Close
Close Language Selection
Health Articles

Sukses Stop Rokok dengan Akupunktur

Rabu, 11 Des 2019
Sukses Stop Rokok dengan Akupunktur

  

Pernahkah Anda melihat seorang perokok yang sehari saja tanpa merokok, terlihat seperti gelisah seharian. Walau sedang sibuk dengan aktivitasnya, tetap mencuri-curi kesempatan untuk merokok, dan alasan untuk melakukannya hampir tidak masuk akal. Waspada, itu tanda-tanda adiksi. Namun seiring perkembangan waktu, adiksi dapat dikurangi intensitasnya dengan terapi akupunktur. Salah satunya adiksi terhadap rokok.  

Apa itu adiksi?
Adiksi atau kecanduan merupakan kondisi di mana terjadi penggunaan sesuatu secara berlebihan dengan kontrol yang buruk sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman apabila tidak menggunakan atau melakukannya. Jenis adiksi tersebut salah satu bentuknya adalah kecanduan terhadap rokok, penyalahgunaan narkoba, internet, judi, makanan, dan masih banyak lagi.  

Seiring berkembangnya waktu, para dokter menemukan bahwa semua jenis adiksi berasal dari sumber yang sama, yaitu dari adanya gangguan neurotransmitter di otak. 

Mengenal akupunktur
Akupunktur adalah teknik memasukkan jarum ke dalam titik akupunktur tubuh dengan menggunakan jarum akupunktur. Akupunktur yang dikenal berasal dari Cina, sebenarnya sudah mendunia sejak lama, tepatnya sejak tahun 1920-an di Perancis. Protokol National Acupuncture Detoxification Association (NADA) pertama kali dikembangkan tahun 1970 di rumah sakit Lincoln di New York. Pada awalnya protokol NADA digunakan sebagai komponen pendukung pada terapi adiksi narkoba. Barulah berangsur-angsur hingga kini, akupunktur banyak dimanfaatkan untuk menangani berbagai keluhan kesehatan, seperti terapi pemulihan fungsi tubuh setelah serangan stroke, melangsingkan tubuh, mengatasi insomnia, hingga menghilangkan adiksi. 

Peran akupunktur pada adiksi rokok
Hasil yang didapatkan pasien dari terapi akupunktur adalah terbantunya pasien lepas dari kecanduan. Terapi akupunktur dapat menurunkan impulsivitas atau keinginan berlebih dari suatu adiksi. Lebih lanjut, titik yang digunakan berdasarkan protokol NADA adalah di lima titik telinga, atau disebut sebagai akupunktur telinga. Pada awalnya treatment ini diberikan oleh dokter spesialis bedah saraf di Hongkong. Pada saat itu banyak masyarakat kecanduan opium, sementara jika mereka dioperasi akan terlalu banyak opium yang dikonsumsi, karena opium merupakan salah satu anestesi. Oleh karena itu, tenaga medis mencoba teknik akupunktur telinga ini. Ternyata mereka yang kecanduan opium memang memiliki masalah di lima titik ini.  Standar akupunktur telinga sederhana ini juga dapat membantu mengatasi masalah kesehatan mental, seperti post traumatic stress disorder dan stres kronis, juga masalah kecanduan.

Namun, apabila pecandu rokok memiliki keluhan khusus di bagian tubuh lain, misalnya bila ia juga memiliki penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), sesak, dan batuk-batuk berdahak, dokter dapat menusukkan jarum akupunktur di titik tubuh yang memiliki keluhan tersebut. Protokol NADA menyebutkan bahwa terapi akupunktur dapat dilakukan selama 10-12 kali untuk menyembuhkan adiksi. Setelah itu, akan dilihat apakah pengobatan sudah efektif atau belum.  

Selain tindakan akupunktur dengan dokter spesialis akupunktur klinik, terkadang untuk menyempurnakan hasil penanganan untuk adiksi, perlu dibarengi dengan konsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa. Biasanya dokter spesialis kedokteran jiwa akan membantu memberikan dukungan dengan meresepkan obat-obatan dan cognitive behavioral therapy (CBT). Kedua hal ini bukan merupakan keahlian dokter spesialis akupuntur klinik. 

Perubahan gaya hidup
Mayoritas mereka yang mengalami adiksi terhadap rokok dimulai dari kondisi meningkatnya stres. Perlu diketahui bahwa saat ini perokok bukan lagi mayoritas laki-laki, namun berimbang antara laki-laki dan perempuan. Maka itu, untuk menangani adiksi rokok tak cukup dilakukan dengan tindakan akupunktur saja. Tapi harus dilakukan juga dengan perubahan gaya hidup dan juga informasi yang lebih detail mengenai efek jangka pendek dan jangka panjang merokok. Selain menyebabkan kanker, rokok dapat mengganggu kualitas kesuburan pasangan suami istri. Bagi laki-laki, merokok dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan cacat sperma, sementara bagi perempuan dapat menyebabkan perubahan DNA pada ovumnya yang dapat meningkatkan risiko janin terlahir cacat. Dengan memberikan edukasi bahwa merokok meningkatkan radikal bebas hidup di dalam tubuh ini, diharapkan dapat meningkatkan awareness mengenai bahaya merokok.

   

dr. Dwi Rachma Helianthi Sp.Ak

Spesialis Akupunktur Medik
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Jumat, 30 Mar 2018

Operasi Prostat Menakutkan?

Read More
Health Articles Senin, 29 Mei 2017

8 Mitos dan Fakta Perawatan Gigi Ibu Hamil

Read More
Health Articles Kamis, 22 Jun 2017

Varises, Kenali Penanganannya

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor