Close
Close Language Selection
Health Articles

Wanita Lebih Rentan terhadap Batu Empedu

Jumat, 21 Mei 2021
Wanita Lebih Rentan terhadap Batu Empedu

Ketika bicara tentang batu empedu, dikenal istilah 4F sebagai faktor risiko terjadinya gangguan kesehatan ini, yaitu Female, Forty, Fertile, Fat (wanita, berusia lebih dari 40 tahun, subur, memiliki kelebihan berat badan). 

Wanita memiliki hormon estrogen ekstra dalam tubuh, terutama saat menjalani kehamilan. Hormon estrogen ini dapat meningkatkan jumlah kolesterol dalam empedu serta menurunkan kontraksi kandungan empedu untuk mengosongkan empedu. Hal tersebut meningkatkan risiko terjadinya pengendapan dari cairan empedu yang kemudian membentuk batu empedu. Risiko terjadinya batu empedu pada wanita semakin tinggi saat masa kehamilan dan setelah melahirkan. Hal ini terjadi karena berbagai alasan yang berhubungan dengan kehamilan dan perubahan tubuh. Terapi penggantian hormon atau konsumsi pil KB pun dapat memicu terbentuknya batu empedu. 

Selain itu, terdapat pula beberapa faktor risiko lain yang dapat menyebabkan terjadinya batu empedu, seperti:

  • menjalani diet tinggi lemak, tinggi kolesterol, dan rendah serat,
  • memiliki diabetes melitus,
  • kehamilan atau konsumsi obat dengan kadar estrogen tinggi, serta
  • penurunan berat badan yang terlalu cepat (drastis). 

Melihat dari faktor-faktor risiko tersebut, beberapa di antaranya dapat dihindari. Hal ini tentunya untuk meminimalisir risiko terjadinya batu empedu. Misalnya saja dengan menjaga berat badan ideal. Atau juga, mengurangi konsumsi makanan berlemak jenuh tinggi, membatasi konsumsi minuman beralkohol, memperbanyak konsumsi sayur dan buah yang tinggi kandungan serat, rutin berolahraga, serta tidak melakukan diet yang terlalu ketat (apalagi diet yang tinggi lemak dan rendah serat). 

Tindakan pencegahan ini sangat penting untuk terhindar dari berbagai gejala yang timbul akibat terbentuknya batu di kantung empedu. Ketika batu empedu terbentuk, biasanya akan muncul gejala-gejala seperti berikut:

  • nyeri perut kanan atas yang menjalar ke punggung kanan disertai rasa mual, kembung, dan sering serdawa,
  • nyeri tiba-tiba di tengah perut bawah dada,
  • berkeringat dan cepat lelah. 

Pada sebagian kasus, penderita bahkan ada yang tidak mengalami gejala tertentu (kolesistolitiasis asimtomatik). Keberadaan batu empedu pun tidak jarang diketahui secara tidak sengaja, misalnya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan melalui ultrasonografi (USG). Pada kondisi ini, pengangkatan batu biasanya belum dianjurkan. Pasien cukup melakukan pemeriksaan secara berkala untuk menghindari terjadinya komplikasi. 

Tindakan pengangkatan batu sekaligus kantung empedu (kolesistektomi) baru dianjurkan ketika pasien mengalami gejala tertentu (kolesistolitiasis simtomatik). Tindakan ini pun diperlukan jika dijumpai radang kantung empedu (kolesistisis). Radang kantung empedu yang dibiarkan dapat menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah (sepsis) sehingga dapat mengancam jiwa.

Kolesistektomi dapat dilakukan secara operasi terbuka atau dengan teknik laparoskopi (minimal invasive). Hal ini tergantung pada kondisi pasien serta ketersediaan fasilitas. 

Perlu diketahui, meski kantung empedu sudah diangkat, organ hati masih tetap memproduksi cairan empedu dan masuk ke saluran cerna. Hanya saja, tanpa melewati penampungan. Karenanya, pasien yang menjalani tindakan ini disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan berlemak dan yang mengandung santan selama beberapa waktu setelah tindakan. 

Sayangnya, karena berbagai alasan, tidak jarang pasien enggan menjalani kolesistektomi. Padahal, batu empedu yang tidak segera ditangani dengan baik dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Beberapa masalah kesehatan yang dapat terjadi, antara lain:

  • Infeksi kantung empedu dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kanker kantung empedu 
  • Batu yang menyumbat saluran empedu dapat menghambat aliran sehingga pasien menjadi kuning (koledokolitiasis) 
  • Menghambat aliran pankreas dan menimbulkan radang pankreas (pankreatitis) 
  • Memicu kanker kantung empedu 

Selain itu, menunda-nunda penanganan pun meningkatkan risiko yang dapat terjadi sehingga tingkat efektivitas tindakan menurun. 

dr. Adianto Nugroho, Sp.B.SubBDig

Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Senin, 29 Jun 2020

Serba-Serbi Perawatan Akar Gigi

Read More
Health Articles Rabu, 17 Okt 2018

Lutut Sehat, Mobilitas Lancar

Read More
Health Articles Selasa, 26 Mei 2015

Bentuk Tubuh Impian dengan Bedah Plastik

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor