlah penelitian akhir-akhir ini lebih mengarah kepada kesimpulan bahwa faktor genetik sebagai penyebab.

Anak-anak penderita ADHD umumnya mengalami gangguan fungsi kontrol diri dan fungsi eksekutif yang mengakibatkan munculnya sikap inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Gejala inatensi umumnya ditunjukkan dengan ketidakmampuan memusatkan perhatian, perhatian yang mudah teralih, dan pelupa. Sikap hiperaktif, biasanya ditunjukkan dengan tidak dapat duduk tenang, selalu bergerak, terkesan gelisah, sering ngobrol, tidak bisa bermain dengan tenang. Sementara itu, sikap impulsivitas biasanya ditunjukkan dengan tingkah laku yang tidak terkontrol, tidak sabaran, tidak bisa menunggu giliran, sering menyela/memotong pembicaraan orang lain, suka mengganggu, dan terkesan sebagai ‘anak nakal’. Hampir bisa dipastikan bahwa keluhan yang dialami orang tua dan guru adalah kesulitan belajar dan masalah perilaku.

ADHD dikategorikan dalam 3 jenis, yakni: predominan dengan gejala inatensi, predominan dengan gejala hiperaktivitas- impulsivitas, dan/atau kombinasi gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Untuk menangani pasien ADHD bisa diterapkan sejumlah terapi yang bertujuan mengurangi perilaku yang mengganggu, dapat memperbaiki hubungan dengan orang lain, lebih mandiri, serta meningkatkan kepercayaan diri anak. Berbagai terapi ADHD yang bisa diterapkan, antara lain: medikasi, terapi perilaku, kombinasi medikasi+terapi perilaku, edukasi orangtua/ pasien tentang ADHD, psikoterapi dan Intervensi psikososial lain, dan terapi remedial. Pengobatan dengan obat baru diberikan bila gejala cukup mengganggu dan terjadinya hambatan fungsi sosial, edukasi, dan emosional dan semuanya harus sesuai dengan petunjuk dokter.

Berbeda dengan ADHD, autisme adalah gangguan autistik pada masa kanak yang di dalamnya termasuk gangguan perkembangan.

Bila ditemukan gejala-gejala autisme, seperti:

o  Anak tidak bisa menunjuk, mengoceh, atau gesture pada usia 12 bulan.

o  Anak tidak melihatke benda yang ditunjuk orang lain dari jauh.

o  Kemampuan bicara menghilang.

o  Tidak merespons ketika dipanggil.

o  Tidak bisa mengucapkan satu kata pada usia 16 bulan.

o  Hilangnya kemampuan sosial; serta tidak bisa ber-pretend play.

Jika terjadi gejala seperti di atas, ada baiknya periksa segera anak tersebut. Pada anak penderita autisme dapat dilakukan sejumlah terapi yang bertujuan mengurangi masalah perilaku, meningkatkan kemampuan belajar,
dan penguasaan bahasa agar bisa mandiri dan bersosialisasi. Cara yang tepat sudah tentu dengan deteksi dini dan program terapi yang komprehensif dan terpadu berdasarkan evidence based medicine (EBM). Pemberian terapi tersebut dapat berkombinasi dalam berbagai bentuk, sering berganti, disesuaikan kebutuhan individu pada saat itu.

Menurut American Academy of Pediatrics strategi terapi yang bisa diterapkan adalah manajemen dan terapi perilaku, menggunakan positive reinforcement, self-help, dan social skills training untuk meningkatkan perilaku dan komunikasi.

 

Dapat disimpulkan bahwa autisme dan ADHD merupakan gangguan neurobiologis yang mempengaruhi banyak aspek perkembangan anak, yang terkait dengan munculnya masalah kesulitan belajar. Pada anak autistic lebih banyak gangguan para interaksi sosial dan komunikasi dua arah,
beda dengan anak ADHD. Dalam mengenali gejala kedua jenis gangguan ini, diperlukan deteksi dini dan penatalaksaan yang intensif dari si anak dan orang-orang sekitar si anak, baik orang tua, maupun masyarakat. Untuk menanganinya, dibutuhkan tim terpadu: tim medis (psikiater anak, dokter anak), psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, orang tua, dan pendidik.

Berita Terkini
Seminar "Cone Beam Computed Tomography: Digital Dentistry Is The Future"
Solusi Minimal Invasive Untuk Penanganan Masalah Kesehatan
Wajah Baru Women & Fetal Diagnostic Center Dan Klinik Anak RS Pondok Indah – Pondok Indah
Mom’s Gathering RS Pondok Indah Group
Deteksi Dini Skoliosis

RS PONDOK INDAH - PONDOK INDAH - EXECUTIVE HEALTH CHECK UP GIFT CERTIFICATE

Executive Health Check Up Gift Certificate dapat menjadi hadiah yang sangat berkesan bagi pasangan, keluarga, kerabat, rekan kerja atau bahkan kolega Bisnis Anda. Anda dapat memilih Paket atau Nominal tertentu yang dapat di-hadiah-kan berupa Gift Certificate agar mereka dapat melakukan serangkaian Pemeriksaan kesehatan komprehensif untuk memastik...

Vol 44