Close
Close Language Selection
Health Articles

Mioma Uteri dan Penanganannya

Jumat, 21 Mei 2021
Mioma Uteri dan Penanganannya

Meski tergolong sebagai tumor jinak, bukan berarti penanganan pada mioma uteri dapat dianggap sepele. Penanganan yang terlambat atau kurang tepat dapat mengganggu kualitas hidup. 

Mioma uteri adalah salah satu kondisi kesehatan yang cukup umum dialami oleh para wanita. Angka kejadiannya mencapai 70 hingga 80 persen pada wanita berusia 50 tahun. Usia puncak terjadinya adalah pada wanita berusia 40-an. Tumor jinak ginekologi ini terbentuk oleh otot polos dari rahim (uterus) dan berbagai jaringan ikat. Kemunculannya kerap terjadi tanpa disertai keluhan. Tak jarang seorang wanita mengetahui ada mioma uteri di tubuhnya secara tidak sengaja, misalnya ketika melakukan pemeriksaan rutin ginekologi atau ultrasonografi (USG). Hal ini biasanya terjadi pada kasus mioma uteri yang berukuran kecil. 

Ketika ukuran mioma bertambah besar, sangat mungkin terjadi beberapa gejala yang dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Gejala yang paling umum adalah keluarnya darah dari vagina dalam jumlah yang sangat banyak, lama, serta sering (perdarahan pervaginam). Jika terjadi dalam jangan waktu yang lama, kondisi ini dapat menyebabkan anemia atau defisiensi besi yang terkadang membuat pasien membutuhkan transfusi darah. Selain itu, ada pula beberapa gejala lain yang kerap muncul. Misalnya rasa begah dan sakit, atau terasa adanya tekanan pada perut, karena pembesaran tumor. Ukuran mioma yang membesar akan menekan organ sekitar, seperti kandung kemih dan usus besar. Ketika ini terjadi, dapat mengakibatkan gangguan berkemih ataupun sulit buang air besar. Mioma juga dapat menimbulkan masalah infertilitas atau kesulitan mendapatkan keturunan. 

Penyebab mioma uteri
Hormon progesteron menjadi penyebab utama terjadinya mioma urteri. Ketika kadar hormon progesteron di dalam tubuh berlebih, mioma akan terbentuk. Selain itu, ada juga faktor risiko lain yang dapat mempercepat pertumbuhan mioma, seperti: 

  • faktor genetik,
  • indeks massa tubuh (BMI) yang melebihi normal,
  • usia menstruasi pertama (menarche) yang terlampau dini, 
  • belum memiliki anak pada usia produktif,
  • berusia lebih dari 40 tahun,
  • pemakaian terapi hormon saat menopause,
  • ras (terutama pada ras Afrika), dan
  • konsumsi alkohol. 

Dari daftar faktor risiko yang dapat mempercepat pertumbuhan mioma, terlihat jelas bahwa faktor lingkungan dan budaya sangat mempengaruhi timbulnya penyakit ini. Ketika tumbuh, mioma dapat timbul hanya satu atau banyak (multiple). Ukuran dan letaknya pun bervariasi. Berdasarkan letak kemunculannya, mioma dikelompokkan sebagai berikut: 

  • submukoum (tumbuh di dalam dekat dinding rahim);
  • subserosum (menonjol keluar dari rahim); dan 
  • intra mural (berada di tengah). 

Penanganan tepat
Ketika masih berukuran kecil, mioma uteri biasanya tidak membutuhkan penanganan khusus karena keberadaannya tidak berbahaya. Tapi ketika ukurannya membesar, apalagi disertai timbulnya gejala yang menurunkan kualitas hidup penderitanya, penanganan harus segera dilakukan. Komplikasi akibat mioma uteri memang jarang terjadi, tapi bukan berarti bisa disepelekan. Ketika terjadi komplikasi akibat mioma, sifatnya sangat serius. Perawatan khusus terhadap mioma urteri biasanya dilakukan ketika terjadi permasalahan berikut: 

  • anemia akibat pendarahan hebat;
  • nyeri punggung bawah atau perasaan seperti tertekan di perut bawah;
  • sulit memiliki keturunan;
  • terjadi keguguran atau persalinan prematur;
  • masalah dengan usus atau saluran kemih; dan
  • infeksi (terjadi akibat matinya jaringan mioma yang besar). 

Tindakan penanganan yang dilakukan untuk mioma uteri bisa berupa terapi pengobatan, operasi, atau kombinasi keduanya. Operasi penanganan mioma dapat dilakukan dengan cara histeroskopi, laparoskopi, atau laparotomi (tergantung letak dan ukuran mioma). Selain itu, jenis operasi yang dilakukan pun bisa berbeda, misalnya: 

  • Miomektomi, hanya untuk mengangkat mioma. Biasanya dilakukan pada wanita yang masih menginginkan anak
  • Histerektomi, yakni pengangkatan rahim. Biasanya dilakukan pada wanita yang sudah tidak lagi menginginkan anak atau sudah menopause

Selain itu, mioma juga dapat ditangani dengan cara membuntu arteri atau pembuluh darah pada rahim (embolisasi). Cara ini dilakukan ketika operasi dinilai sangat berisiko pada pasien. Melalui cara ini, diharapkan mioma dapat mengecil karena tidak mendapat pasokan makanan.

Tidak dapat dicegah
Meski sudah diketahui penyebab utama serta faktor risiko pendukung, tidak berarti kemunculan mioma uteri dapat dicegah. Walau demikian, bukan berarti bisa bersikap cuek. Usaha preventif tetap diperlukan untuk mengurangi atau memperkecil risiko munculnya mioma. Misalnya saja dengan beberapa cara berikut: 

  • menjalani gaya hidup sehat; 
  • mempertahankan berat badan normal; dan
  • menjaga asupan nutrisi harian dengan mengonsumsi makanan sehat. 

Di kalangan masyarakat umum, tidak jarang yang berpikir bahwa mioma dapat ditangani dengan jamu atau pengobatan herbal lainnya. Perlu diingat, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa jamu atau pengobatan herbal tertentu dapat menangani mioma. Ketika mengalami gejala tertentu yang mengindikasikan adanya mioma, sebaiknya Anda segera berkonsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan onkologi ginekologi. 

Mioma dan kehamilan
Mioma uteri juga dapat ditemukan pada wanita hamil. Pada kasus seperti ini, umumnya mioma sudah terjadi sebelum proses kehamilan. Hanya saja, ukurannya kecil sehingga tidak terdeteksi dan tidak bergejala. Meski pada masa awal tidak menimbulkan gejala, mioma pada wanita hamil dapat menyebabkan gejala yang beragam. Gejala yang timbul tergantung pada ukuran, jumlah, dan letak mioma. Umumnya gejala yang timbul berupa sakit perut, tekanan atau nyeri di rongga panggul, sering buang air kecil, sembelit, serta perdarahan hebat. Kejadian yang hanya dialami oleh sebagian kecil wanita ini bisa menyebakan komplikasi kehamilan (nyeri perut hingga pendarahan pada vagina). Meski begitu, mioma pada kehamilan jarang mempengaruhi kondisi janin—kecuali jika kasus mioma yang sudah berat. 

Yang terpenting, selalu konsultasikan kondisi pada dokter spesialis kebidanan dan kandungan agar mendapat pilihan pengobatan dan metode penanganan yang tepat untuk kesehatan kehamilan. Dan juga, jangan sembarang mengonsumsi obat untuk mengatasi keluhan yang terjadi, apalagi tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu. 

dr. Kartika Hapsari, Sp.OG, FNVOG

Spesialis Kebidanan & Kandungan
RS Pondok Indah - Puri Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Jumat, 21 Mei 2021

Wanita Lebih Rentan terhadap Batu Empedu

Read More
Health Articles Jumat, 23 Mar 2018

Yang Perlu Anda Ketahui tentang Katarak

Read More
Health Articles Rabu, 18 Peb 2015

Deteksi Dini Gangguan Konsentrasi pada Anak

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor