Close
Close Language Selection
Health Articles

Mulut Terasa Kering dan Panas, Mungkinkah Burning Mouth Syndrome?

Selasa, 26 Okt 2021
Mulut Terasa Kering dan Panas, Mungkinkah Burning Mouth Syndrome?

Seiring bertambahnya usia, burning mouth syndrome semakin sering dialami terutama oleh wanita yang kerap dikaitkan dengan faktor psikologi. Sebetulnya apa itu burning mouth syndrome? Mari kita ketahui lebih lanjut pada artikel ini. 

Burning mouth syndrome (BMS) adalah kondisi kronis dengan keluhan sensasi terbakar pada lapisan rongga mulut (mukosa). Keluhan ini paling umum terjadi pada ujung bagian depan lidah, lalu pada bibir bagian dalam (mukosa bibir), dan terkadang pada langit-langit mulut. Rasa nyeri terbakar ini juga sering muncul bersamaan dengan keluhan kesemutan atau mati rasa, dan sensasi mulut kering. Pada dua per tiga orang yang mengalami BMS, mereka juga mengalami adanya penurunan kemampuan pengecap dan adanya rasa pahit atau rasa seperti logam. Meskipun terdapat keluhan-keluhan ini, kondisi mukosa rongga mulut dan jumlah air liurnya normal. Pada orang dengan BMS, kondisi rongga mulut tampak normal sehingga tidak ditemukan adanya masalah yang jelas pada rongga mulut.

Sensasi terbakar pada BMS dapat bervariasi sedang sampai berat. Banyak pasien mendeskripsikan sensasi terbakar ini seperti nyeri atau “ledes” setelah mengonsumsi makanan atau minuman panas. Rasa nyeri terbakar terjadi secara simetris dan bilateral di rongga mulut dan terasa setiap hari hampir sepanjang hari. Biasanya rasa nyeri terasa paling ringan atau tidak ada sama sekali pada pagi hari dan saat makan, juga jarang mengganggu waktu tidur.

BMS dapat terjadi bersamaan dengan sensasi terbakar yang dapat disebabkan oleh kondisi lokal atau sistemik tertentu. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter gigi untuk menentukan, apakah hal tersebut adalah BMS yang sesungguhnya, atau sensasi terbakar pada rongga mulut yang disebabkan oleh kondisi atau penyakit lainnya. 

Siapa saja yang dapat mengalaminya?
BMS dapat terjadi baik pada pria maupun wanita, dan kemungkinannya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Meskipun demikian, wanita tujuh kali lipat lebih banyak mengalami BMS dibandingkan pria. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor biologis, sosial, budaya, dan psikologis yang melekat pada wanita.

Menurut penelitian, kelompok wanita berusia 60-69 tahun adalah yang paling sering mengalami BMS yaitu mereka sedang memasuki masa postmenopausal. Sementara 10-40 persen lainnya adalah kelompok wanita yang memiliki gejala menopause. BMS sering dikaitkan dengan adanya kejadian yang membuat stres, cemas, atau depresi karena kondisi ini dapat mengubah persepsi rasa nyeri. 

Diagnosis BMS dan penanganannya
Diagnosis BMS hanya dapat ditegakkan jika setelah pemeriksaan ditemukan bahwa kondisi mukosa rongga mulut normal tanpa kelainan, dan semua faktor lokal maupun sistemik yang dapat menyebabkan sensasi mulut terbakar sudah dihilangkan atau tereksklusi. Misalnya, adanya variasi normal rongga mulut, penyakit rongga mulut karena infeksi atau peradangan, kebiasaan parafungsional, faktor trauma, kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan mulut kering, penyakit sistemik seperti diabetes, kekurangan nutrisi serta obat-obatannya, dan kerusakan saraf. 

Biasanya, pasien dengan keluhan BMS akan diperiksa oleh dokter gigi spesialis penyakit mulut. Pemeriksaan ini mencakup tanya-jawab detail terkait keluhan BMS dan riwayat kesehatan pasien, kemudian pemeriksaan menyeluruh pada rongga mulut pasien termasuk jumlah dan kualitas air liur. Selanjutnya, pasien juga akan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan laboratorium tertentu untuk mengumpulkan informasi terkait kondisi sistemik pasien seperti pemeriksaan kadar gula darah dan faktor nutrisi. Pasien yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis lainnya juga akan diberi rujukan untuk berkonsultasi dan menerima tata laksana yang diperlukan. 

Penegakkan diagnosis BMS tidak mudah dan tidak bisa ditetapkan secara langsung. Dibutuhkan pemeriksaan yang komprehensif dan teliti untuk memastikan tidak adanya faktor lain yang dapat menyebabkan sensasi mulut terbakar tersebut. Dapat dikatakan, BMS adalah diagnosis yang ditegakkan setelah mengeliminasi semua kemungkinan yang mungkin terjadi atau dialami oleh pasien (diagnosis by exclusion).

Cara mencegah BMS
Tidak ada cara untuk menghindari BMS, karena penyebab pasti kondisi ini belum diketahui secara pasti. BMS muncul secara tiba-tiba dan dapat berlanjut selama bertahun-tahun. Menurut penelitian, hanya sebanyak 3 persen kasus BMS yang mengalami kesembuhan setelah observasi selama 5 tahun dan bahkan dengan perawatan. Meskipun demikian, dokter gigi spesialis penyakit mulut dapat membantu memberikan tata laksana untuk membantu meringankan keluhan yang dirasakan oleh pasien dengan BMS. 

Tata laksana BMS dapat dilakukan dengan pengobatan, tata laksana psikologis, dan/atau kombinasi dari keduanya. Karena BMS dapat berhubungan dengan kondisi psikologis pasien, terkadang pengobatan saja tidak cukup untuk menanganinya. Sayangnya, banyak pasien menolak untuk melakukan konseling psikologis terkait keluhan BMS karena menganggap bahwa keluhan terbakar pada rongga mulut ini tidak terkait dengan kondisi psikologis mereka.

Burning mouth syndrome memang tidak mengenakkan dan tidak mudah untuk didiagnosis. Pasien terkadang bingung ketika mengalami mulut panas dan kering tetapi tidak ditemukan kelainan apapun pada rongga mulutnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran dari pasien dan dokter untuk bersama-sama menjalani proses pemeriksaan sampai sindrom ini dapat didiagnosis dengan tepat. 

drg. Masita Mandasari. Ph.D. Sp.PM

Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut
RS Pondok Indah - Puri Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor