Close
Close Language Selection
Health Articles

Sendawa Berlebihan Buat Anda Tak Nyaman? Tangani Yuk!

Selasa, 17 Mar 2020
Sendawa Berlebihan Buat Anda Tak Nyaman? Tangani Yuk!

Sendawa kerap dianggap sebagai salah satu gejala ‘masuk angin’ biasa. Namun ternyata, sendawa berlebihan yang sering berulang dapat menjadi indikasi adanya gangguan pencernaan.

Apa itu sendawa?
Serdawa atau yang lebih dikenal dengan sendawa didefinisikan sebagai keluarnya gas dari kerongkongan ke faring/tenggorokan secara tiba-tiba, yang dapat disertai atau tanpa disertai suara. Sendawa merupakan usaha tubuh untuk mengeluarkan kelebihan udara dari saluran pencernaan bagian atas. Sendawa terjadi akibat masuknya udara secara cepat ke saluran pencernaan bagian atas karena kontraksi otot pernapasan diafragma atau kontraksi otot dasar lidah. Udara dapat masuk ke sebatas kerongkongan saja, sehingga disebut supragastric belching, atau hingga ke lambung, yang disebut gastric belching

Sendawa yang berasal dari lambung terjadi karena relaksasi otot sfingter kerongkongan bawah untuk mencegah terkumpulnya udara pada lambung. Sendawa ini secara normal dapat terjadi hingga 30 kali dalam sehari tanpa disadari. Namun, bila sendawa menjadi lebih dari jumlah biasanya, maka dapat dikatakan Anda mengidap sendawa berlebihan. Perlu diketahui bahwa penderita lebih banyak mengeluhkan sendawa berlebihan yang berasal dari kerongkongan. 

Penyebab sendawa
Sendawa dapat terjadi ketika Anda makan atau minum terlalu cepat, berbicara ketika makan, mengunyah permen karet, meminum minuman berkarbonasi atau bersoda, atau merokok. Sendawa juga dapat dipicu akibat beberapa penyakit seperti refluks dari lambung ke kerongkongan atau disebut gastroesophageal reflux disease (GERD), radang lambung, tukak lambung, radang pankreas, intoleransi laktosa, malabsorbsi karbohidrat seperti fruktosa atau sorbitol, atau infeksi bakteri Helicobacter pylori.

Peningkatan frekuensi sendawa pada penderita GERD sebagian besar terjadi karena kelebihan gas pada lambung. Penderita GERD menelan udara lebih sering dan akibatnya mengalami sendawa yang berasal dari lambung lebih sering dibandingkan dengan orang tanpa riwayat GERD. Sendawa berlebihan juga dilaporkan pada 80 persen penderita dispepsia fungsional, yaitu sakit perut tanpa adanya luka dan tidak disertai penyebab yang jelas. Orang dengan riwayat penyakit ini, juga menelan udara lebih sering dan mengalami sendawa yang berasal dari lambung lebih sering dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keluhan dispepsia.

Sebagian besar sendawa merupakan gangguan behavioural atau fungsional tubuh. Namun, apabila sendawa dirasakan mengganggu aktivitas Anda sehari-hari atau disertai dengan gejala seperti diare, nyeri perut yang terus menerus, buang air besar berdarah, perubahan warna feses atau frekuensi buang air besar, penurunan berat badan, nyeri pada dada, kehilangan nafsu makan, atau merasa mudah kenyang, gejala sendawa perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan organ yang mendasari terjadinya sendawa. 

Penegakan diagnosis akibat sendawa 
Pada saat berkonsultasi dengan dokter, wawancara medis dan pemeriksaan fisik lengkap akan dilakukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari sendawa. Bila didapati kecurigaan ke arah kelainan organ, dokter akan merujuk Anda untuk melakukan pemeriksaan endoskopi. Diagnosis gangguan sendawa dilakukan dengan pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kontraksi kerongkongan yang disebut pemeriksaan impedansi esofagus. 

Ada dua diagnosis yang mungkin terjadi akibat sendawa berlebihan, yaitu:

  1. Gangguan aerofagia (menelan udara), bila gejala sendawa berulang beberapa kali dalam seminggu disertai dengan bukti menelan udara pada pemeriksaan yang bernama impedansi esofagus. 
  2. Gangguan sendawa berulang yang tidak spesifik, bila ditemukan gejala sendawa berulang dalam seminggu dan tidak ada bukti menelan udara. 

Untuk menegakkan diagnosis, kriteria-kriteria tersebut harus berlangsung selama minimal tiga bulan dengan gejala paling sedikit 6 bulan sebelum pemeriksaan.

Penanganan sendawa
Penanganan sendawa bergantung pada penyebabnya. Metode penanganan terdiri dari terapi tanpa obat (terapi non-farmakologis) dan terapi obat (terapi farmakologis).

Terapi non-farmakologis untuk keluhan sendawa meliputi:

  • Speech therapy 
    Speech therapy
    merupakan terapi supragastric belching yang memiliki efektivitas sebesar 83 persen dalam mengurangi gejala supragastric belching. Strategi speech therapy mencakup edukasi pasien mengenai perilaku yang mendasari masuknya udara ke dalam kerongkongan secara berlebihan dan strategi untuk menanganinya. Strategi mencakup pengaturan napas dan kegiatan menelan yang menjadi lebih disadari.
  • Terapi kognitif perilaku
    Terapi kognitif perilaku juga dapat mengurangi gejala sendawa. Terapi ini terdiri dari tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen perilaku, dan evaluasi terapi dan hasil. Terapi ini berfokus pada membantu penderita mengenali etiologi penyakit, faktor pencetus, dan penjelasan bagaimana terapi dapat memperbaiki gejala. Terapi pernapasan diafragma atau pernapasan perut dengan mulut terbuka dianjurkan untuk mengurangi sendawa.
  • Perubahan gaya hidup
    Sendawa dapat dikurangi dengan makan dan minum dengan perlahan-lahan, menelan dalam jumlah yang kecil, menghindari minuman berkarbonasi dan bersoda, menghindari mengunyah permen karet, mengurangi dan menghentikan kebiasaan merokok, melakukan pemeriksaan gigi rutin, tetap aktif bergerak, dan menangani penyakit yang mendasari terjadinya sendawa.

Sementara, terapi farmakologis untuk keluhan sendawa ditentukan berdasarkan penyakit yang mendasarinya. Pada pasien dengan GERD, terapi dengan obat supresi asam lambung dapat digunakan. Selain itu, terapi dengan obat baclofen pada suatu penelitian dapat memperbaiki gejala pasien dengan supragastric belching.

Sendawa memang hal yang wajar, menjadi tidak wajar apabila terjadi berlebihan dan berulang. Apabila sendawa berlebihan terjadi secara terus menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, dan mempengaruhi kualitas hidup Anda, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi.  

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Kamis, 02 Agu 2018

ASI, Makanan Ajaib Si Kecil

Read More
Health Articles Senin, 27 Mar 2017

Jaga Postur Saat Hamil

Read More
Health Articles Jumat, 28 Jun 2019

Usia Optimal untuk Khitan Anak

Read More
Health Articles Senin, 25 Peb 2019

Awet Muda dengan Metode Laser

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor